<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Beras Mahal, Mendag: Pedagang Malas Jual dari Bulog</title><description>Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan buka suara soal mahalnya harga beras.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/14/320/2970198/harga-beras-mahal-mendag-pedagang-malas-jual-dari-bulog</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/02/14/320/2970198/harga-beras-mahal-mendag-pedagang-malas-jual-dari-bulog"/><item><title>Harga Beras Mahal, Mendag: Pedagang Malas Jual dari Bulog</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/14/320/2970198/harga-beras-mahal-mendag-pedagang-malas-jual-dari-bulog</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/02/14/320/2970198/harga-beras-mahal-mendag-pedagang-malas-jual-dari-bulog</guid><pubDate>Rabu 14 Februari 2024 15:19 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/14/320/2970198/harga-beras-mahal-mendag-pedagang-malas-jual-dari-bulog-28cZewQ8nB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penyebab harga beras mahal (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/14/320/2970198/harga-beras-mahal-mendag-pedagang-malas-jual-dari-bulog-28cZewQ8nB.jpg</image><title>Penyebab harga beras mahal (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8xMi80LzE3NzE4OC81L3g4c2t4emM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan buka suara soal mahalnya harga beras. Dia mengakui banyak pedagang beras eceran yang tak mau menjual beras dari Perum Bulog.
Hal ini dinilai menjadi faktor yang menyebabkan harga beras melambung dan mengalami kelangkaan. Zulhas, sapaan akrabnya, mengatakan fenomena ini terjadi karena harga beli yang terlalu mahal, sehingga keuntungan bagi penjual ritel terlalu sedikit. Diketahui, Perum Bulog telah mengizinkan para pedagang eceran untuk membeli beras SPHP yang merupakan program Stabilitas Pasokan Harga Pangan.

BACA JUGA:
Beras Langka di Ritel Modern karena Bansos? Begini Respons Menko Airlangga


&amp;ldquo;Pasar agak malas jual beras Bulog yang berasnya bagus, tapi harganya (keuntungan) murah. Untungnya cuma Rp200, maka subsidinya sekarang dinaikkan jadi Rp500, dipacking 5 kilo,&amp;rdquo; kata Zulkifli saat ditemui di TPS 179, Kelurahan Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (14/2/2024).
Selama ini masyarakat, terangnya, membeli beras SPHP seharga Rp10.900 per kilogram, sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET). Harga beli tersebut dinilai memberikan keuntungan yang tipis, sehingga membuat peritel mengambil dari pihak lain.

BACA JUGA:
Heboh Beras Langka! Akhirnya Jokowi Buka Suara, Ungkap Biang Keroknya


Beras SPHP merupakan cadangan beras pemerintah (CBP) yang disalurkan melalui skema subsidi dengan mengacu HET. Pasokan ini salah satunya berasal dari impor yang dicanangkan pemerintah guna memenuhi stok.
&amp;ldquo;Nah untuk mengatasi harga mahal itu, pemerintah melalui bulog supply  ke pasar-pasar sekarang 100.000 ton sampai 200.000 ton, sekarang  ditingkatkan menjadi 250.000 ton per bulan,&amp;rdquo; terangnya.
Adapun Zulhas juga menyinggung faktor panen yang lambat sehingga mengganggu persediaan.
&amp;ldquo;Kelangkaan memang karena panen lambat, tapi kan kita sudah isi dengan impor,&amp;rdquo; tandasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8xMi80LzE3NzE4OC81L3g4c2t4emM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan buka suara soal mahalnya harga beras. Dia mengakui banyak pedagang beras eceran yang tak mau menjual beras dari Perum Bulog.
Hal ini dinilai menjadi faktor yang menyebabkan harga beras melambung dan mengalami kelangkaan. Zulhas, sapaan akrabnya, mengatakan fenomena ini terjadi karena harga beli yang terlalu mahal, sehingga keuntungan bagi penjual ritel terlalu sedikit. Diketahui, Perum Bulog telah mengizinkan para pedagang eceran untuk membeli beras SPHP yang merupakan program Stabilitas Pasokan Harga Pangan.

BACA JUGA:
Beras Langka di Ritel Modern karena Bansos? Begini Respons Menko Airlangga


&amp;ldquo;Pasar agak malas jual beras Bulog yang berasnya bagus, tapi harganya (keuntungan) murah. Untungnya cuma Rp200, maka subsidinya sekarang dinaikkan jadi Rp500, dipacking 5 kilo,&amp;rdquo; kata Zulkifli saat ditemui di TPS 179, Kelurahan Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (14/2/2024).
Selama ini masyarakat, terangnya, membeli beras SPHP seharga Rp10.900 per kilogram, sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET). Harga beli tersebut dinilai memberikan keuntungan yang tipis, sehingga membuat peritel mengambil dari pihak lain.

BACA JUGA:
Heboh Beras Langka! Akhirnya Jokowi Buka Suara, Ungkap Biang Keroknya


Beras SPHP merupakan cadangan beras pemerintah (CBP) yang disalurkan melalui skema subsidi dengan mengacu HET. Pasokan ini salah satunya berasal dari impor yang dicanangkan pemerintah guna memenuhi stok.
&amp;ldquo;Nah untuk mengatasi harga mahal itu, pemerintah melalui bulog supply  ke pasar-pasar sekarang 100.000 ton sampai 200.000 ton, sekarang  ditingkatkan menjadi 250.000 ton per bulan,&amp;rdquo; terangnya.
Adapun Zulhas juga menyinggung faktor panen yang lambat sehingga mengganggu persediaan.
&amp;ldquo;Kelangkaan memang karena panen lambat, tapi kan kita sudah isi dengan impor,&amp;rdquo; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
