<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Alasan Sri Mulyani 3 Kali Blokir Anggaran Kementerian Rp50 Triliun</title><description>Alasan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tiga kali memblokir sebagian kecil anggaran kementerian atau lembaga (K/L).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/14/320/2970353/alasan-sri-mulyani-3-kali-blokir-anggaran-kementerian-rp50-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/02/14/320/2970353/alasan-sri-mulyani-3-kali-blokir-anggaran-kementerian-rp50-triliun"/><item><title>Alasan Sri Mulyani 3 Kali Blokir Anggaran Kementerian Rp50 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/14/320/2970353/alasan-sri-mulyani-3-kali-blokir-anggaran-kementerian-rp50-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/02/14/320/2970353/alasan-sri-mulyani-3-kali-blokir-anggaran-kementerian-rp50-triliun</guid><pubDate>Rabu 14 Februari 2024 19:28 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/14/320/2970353/alasan-sri-mulyani-3-kali-blokir-anggaran-kementerian-rp50-triliun-h4UyA1G2rm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Alasan Sri Mulyani tiga kali blokir anggaran (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/14/320/2970353/alasan-sri-mulyani-3-kali-blokir-anggaran-kementerian-rp50-triliun-h4UyA1G2rm.jpg</image><title>Alasan Sri Mulyani tiga kali blokir anggaran (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8xMC8xLzE3NzExOS81L3g4c2d4bGk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Alasan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tiga kali memblokir sebagian kecil anggaran kementerian atau lembaga (K/L). Anggaran yang diblokir atau terkena kebijakan automatic adjustment senilai Rp50,14 triliun. Pada 2022, nilainya sebesar Rp39,71 triliun, dan pada 2023 menjadi Rp50,23 triliun.
&quot;Itu dilakukan sebagai antisipasi. Selama ini kan kita lakukan juga selama tahun 2022-2023, dan sekarang 2024,&quot; ujar Menkeu ketika ditemui usai menggunakan hak suaranya di TPS 73, Tangerang Selatan, Rabu (14/2/2024).

BACA JUGA:
Momen Kocak Pak Bas Sebelum Nyoblos, Telepon Sri Mulyani soal Warna Baju


Dikatakan Sri Mulyani, kebijakan automatic adjustment sebetulnya hanya merupakan mekanisme anggaran yang diterapkan sesuai pola serapan anggaran di K/L. Besarannya hanya 5% dari total anggaran K/L.
Sebab, blokir anggaran sebesar 5% itu menurutnya didasari atas tren belanja kementerian atau lembaga yang tiap tahunnya hanya terserap 95%. Maka, anggaran yang tidak terserap dicadangkan bila terjadi permasalahan, seperti saat masa Pandemi Covid-19.

BACA JUGA:
Harapan Sri Mulyani ke Presiden Terpilih: Jaga Kepercayaan Rakyat dan Ekonomi Indonesia


Menkeu juga mengatakan, sebetulnya, anggaran 5% itu kalau dilihat dari track record juga hampir dilakukan semua kementerian. Sehingga kira-kira ada di daerah atau bagian yang dianggap tidak akan mengganggu prioritas dari K/L itu. Itu yang kita lakukan.
&quot;Jadi ini mekanisme yang sudah berjalan selama empat tahun, semenjak  pandemi tapi kemudian ini dianggap sebagai mekanisme untuk mempertajam  dari keseluruhan pengelolaan anggaran kementerian/lembaga,&quot; ungkapnya.
Sri Mulyani pun menekankan, sejatinya qutomatic adjustment bisa  dimanfaatkan untuk kepentingan mendesak sesuai prioritas pemerintah.  Misalnya, saat terjadi banyaknya jalan rusak di daerah, anggaran  cadangan K/L bisa digunakan.
&quot;Waktu tahun lalu juga dilakukan prioritas baru seperti Inpres untuk  jalan karena jalan-jalan rusak. Sehingga kalau memang dianggap ada suatu  prioritas baru, kita minta seluruh K/L untuk mencadangkan 5%,&quot;  tuturnya.
Meski begitu, Sri Mulyani belum mau menjelaskan, anggaran hasil  blokir pada tahun ini akan digunakan untuk memenuhi kebijakan apa saja.  Ia hanya menekankan pencairannya akan disesuaikan kebutuhan prioritas  pemerintah.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8xMC8xLzE3NzExOS81L3g4c2d4bGk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Alasan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tiga kali memblokir sebagian kecil anggaran kementerian atau lembaga (K/L). Anggaran yang diblokir atau terkena kebijakan automatic adjustment senilai Rp50,14 triliun. Pada 2022, nilainya sebesar Rp39,71 triliun, dan pada 2023 menjadi Rp50,23 triliun.
&quot;Itu dilakukan sebagai antisipasi. Selama ini kan kita lakukan juga selama tahun 2022-2023, dan sekarang 2024,&quot; ujar Menkeu ketika ditemui usai menggunakan hak suaranya di TPS 73, Tangerang Selatan, Rabu (14/2/2024).

BACA JUGA:
Momen Kocak Pak Bas Sebelum Nyoblos, Telepon Sri Mulyani soal Warna Baju


Dikatakan Sri Mulyani, kebijakan automatic adjustment sebetulnya hanya merupakan mekanisme anggaran yang diterapkan sesuai pola serapan anggaran di K/L. Besarannya hanya 5% dari total anggaran K/L.
Sebab, blokir anggaran sebesar 5% itu menurutnya didasari atas tren belanja kementerian atau lembaga yang tiap tahunnya hanya terserap 95%. Maka, anggaran yang tidak terserap dicadangkan bila terjadi permasalahan, seperti saat masa Pandemi Covid-19.

BACA JUGA:
Harapan Sri Mulyani ke Presiden Terpilih: Jaga Kepercayaan Rakyat dan Ekonomi Indonesia


Menkeu juga mengatakan, sebetulnya, anggaran 5% itu kalau dilihat dari track record juga hampir dilakukan semua kementerian. Sehingga kira-kira ada di daerah atau bagian yang dianggap tidak akan mengganggu prioritas dari K/L itu. Itu yang kita lakukan.
&quot;Jadi ini mekanisme yang sudah berjalan selama empat tahun, semenjak  pandemi tapi kemudian ini dianggap sebagai mekanisme untuk mempertajam  dari keseluruhan pengelolaan anggaran kementerian/lembaga,&quot; ungkapnya.
Sri Mulyani pun menekankan, sejatinya qutomatic adjustment bisa  dimanfaatkan untuk kepentingan mendesak sesuai prioritas pemerintah.  Misalnya, saat terjadi banyaknya jalan rusak di daerah, anggaran  cadangan K/L bisa digunakan.
&quot;Waktu tahun lalu juga dilakukan prioritas baru seperti Inpres untuk  jalan karena jalan-jalan rusak. Sehingga kalau memang dianggap ada suatu  prioritas baru, kita minta seluruh K/L untuk mencadangkan 5%,&quot;  tuturnya.
Meski begitu, Sri Mulyani belum mau menjelaskan, anggaran hasil  blokir pada tahun ini akan digunakan untuk memenuhi kebijakan apa saja.  Ia hanya menekankan pencairannya akan disesuaikan kebutuhan prioritas  pemerintah.</content:encoded></item></channel></rss>
