<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>8 Fakta Utang Luar Negeri Indonesia Naik Tembus Rp6.350 Triliun</title><description>Utang luar negeri (ULN) mengalami kenaikan pada triwulan IV 2023 berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/18/320/2971338/8-fakta-utang-luar-negeri-indonesia-naik-tembus-rp6-350-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/02/18/320/2971338/8-fakta-utang-luar-negeri-indonesia-naik-tembus-rp6-350-triliun"/><item><title>8 Fakta Utang Luar Negeri Indonesia Naik Tembus Rp6.350 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/18/320/2971338/8-fakta-utang-luar-negeri-indonesia-naik-tembus-rp6-350-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/02/18/320/2971338/8-fakta-utang-luar-negeri-indonesia-naik-tembus-rp6-350-triliun</guid><pubDate>Minggu 18 Februari 2024 06:02 WIB</pubDate><dc:creator>Meliana Tesa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/16/320/2971338/8-fakta-utang-luar-negeri-indonesia-naik-tembus-rp6-350-triliun-kFZQVOyZ7u.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Utang luar negeri naik lagi (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/16/320/2971338/8-fakta-utang-luar-negeri-indonesia-naik-tembus-rp6-350-triliun-kFZQVOyZ7u.jpg</image><title>Utang luar negeri naik lagi (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8wNy8xLzE3NTg5Ni81L3g4cjh0eXU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Utang luar negeri (ULN) mengalami kenaikan pada triwulan IV 2023 berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI).
Posisi ULN Indonesia pada akhir triwulan IV 2023 diketahui tercatat sebesar USD407,1 miliar setara Rp6.350 triliun atau tumbuh 2,7% (yoy). Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan posisi triwulan sebelumnya yang tumbuh 0,02% (yoy).
Data lengkap mengenai ULN Indonesia terkini dan metadata dapat dilihat pada publikasi Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi Februari 2024 pada situs web Bank Indonesia.

BACA JUGA:
Ini Penyebab Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Jadi Rp6.350 Triliun


Pemerintah berkomitmen tetap menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara hati-hati, efisien, dan akuntabel.
Berikut ini Okezone telah merangkum fakta-fakta mengenai utang luar negeri, ditulis pada Minggu (18/2/2024).
1.	Faktor Peningkatan ULN
Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono mengatakan peningkatan tersebut terutama bersumber dari transaksi ULN sektor publik dan dipengaruhi oleh faktor pelemahan mata uang dolar AS terhadap mayoritas mata uang global termasuk Rupiah.

BACA JUGA:
Utang Luar Negeri Indonesia Naik Lagi, Kini Tembus Rp6.350 Triliun Akhir 2023


2.	ULN Pemerintah Tembus Rp3.053 triliun
Bank Indonesia telah melaporkan ULN tetap terkendali serta dikelola secara terukur dan akuntabel. Posisi ULN pemerintah pada akhir triwulan IV 2023 sebesar USD196,6 miliar setara dengan Rp3.053 triliun atau tumbuh 5,4% (yoy), meningkat dari pertumbuhan 3,3% (yoy) pada triwulan sebelumnya.
3.	Penyebab Kenaikan ULN Pemerintah
Kenaikan ULN pemerintah juga dipengaruhi oleh peningkatan penempatan investasi portofolio di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan internasional, seiring sentimen positif kepercayaan pelaku pasar sejalan dengan mulai meredanya ketidakpastian pasar keuangan global.
4.	Pemanfaatan ULN
Sebagai salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan APBN dan dalam  rangka melanjutkan momentum pertumbuhan ekonomi, pemanfaatan ULN terus  diarahkan untuk fokus mendukung upaya Pemerintah dalam pembiayaan sektor  produktif serta belanja prioritas.
Dukungan pembiayaan tersebut mencakup antara lain pada sektor Jasa  Kesehatan dan Kegiatan Sosial (23,7% dari total ULN pemerintah),  Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (18,9%),  Jasa Pendidikan (16,6%), Konstruksi (14,1%), serta Jasa Keuangan dan  Asuransi (9,7%).
5.	Posisi ULN Pemerintah dan Swasta
Erwin mengungkapkan posisi ULN pemerintah relatif aman dan terkendali  mengingat hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan  pangsa mencapai 99,8% dari total ULN pemerintah.
Sementara itu, ULN swasta tetap terkendali serta melanjutkan  kontraksi pertumbuhan. Posisi ULN swasta pada akhir triwulan IV 2023  tercatat sebesar 197,0 miliar dolar AS, atau mengalami kontraksi  pertumbuhan sebesar 1,9% (yoy), melanjutkan kontraksi pada triwulan III  2023 sebesar 3,5% (yoy).
6.	Kontraksi Pertumbuhan ULN
Kontraksi pertumbuhan ULN tersebut bersumber dari lembaga keuangan  (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan  (nonfinancial corporations) yang masing-masing mengalami kontraksi  sebesar 2,4% (yoy) dan 1,8% (yoy).
7.	Penerapan Prinsip Kehati-hatian
Struktur ULN Indonesia tetap sehat, karena didukung oleh penerapan  prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tercermin dari rasio  ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,7%, serta  didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 86,6% dari  total ULN.
8.	Pengoptimalan Peran ULN
Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan  pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang  berkelanjutan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat mempengaruhi  stabilitas perekonomian.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8wNy8xLzE3NTg5Ni81L3g4cjh0eXU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Utang luar negeri (ULN) mengalami kenaikan pada triwulan IV 2023 berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI).
Posisi ULN Indonesia pada akhir triwulan IV 2023 diketahui tercatat sebesar USD407,1 miliar setara Rp6.350 triliun atau tumbuh 2,7% (yoy). Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan posisi triwulan sebelumnya yang tumbuh 0,02% (yoy).
Data lengkap mengenai ULN Indonesia terkini dan metadata dapat dilihat pada publikasi Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi Februari 2024 pada situs web Bank Indonesia.

BACA JUGA:
Ini Penyebab Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Jadi Rp6.350 Triliun


Pemerintah berkomitmen tetap menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara hati-hati, efisien, dan akuntabel.
Berikut ini Okezone telah merangkum fakta-fakta mengenai utang luar negeri, ditulis pada Minggu (18/2/2024).
1.	Faktor Peningkatan ULN
Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono mengatakan peningkatan tersebut terutama bersumber dari transaksi ULN sektor publik dan dipengaruhi oleh faktor pelemahan mata uang dolar AS terhadap mayoritas mata uang global termasuk Rupiah.

BACA JUGA:
Utang Luar Negeri Indonesia Naik Lagi, Kini Tembus Rp6.350 Triliun Akhir 2023


2.	ULN Pemerintah Tembus Rp3.053 triliun
Bank Indonesia telah melaporkan ULN tetap terkendali serta dikelola secara terukur dan akuntabel. Posisi ULN pemerintah pada akhir triwulan IV 2023 sebesar USD196,6 miliar setara dengan Rp3.053 triliun atau tumbuh 5,4% (yoy), meningkat dari pertumbuhan 3,3% (yoy) pada triwulan sebelumnya.
3.	Penyebab Kenaikan ULN Pemerintah
Kenaikan ULN pemerintah juga dipengaruhi oleh peningkatan penempatan investasi portofolio di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan internasional, seiring sentimen positif kepercayaan pelaku pasar sejalan dengan mulai meredanya ketidakpastian pasar keuangan global.
4.	Pemanfaatan ULN
Sebagai salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan APBN dan dalam  rangka melanjutkan momentum pertumbuhan ekonomi, pemanfaatan ULN terus  diarahkan untuk fokus mendukung upaya Pemerintah dalam pembiayaan sektor  produktif serta belanja prioritas.
Dukungan pembiayaan tersebut mencakup antara lain pada sektor Jasa  Kesehatan dan Kegiatan Sosial (23,7% dari total ULN pemerintah),  Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (18,9%),  Jasa Pendidikan (16,6%), Konstruksi (14,1%), serta Jasa Keuangan dan  Asuransi (9,7%).
5.	Posisi ULN Pemerintah dan Swasta
Erwin mengungkapkan posisi ULN pemerintah relatif aman dan terkendali  mengingat hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan  pangsa mencapai 99,8% dari total ULN pemerintah.
Sementara itu, ULN swasta tetap terkendali serta melanjutkan  kontraksi pertumbuhan. Posisi ULN swasta pada akhir triwulan IV 2023  tercatat sebesar 197,0 miliar dolar AS, atau mengalami kontraksi  pertumbuhan sebesar 1,9% (yoy), melanjutkan kontraksi pada triwulan III  2023 sebesar 3,5% (yoy).
6.	Kontraksi Pertumbuhan ULN
Kontraksi pertumbuhan ULN tersebut bersumber dari lembaga keuangan  (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan  (nonfinancial corporations) yang masing-masing mengalami kontraksi  sebesar 2,4% (yoy) dan 1,8% (yoy).
7.	Penerapan Prinsip Kehati-hatian
Struktur ULN Indonesia tetap sehat, karena didukung oleh penerapan  prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tercermin dari rasio  ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,7%, serta  didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 86,6% dari  total ULN.
8.	Pengoptimalan Peran ULN
Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan  pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang  berkelanjutan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat mempengaruhi  stabilitas perekonomian.</content:encoded></item></channel></rss>
