<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonom Sarankan BI Tahan Suku Bunga Acuan di Level 6%</title><description>Ekonom menyarankan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuannya di level 6%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/21/320/2973229/ekonom-sarankan-bi-tahan-suku-bunga-acuan-di-level-6</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/02/21/320/2973229/ekonom-sarankan-bi-tahan-suku-bunga-acuan-di-level-6"/><item><title>Ekonom Sarankan BI Tahan Suku Bunga Acuan di Level 6%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/21/320/2973229/ekonom-sarankan-bi-tahan-suku-bunga-acuan-di-level-6</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/02/21/320/2973229/ekonom-sarankan-bi-tahan-suku-bunga-acuan-di-level-6</guid><pubDate>Rabu 21 Februari 2024 11:39 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/21/320/2973229/ekonom-sarankan-bi-tahan-suku-bunga-acuan-di-level-6-rhWgaePaQE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonom sarankan BI tahan suku bunga acuan (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/21/320/2973229/ekonom-sarankan-bi-tahan-suku-bunga-acuan-di-level-6-rhWgaePaQE.jpg</image><title>Ekonom sarankan BI tahan suku bunga acuan (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8xOC80LzE1NTEyNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Ekonom menyarankan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuannya di level 6%. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky mengatakan bank sentral perlu menahan suku bunga acuannya kembali di 6,00% pada Februari 2024. Saran ini diberikan atas dasar beberapa bahan pertimbangan.
Pertimbangan pertama, inflasi umum turun menjadi 2,57% (y.o.y) pada bulan Januari 2024 mendekati titik tengah target baru sebesar 2,5%.  Menurunnya dampak fenomena cuaca El-Nino terhadap harga pangan, penyaluran bantuan sosial untuk mengendalikan volatilitas pangan, dan berkurangnya dampak musiman akhir tahun mendorong penurunan inflasi pada bulan pertama tahun 2024.

BACA JUGA:
Ternyata Bank Indonesia Juga Pernah Terbitkan Uang Koin Nominal Rp850.000


&quot;Neraca perdagangan masih berada pada teritori positif meski menurun sejak April 2022. Mengingat The Fed tidak akan menurunkan suku bunga kebijakannya dalam waktu dekat, kami menilai BI sebaiknya mempertahankan BI Rate di level 6,00% bulan ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar,&quot; ungkap Riefky dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (21/2/2024).
Perlu diketahui bahwa mulai tahun 2024, penghitungan inflasi menggunakan Survei Biaya Hidup (SBH) tahun 2022 sebagai basis baru menggantikan SBH tahun 2018. Pemutakhiran SBH tahun 2018 menjadi 2022 diharapkan dapat menangkap perubahan gaya hidup, khususnya akibat pandemi Covid-19.

BACA JUGA:
Bukan Gambar Kelapa Sawit, Inilah Uang Koin Logam Termahal Bank Indonesia


Jika dirinci, inflasi umum tahunan pada bulan Januari 2024 disebabkan oleh kenaikan harga pada ketiga komponen pembentuk inflasi. Inflasi inti mencatat perlambatan inflasi sebesar 1,68% (y.o.y) pada Januari 2024 dibandingkan 1,80% (y.o.y) pada Desember 2023.
&quot;Dalam beberapa bulan mendatang, tekanan inflasi akan disebabkan oleh peningkatan pengeluaran akibat adanya beberapa libur panjang di bulan Februari 2024 dan harga pangan menjelang musim Ramadhan akibat naiknya permintaan masyarakat,&quot; jelas Riefky.
Selain pangan, kenaikan permintaan diperkirakan akan terjadi pada  kelompok pengeluaran untuk pakaian dan mobilitas masyarakat menjelang  Ramadhan dan Idul Fitri.
Sejalan dengan ekspektasi pasar, perekonomian Indonesia tumbuh  sebesar 5,04% (y.o.y) pada kuartal terakhir tahun 2023, sehingga  perekonomian secara keseluruhan tumbuh sebesar 5,05% (y.o.y) pada tahun  2023.
Pertumbuhan PDB pada tahun 2023 lebih rendah dibandingkan dengan  pertumbuhan 5,31% (y.o.y) pada tahun 2022 karena Indonesia masih  menikmati sedikit efek low-base pada tahun 2022.
Pada awal tahun 2024, Indonesia membukukan neraca perdagangan positif  sebesar USD2,01 miliar pada Januari 2024, terendah dalam enam bulan  terakhir dibandingkan USD3,29 miliar pada bulan sebelumnya.
Ekspor pada Januari 2024 mengalami penurunan sebesar 8,06% (y.o.y)  menjadi USD20,52 miliar, kontraksi yang lebih besar dibandingkan  penurunan sebesar 5,76% (y.o.y) pada bulan sebelumnya.
Penurunan ekspor disebabkan oleh melemahnya permintaan global dan  turunnya harga komoditas global sehingga berdampak pada penurunan ekspor  migas dan nonmigas masing-masing sebesar 6,07% (y.o.y) (atau 5,49%  (m.t.m)) dan 8,20% (y.o.y) (atau 8,54%). (m.t.m)).
&quot;Dilihat dari dinamika terkini, ketahanan perekonomian domestik dan  kemungkinan penurunan suku bunga The Fed yang lebih rendah dalam waktu  dekat, kami memandang BI perlu mempertahankan BI Rate pada level 6,00%  pada rapat dewan gubernur BI bulan ini,&quot; ujarnya.
Hal itu karena inflasi tetap terjaga mendekati target baru sebesar  2,5% dengan tekanan inflasi terdekat kemungkinan berasal dari kenaikan  pengeluaran pada beberapa libur akhir pekan panjang dan harga menjelang  musim Ramadhan.
Meskipun sedikit terdepresiasi selama sebulan terakhir, Rupiah kini  berada pada kisaran Rp15.650 per USD setelah pemilu. Dari sisi  eksternal, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga  kebijakannya dan mengindikasikan penurunan suku bunga kemungkinan akan  ditunda.
Meskipun tidak ada tekanan dari inflasi, menjaga perbedaan imbal  hasil yang memadai antara obligasi Pemerintah Indonesia dan obligasi  Negara AS sangat penting untuk mencegah arus keluar modal dan menjaga  nilai tukar Rupiah tetap terkendali.
&quot;Mempertahankan BI Rate mungkin merupakan sikap paling bijak dalam Rapat Dewan Gubernur mendatang,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8xOC80LzE1NTEyNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Ekonom menyarankan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuannya di level 6%. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky mengatakan bank sentral perlu menahan suku bunga acuannya kembali di 6,00% pada Februari 2024. Saran ini diberikan atas dasar beberapa bahan pertimbangan.
Pertimbangan pertama, inflasi umum turun menjadi 2,57% (y.o.y) pada bulan Januari 2024 mendekati titik tengah target baru sebesar 2,5%.  Menurunnya dampak fenomena cuaca El-Nino terhadap harga pangan, penyaluran bantuan sosial untuk mengendalikan volatilitas pangan, dan berkurangnya dampak musiman akhir tahun mendorong penurunan inflasi pada bulan pertama tahun 2024.

BACA JUGA:
Ternyata Bank Indonesia Juga Pernah Terbitkan Uang Koin Nominal Rp850.000


&quot;Neraca perdagangan masih berada pada teritori positif meski menurun sejak April 2022. Mengingat The Fed tidak akan menurunkan suku bunga kebijakannya dalam waktu dekat, kami menilai BI sebaiknya mempertahankan BI Rate di level 6,00% bulan ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar,&quot; ungkap Riefky dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (21/2/2024).
Perlu diketahui bahwa mulai tahun 2024, penghitungan inflasi menggunakan Survei Biaya Hidup (SBH) tahun 2022 sebagai basis baru menggantikan SBH tahun 2018. Pemutakhiran SBH tahun 2018 menjadi 2022 diharapkan dapat menangkap perubahan gaya hidup, khususnya akibat pandemi Covid-19.

BACA JUGA:
Bukan Gambar Kelapa Sawit, Inilah Uang Koin Logam Termahal Bank Indonesia


Jika dirinci, inflasi umum tahunan pada bulan Januari 2024 disebabkan oleh kenaikan harga pada ketiga komponen pembentuk inflasi. Inflasi inti mencatat perlambatan inflasi sebesar 1,68% (y.o.y) pada Januari 2024 dibandingkan 1,80% (y.o.y) pada Desember 2023.
&quot;Dalam beberapa bulan mendatang, tekanan inflasi akan disebabkan oleh peningkatan pengeluaran akibat adanya beberapa libur panjang di bulan Februari 2024 dan harga pangan menjelang musim Ramadhan akibat naiknya permintaan masyarakat,&quot; jelas Riefky.
Selain pangan, kenaikan permintaan diperkirakan akan terjadi pada  kelompok pengeluaran untuk pakaian dan mobilitas masyarakat menjelang  Ramadhan dan Idul Fitri.
Sejalan dengan ekspektasi pasar, perekonomian Indonesia tumbuh  sebesar 5,04% (y.o.y) pada kuartal terakhir tahun 2023, sehingga  perekonomian secara keseluruhan tumbuh sebesar 5,05% (y.o.y) pada tahun  2023.
Pertumbuhan PDB pada tahun 2023 lebih rendah dibandingkan dengan  pertumbuhan 5,31% (y.o.y) pada tahun 2022 karena Indonesia masih  menikmati sedikit efek low-base pada tahun 2022.
Pada awal tahun 2024, Indonesia membukukan neraca perdagangan positif  sebesar USD2,01 miliar pada Januari 2024, terendah dalam enam bulan  terakhir dibandingkan USD3,29 miliar pada bulan sebelumnya.
Ekspor pada Januari 2024 mengalami penurunan sebesar 8,06% (y.o.y)  menjadi USD20,52 miliar, kontraksi yang lebih besar dibandingkan  penurunan sebesar 5,76% (y.o.y) pada bulan sebelumnya.
Penurunan ekspor disebabkan oleh melemahnya permintaan global dan  turunnya harga komoditas global sehingga berdampak pada penurunan ekspor  migas dan nonmigas masing-masing sebesar 6,07% (y.o.y) (atau 5,49%  (m.t.m)) dan 8,20% (y.o.y) (atau 8,54%). (m.t.m)).
&quot;Dilihat dari dinamika terkini, ketahanan perekonomian domestik dan  kemungkinan penurunan suku bunga The Fed yang lebih rendah dalam waktu  dekat, kami memandang BI perlu mempertahankan BI Rate pada level 6,00%  pada rapat dewan gubernur BI bulan ini,&quot; ujarnya.
Hal itu karena inflasi tetap terjaga mendekati target baru sebesar  2,5% dengan tekanan inflasi terdekat kemungkinan berasal dari kenaikan  pengeluaran pada beberapa libur akhir pekan panjang dan harga menjelang  musim Ramadhan.
Meskipun sedikit terdepresiasi selama sebulan terakhir, Rupiah kini  berada pada kisaran Rp15.650 per USD setelah pemilu. Dari sisi  eksternal, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga  kebijakannya dan mengindikasikan penurunan suku bunga kemungkinan akan  ditunda.
Meskipun tidak ada tekanan dari inflasi, menjaga perbedaan imbal  hasil yang memadai antara obligasi Pemerintah Indonesia dan obligasi  Negara AS sangat penting untuk mencegah arus keluar modal dan menjaga  nilai tukar Rupiah tetap terkendali.
&quot;Mempertahankan BI Rate mungkin merupakan sikap paling bijak dalam Rapat Dewan Gubernur mendatang,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
