<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Banyak Tanah Wakaf di Indonesia Belum Produktif</title><description>Jumlah Tanah Wakaf di Indonesia tersebar di 440,5 ribu titik dengan total luas mencapai 57,2 hektar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/26/470/2975405/banyak-tanah-wakaf-di-indonesia-belum-produktif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/02/26/470/2975405/banyak-tanah-wakaf-di-indonesia-belum-produktif"/><item><title>Banyak Tanah Wakaf di Indonesia Belum Produktif</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/26/470/2975405/banyak-tanah-wakaf-di-indonesia-belum-produktif</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/02/26/470/2975405/banyak-tanah-wakaf-di-indonesia-belum-produktif</guid><pubDate>Senin 26 Februari 2024 09:04 WIB</pubDate><dc:creator>Fadila Nur Hasan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/26/470/2975405/banyak-tanah-wakaf-di-indonesia-belum-produktif-hsa1qBrhrb.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Banyak tanah wakaf belum produktif (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/26/470/2975405/banyak-tanah-wakaf-di-indonesia-belum-produktif-hsa1qBrhrb.jpg</image><title>Banyak tanah wakaf belum produktif (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8yNy8xLzE3NTU0Ny81L3g4cXg2bHI=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Jumlah Tanah Wakaf di Indonesia tersebar di 440,5 ribu titik dengan total luas mencapai 57,2 hektar. Tapi sebagian besar masih belum produktif.
&quot;Namun begitu, tidak mudah memproduktifkan tanah wakaf. Untuk pertanian karena tanahnya terpisah-pisah, hasilnya minim dibanding biaya yang dikeluarkan. Kecuali dijadikan skala besar, 50 sd 100 ha, jadi skala industri pertaniannya, baru ideal, &quot; tegas CEO DeDurian Park Yusron Aminulloh dalam Rakernas dan Workshop Forum Jurnalis Wakaf Indonesia (Forjukafi) yang berlangsung di Hotel A-One, Jakarta, Senin (26/2/2024).

BACA JUGA:
Wamen ATR/BPN: Sertifikasi Tanah Wakaf untuk Menjaga Amanah


Selain Yusron, tampil sebagai narasumber : Ahmad Lutfi, Deputi Ekonomi dan Keuangan Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres), Dokter Moh Badrus SholehDirektur Utama RS Mata Achmad Wardi, Serang, Bu Dwi Irianti, Direktur Pembiayaan Syari&amp;rsquo;ah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko (DJPPR) Kementerian Keuangan RI, Wahyu Muryadi, Ketua Umum Forjukafi, dan Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Imam Teguh Saptono.
Lebih lanjut Yusron yang juga Ketua ISMI Jawa Timur menegaskan, apalagi dipakai properti, berat kalau tetap menggunakan cara berpikir lama, harus memiliki tanahnya, padahal tanah wakaf sudah tidak bisa dipecah jadi perumahan umum.

BACA JUGA:
Perlu Akselerasi, Potensi Wakaf Uang Capai Rp180 Triliun Setiap Tahun


&amp;ldquo;Tapi sebagai alternatif patut kita kaji, meski begitu belajar dari Malaysia dan Singapura, ada inovasi yang harus terus dilakukan,&quot; tambah Yusron yang juga pengurus Forjukafi.
Mengutip analisa Prof Raditya Sukmana, Yusron menceritakan bahwa di Sigapura ada Masjid Benkolin, di mana masjid Kuno itu diubah menjadi Pusat Pertokoan besar dan masjid tetap dilantai satu dan basement atasnya pusat pertokoan.
&quot;Masjid ini kaya, punya penghasilan besar, tidak bingung mencari dana perawatan, bisa gaji marbot bahkan gunakan dananya untuk kebutuhan dakwah. Ini juga berlaku dibanyak negara,&quot; tambah Yusron.
Tanah Wakaf selama ini masih mengacu untuk Masjid, Madrasah dan  Makam, harus diubah mindsetnya. Dapat digunakan Rumah Sakit, Mall,  perumahan, vila dan sejenisnya harus ada aturan khusus, ada regulasi dan  bahkan diskresi.
Pada bagian akhir Workshop dan Raker, Wahyu Muryadi, Ketua Forjukafi menegaskan beberapa hal berkaitan program Forjukafi.
&quot;Kami ingin bergerak masif, menggerakan wakaf produktif. Tugas kami  mensinergikan semua pihak, baik pemerintah, swasta maupun  lembaga-lembaga penggerak wakaf,&quot; tegas Wahyu, mantan Pimred Majalah  Tempo.
Bahkan Wahyu, yang sekarang Komisaris sebuah BUMN dan stafsus Menteri  KKP ini, mempunyai niat luhur untuk membuat kemudahan wartawan  Indonesia agar memiliki rumah.
&quot;Kita sedang mencari rumusan dan langkah sinergitas wakaf produktif  membangun tidak hanya masjid dan madrasah, tapi juga bangun Rumah Sakit,  Perumahan bahkan Mall sebagaimana di Singapura dan Turki,&quot; tambah  Wahyu.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8yNy8xLzE3NTU0Ny81L3g4cXg2bHI=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Jumlah Tanah Wakaf di Indonesia tersebar di 440,5 ribu titik dengan total luas mencapai 57,2 hektar. Tapi sebagian besar masih belum produktif.
&quot;Namun begitu, tidak mudah memproduktifkan tanah wakaf. Untuk pertanian karena tanahnya terpisah-pisah, hasilnya minim dibanding biaya yang dikeluarkan. Kecuali dijadikan skala besar, 50 sd 100 ha, jadi skala industri pertaniannya, baru ideal, &quot; tegas CEO DeDurian Park Yusron Aminulloh dalam Rakernas dan Workshop Forum Jurnalis Wakaf Indonesia (Forjukafi) yang berlangsung di Hotel A-One, Jakarta, Senin (26/2/2024).

BACA JUGA:
Wamen ATR/BPN: Sertifikasi Tanah Wakaf untuk Menjaga Amanah


Selain Yusron, tampil sebagai narasumber : Ahmad Lutfi, Deputi Ekonomi dan Keuangan Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres), Dokter Moh Badrus SholehDirektur Utama RS Mata Achmad Wardi, Serang, Bu Dwi Irianti, Direktur Pembiayaan Syari&amp;rsquo;ah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko (DJPPR) Kementerian Keuangan RI, Wahyu Muryadi, Ketua Umum Forjukafi, dan Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Imam Teguh Saptono.
Lebih lanjut Yusron yang juga Ketua ISMI Jawa Timur menegaskan, apalagi dipakai properti, berat kalau tetap menggunakan cara berpikir lama, harus memiliki tanahnya, padahal tanah wakaf sudah tidak bisa dipecah jadi perumahan umum.

BACA JUGA:
Perlu Akselerasi, Potensi Wakaf Uang Capai Rp180 Triliun Setiap Tahun


&amp;ldquo;Tapi sebagai alternatif patut kita kaji, meski begitu belajar dari Malaysia dan Singapura, ada inovasi yang harus terus dilakukan,&quot; tambah Yusron yang juga pengurus Forjukafi.
Mengutip analisa Prof Raditya Sukmana, Yusron menceritakan bahwa di Sigapura ada Masjid Benkolin, di mana masjid Kuno itu diubah menjadi Pusat Pertokoan besar dan masjid tetap dilantai satu dan basement atasnya pusat pertokoan.
&quot;Masjid ini kaya, punya penghasilan besar, tidak bingung mencari dana perawatan, bisa gaji marbot bahkan gunakan dananya untuk kebutuhan dakwah. Ini juga berlaku dibanyak negara,&quot; tambah Yusron.
Tanah Wakaf selama ini masih mengacu untuk Masjid, Madrasah dan  Makam, harus diubah mindsetnya. Dapat digunakan Rumah Sakit, Mall,  perumahan, vila dan sejenisnya harus ada aturan khusus, ada regulasi dan  bahkan diskresi.
Pada bagian akhir Workshop dan Raker, Wahyu Muryadi, Ketua Forjukafi menegaskan beberapa hal berkaitan program Forjukafi.
&quot;Kami ingin bergerak masif, menggerakan wakaf produktif. Tugas kami  mensinergikan semua pihak, baik pemerintah, swasta maupun  lembaga-lembaga penggerak wakaf,&quot; tegas Wahyu, mantan Pimred Majalah  Tempo.
Bahkan Wahyu, yang sekarang Komisaris sebuah BUMN dan stafsus Menteri  KKP ini, mempunyai niat luhur untuk membuat kemudahan wartawan  Indonesia agar memiliki rumah.
&quot;Kita sedang mencari rumusan dan langkah sinergitas wakaf produktif  membangun tidak hanya masjid dan madrasah, tapi juga bangun Rumah Sakit,  Perumahan bahkan Mall sebagaimana di Singapura dan Turki,&quot; tambah  Wahyu.</content:encoded></item></channel></rss>
