<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perajin Bali Sulap Kayu Durian Jadi Ukiran Cantik, Sudah Dijual hingga Eropa</title><description>Di tangan perajin asal Bali, tumpukan kayu pohon durian bisa disulap menjadi ukiran yang cantik.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/27/455/2976090/perajin-bali-sulap-kayu-durian-jadi-ukiran-cantik-sudah-dijual-hingga-eropa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/02/27/455/2976090/perajin-bali-sulap-kayu-durian-jadi-ukiran-cantik-sudah-dijual-hingga-eropa"/><item><title>Perajin Bali Sulap Kayu Durian Jadi Ukiran Cantik, Sudah Dijual hingga Eropa</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/27/455/2976090/perajin-bali-sulap-kayu-durian-jadi-ukiran-cantik-sudah-dijual-hingga-eropa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/02/27/455/2976090/perajin-bali-sulap-kayu-durian-jadi-ukiran-cantik-sudah-dijual-hingga-eropa</guid><pubDate>Selasa 27 Februari 2024 14:38 WIB</pubDate><dc:creator>Kurniasih Miftakhul Jannah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/27/455/2976090/perajin-bali-sulap-kayu-durian-jadi-ukiran-cantik-sudah-dijual-hingga-eropa-52CT4JARsC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kerajinan ukir asal Bali tembus pasar Eropa (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/27/455/2976090/perajin-bali-sulap-kayu-durian-jadi-ukiran-cantik-sudah-dijual-hingga-eropa-52CT4JARsC.jpg</image><title>Kerajinan ukir asal Bali tembus pasar Eropa (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8wNC80LzE3Njg4MC81L3g4czRtams=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
BALI - Di tangan perajin asal Bali, tumpukan kayu pohon durian bisa disulap menjadi ukiran yang cantik. Bahkan bingkai ukiran ini diminati turis mancanegara yang berasal dari Eropa.
Cerita ini dibagikan salah satu perajin kayu Wayan Sudarsana di Ubud, Gianyar kepada Okezone. Dia pun bercerita soal sulitnya membangun bisnis saat pandemi Covid-19.

BACA JUGA:
Dikeluhkan Perajin, Ganjar Pertimbangkan Pembatasan Impor Batik China


Pukulan besar bagi sektor Pariwisata Bali sejak 2020 juga berdampak pada bisnis Wayan. Generasi ketiga dari usaha pembuatan bingkai kayu berseni pahat di Desa Kokokan ini pun mengaku kehilangan banyak pekerja saat covid.
Wayan bilang, pekerjanya hanya tersisa 10 orang dari sebelumnya 30 orang. Tak menyerah, pria 43 tahun ini tetap melanjutkan bisnis yang sudah ditekuni sejak lama.
&quot;Saya generasi ketiga. Usaha ini sudah turun menurun. Mayoritas pekerjaan orang disini ya begini (ukir kayu),&quot; kata dia, ditulis Selasa (27/2/2024).

BACA JUGA:
Ganjar Dukung Perajin Batik Lokal, Pertimbangkan Pembatasan Impor Batik Tiongkok


Gaya khas ukiran Bali, kata Wayan, sudah dinikmati hingga pasar mancanegara. Umumnya para turis  langsung membeli di pinggir-pinggir jalan besar.
&quot;Kita ekspor ke Eropa dan Amerika. Tapi pembeli masih banyak lokal, kita belum ada ke luar Jawa,&quot; kata dia.
Saat ini, dirinya menerima pesanan ukiran untuk frame kaca. Untuk pembuatan frame kaca, Wayan mengaku menggunakan pohon durian.
&quot;Desain biasanya bawa sendiri samplenya. Kita bikin dulu satu, kalau  cocok baru kita lanjutkan prosesnya. Untuk harga, frame dengan ukuran  kecil Rp180 ribu, yang besar Rp300 ribu,&quot; ujar dia.
Bangkit dari pandemi, kini bingkai-bingkai yang dia buat dan jual  mulai kembali menghasilkan omzet cukup besar. Dia mengaku mendapat Rp40  juta per bulan.
&quot;Satu bulan minimal bisa mendapatkan Rp40 juta dengan margin  keuntungan bersih 25%. Biaya terbesar ada di bahan baku kayu pohon  durian, sisanya untuk pekerja dan saya,&quot; kata dia.
Menurutnya, kebutuhan modal menjadi hal yang paling dibutuhkan saat  bangkit dari pandemi covid. Dia mengaku mendapatkan akses modal dari  salah satu bank BUMN.
&quot;Awal diberi kredit Rp25 juta, seiring tahun pelan-pelan naik ke  Rp500 juta, tapi saat pandemi turun jadi Rp200 juta karena modal sudah  hampir habis, omzet menurun,&quot; kata dia.
Dia pun mengaku tenang karena upaya untuk memulihkan usaha bingkainya  terbantu oleh entitas BUMN lainnya, Askrindo. Wayan bilang, penjaminan  pinjaman dari Askrindo membuat bisnisnya yang meminjam modal uang  ratusan juta ke bank, bisa dijalani dengan lebih aman.
&quot;Pinjaman untuk UMKM saya sebenarnya sudah sejak 2018 dijamin oleh  Askrindo, jadi saat pinjam modal ke bank ketika pandemi tak punya modal,  saya lebih tenang,&quot; ujar dia.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8wNC80LzE3Njg4MC81L3g4czRtams=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
BALI - Di tangan perajin asal Bali, tumpukan kayu pohon durian bisa disulap menjadi ukiran yang cantik. Bahkan bingkai ukiran ini diminati turis mancanegara yang berasal dari Eropa.
Cerita ini dibagikan salah satu perajin kayu Wayan Sudarsana di Ubud, Gianyar kepada Okezone. Dia pun bercerita soal sulitnya membangun bisnis saat pandemi Covid-19.

BACA JUGA:
Dikeluhkan Perajin, Ganjar Pertimbangkan Pembatasan Impor Batik China


Pukulan besar bagi sektor Pariwisata Bali sejak 2020 juga berdampak pada bisnis Wayan. Generasi ketiga dari usaha pembuatan bingkai kayu berseni pahat di Desa Kokokan ini pun mengaku kehilangan banyak pekerja saat covid.
Wayan bilang, pekerjanya hanya tersisa 10 orang dari sebelumnya 30 orang. Tak menyerah, pria 43 tahun ini tetap melanjutkan bisnis yang sudah ditekuni sejak lama.
&quot;Saya generasi ketiga. Usaha ini sudah turun menurun. Mayoritas pekerjaan orang disini ya begini (ukir kayu),&quot; kata dia, ditulis Selasa (27/2/2024).

BACA JUGA:
Ganjar Dukung Perajin Batik Lokal, Pertimbangkan Pembatasan Impor Batik Tiongkok


Gaya khas ukiran Bali, kata Wayan, sudah dinikmati hingga pasar mancanegara. Umumnya para turis  langsung membeli di pinggir-pinggir jalan besar.
&quot;Kita ekspor ke Eropa dan Amerika. Tapi pembeli masih banyak lokal, kita belum ada ke luar Jawa,&quot; kata dia.
Saat ini, dirinya menerima pesanan ukiran untuk frame kaca. Untuk pembuatan frame kaca, Wayan mengaku menggunakan pohon durian.
&quot;Desain biasanya bawa sendiri samplenya. Kita bikin dulu satu, kalau  cocok baru kita lanjutkan prosesnya. Untuk harga, frame dengan ukuran  kecil Rp180 ribu, yang besar Rp300 ribu,&quot; ujar dia.
Bangkit dari pandemi, kini bingkai-bingkai yang dia buat dan jual  mulai kembali menghasilkan omzet cukup besar. Dia mengaku mendapat Rp40  juta per bulan.
&quot;Satu bulan minimal bisa mendapatkan Rp40 juta dengan margin  keuntungan bersih 25%. Biaya terbesar ada di bahan baku kayu pohon  durian, sisanya untuk pekerja dan saya,&quot; kata dia.
Menurutnya, kebutuhan modal menjadi hal yang paling dibutuhkan saat  bangkit dari pandemi covid. Dia mengaku mendapatkan akses modal dari  salah satu bank BUMN.
&quot;Awal diberi kredit Rp25 juta, seiring tahun pelan-pelan naik ke  Rp500 juta, tapi saat pandemi turun jadi Rp200 juta karena modal sudah  hampir habis, omzet menurun,&quot; kata dia.
Dia pun mengaku tenang karena upaya untuk memulihkan usaha bingkainya  terbantu oleh entitas BUMN lainnya, Askrindo. Wayan bilang, penjaminan  pinjaman dari Askrindo membuat bisnisnya yang meminjam modal uang  ratusan juta ke bank, bisa dijalani dengan lebih aman.
&quot;Pinjaman untuk UMKM saya sebenarnya sudah sejak 2018 dijamin oleh  Askrindo, jadi saat pinjam modal ke bank ketika pandemi tak punya modal,  saya lebih tenang,&quot; ujar dia.</content:encoded></item></channel></rss>
