<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gelombang PHK Hantui Industri Tekstil dan Padat Karya</title><description>Gelombang PHK masih menghantui industri tekstil dan padat karya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/03/01/320/2977869/gelombang-phk-hantui-industri-tekstil-dan-padat-karya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/03/01/320/2977869/gelombang-phk-hantui-industri-tekstil-dan-padat-karya"/><item><title>Gelombang PHK Hantui Industri Tekstil dan Padat Karya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/03/01/320/2977869/gelombang-phk-hantui-industri-tekstil-dan-padat-karya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/03/01/320/2977869/gelombang-phk-hantui-industri-tekstil-dan-padat-karya</guid><pubDate>Jum'at 01 Maret 2024 19:51 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/01/320/2977869/gelombang-phk-hantui-industri-tekstil-dan-padat-karya-ILaC68yNZu.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Gelombang PHK industri tekstil (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/01/320/2977869/gelombang-phk-hantui-industri-tekstil-dan-padat-karya-ILaC68yNZu.jpeg</image><title>Gelombang PHK industri tekstil (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8xNy8xLzE3MzgyNy81L3g4cHBlYWU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
JAKARTA &amp;ndash; Gelombang PHK masih menghantui industri tekstil dan padat karya. Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) mengaku potensi PHK karena kinerja sektor bisnis ini masih akan tertekan di kuartal I 2024.
Ketua Umum APSYFI Redma Gita Wirawasta mengatakan, kinerja dan pendapatan perusahaan-perusahaan tekstil dan padat terus menurun selama tiga bulan pertama tahun ini.

BACA JUGA:
Mark Zuckerberg Ungkap Penyebab Banyaknya Perusahaan Teknologi PHK Massal 


&amp;ldquo;Kalau kita melihat di kuartal 1 (2024) sepertinya akan berlanjut turun ya, karena memang di bulan Januari, Februari kita masih mendengar teman-teman yang melakukan PHK gitu ya,&amp;rdquo; ujar Redma, Jumat (1/3/2024).
Saat ini utilisasi pabrik berada di angka 40% atau terjun bebas dari posisi di tahun 2022, yakni 75-80%. Penurunan secara signifikan ini membuat kinerja tekstil dan padat negatif.

BACA JUGA:
Miris! Pekerja Kena PHK saat Masih Punya Cicilan iPhone dan Aerox


&amp;ldquo;Sekarang di hulu itu utilisasi sekitar 40%, itu di bulan Januari dan Februari. Artinya, di kuartal I 2024 ini akan tetap kemungkinan lebih dalam minus-nya dibandingkan kuartal IV (2023),&amp;rdquo; paparnya.
APSyFI mencatat, produk tekstil impor menguasai 70% pasar (market) di Tanah Air. Kondisi itu membuat kinerja industri tekstil lokal tertekan dan terus merugi. Redma mengaku, dominasi produk impor di pasar dalam negeri membuat industri tekstil lokal masuk dalam kategori terburuk dibandingkan 20 tahun terakhir.
Bahkan, Ramadhan dan Lebaran yang menjadi momentum penting bagi  perusahaan tekstil agar mendorong pertumbuhan bisnis pun minim harapan.  Redma menyebut, tidak banyak harapan di benak para pengusaha tekstil  untuk meraup untuk di momentum Ramadhan dan Lebaran 2024 ini.
&amp;ldquo;Ada harapan sedikit, tapi optimisme sangat kecil. Untuk jenis  beberapa produk itu ada harapan, tapi harapan mereka juga tidak sebesar  tahun-tahun sebelumnya karena barang impor sudah sangat banyak gitu,&amp;rdquo;  beber dia.
&amp;ldquo;Kalau kita melihat di market itu untuk momentum Lebaran barang impor  menguasai sekitar 60-70% market. Makanya sekarang di industri tekstil  ini mereka tahu bahwa momentum ini, tekstil saat ini, itu kondisi paling  buruk dari 20 tahun terakhir,&amp;rdquo; jelasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8xNy8xLzE3MzgyNy81L3g4cHBlYWU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
JAKARTA &amp;ndash; Gelombang PHK masih menghantui industri tekstil dan padat karya. Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) mengaku potensi PHK karena kinerja sektor bisnis ini masih akan tertekan di kuartal I 2024.
Ketua Umum APSYFI Redma Gita Wirawasta mengatakan, kinerja dan pendapatan perusahaan-perusahaan tekstil dan padat terus menurun selama tiga bulan pertama tahun ini.

BACA JUGA:
Mark Zuckerberg Ungkap Penyebab Banyaknya Perusahaan Teknologi PHK Massal 


&amp;ldquo;Kalau kita melihat di kuartal 1 (2024) sepertinya akan berlanjut turun ya, karena memang di bulan Januari, Februari kita masih mendengar teman-teman yang melakukan PHK gitu ya,&amp;rdquo; ujar Redma, Jumat (1/3/2024).
Saat ini utilisasi pabrik berada di angka 40% atau terjun bebas dari posisi di tahun 2022, yakni 75-80%. Penurunan secara signifikan ini membuat kinerja tekstil dan padat negatif.

BACA JUGA:
Miris! Pekerja Kena PHK saat Masih Punya Cicilan iPhone dan Aerox


&amp;ldquo;Sekarang di hulu itu utilisasi sekitar 40%, itu di bulan Januari dan Februari. Artinya, di kuartal I 2024 ini akan tetap kemungkinan lebih dalam minus-nya dibandingkan kuartal IV (2023),&amp;rdquo; paparnya.
APSyFI mencatat, produk tekstil impor menguasai 70% pasar (market) di Tanah Air. Kondisi itu membuat kinerja industri tekstil lokal tertekan dan terus merugi. Redma mengaku, dominasi produk impor di pasar dalam negeri membuat industri tekstil lokal masuk dalam kategori terburuk dibandingkan 20 tahun terakhir.
Bahkan, Ramadhan dan Lebaran yang menjadi momentum penting bagi  perusahaan tekstil agar mendorong pertumbuhan bisnis pun minim harapan.  Redma menyebut, tidak banyak harapan di benak para pengusaha tekstil  untuk meraup untuk di momentum Ramadhan dan Lebaran 2024 ini.
&amp;ldquo;Ada harapan sedikit, tapi optimisme sangat kecil. Untuk jenis  beberapa produk itu ada harapan, tapi harapan mereka juga tidak sebesar  tahun-tahun sebelumnya karena barang impor sudah sangat banyak gitu,&amp;rdquo;  beber dia.
&amp;ldquo;Kalau kita melihat di market itu untuk momentum Lebaran barang impor  menguasai sekitar 60-70% market. Makanya sekarang di industri tekstil  ini mereka tahu bahwa momentum ini, tekstil saat ini, itu kondisi paling  buruk dari 20 tahun terakhir,&amp;rdquo; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
