<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sektor Manufaktur RI Ekspansif, Kemenkeu: Malaysia dan Thailand Terkontraksi</title><description>Sektor manufaktur Indonesia terus melanjutkan kinerja yang kuat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/03/01/320/2977898/sektor-manufaktur-ri-ekspansif-kemenkeu-malaysia-dan-thailand-terkontraksi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/03/01/320/2977898/sektor-manufaktur-ri-ekspansif-kemenkeu-malaysia-dan-thailand-terkontraksi"/><item><title>Sektor Manufaktur RI Ekspansif, Kemenkeu: Malaysia dan Thailand Terkontraksi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/03/01/320/2977898/sektor-manufaktur-ri-ekspansif-kemenkeu-malaysia-dan-thailand-terkontraksi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/03/01/320/2977898/sektor-manufaktur-ri-ekspansif-kemenkeu-malaysia-dan-thailand-terkontraksi</guid><pubDate>Jum'at 01 Maret 2024 21:11 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/01/320/2977898/sektor-manufaktur-ri-ekspansif-kemenkeu-malaysia-dan-thailand-terkontraksi-aqFBulb16z.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sektor manufaktur RI tumbuh kuat (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/01/320/2977898/sektor-manufaktur-ri-ekspansif-kemenkeu-malaysia-dan-thailand-terkontraksi-aqFBulb16z.jpg</image><title>Sektor manufaktur RI tumbuh kuat (Foto: Freepik)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8yMi80LzE3NzUzNy81L3g4dDRoZjQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
JAKARTA &amp;ndash; Sektor manufaktur Indonesia terus melanjutkan kinerja yang kuat. Purchasing Managers&amp;rsquo; Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Februari 2024 berada di zona ekspansif atau level 52,7.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat permintaan domestik dan beberapa mitra dagang utama yang masih tumbuh kuat, kendati dihadapkan pada tren pelemahan aktivitas ekonomi global.

BACA JUGA:
UMKM Naik Kelas, MNC Leasing Beri Pembiayaan ke Industri Manufaktur di Cikarang


Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menyebut beberapa negara mitra dagang Indonesia masih mencatatkan ekspansi sektor manufakturnya, antara lain India (56,7) dan Amerika Serikat (51,5). Sementara, PMI manufaktur negara kawasan ASEAN seperti Malaysia dan Thailand masih terkontraksi, masing&amp;ndash;masing ke level 49,5 dan 45,3.

BACA JUGA:
Menperin Optimis Kinerja Manufaktur Capai 5,8% di 2024


&amp;ldquo;Di tengah pelemahan ekonomi global dan masih berlanjutnya perlambatan manufaktur di beberapa negara, Indonesia mampu menjaga aktivitas manufaktur yang tetap kuat. Capaian ini akan terus dijaga dengan optimalisasi APBN dan tetap mengantisipasi risiko global saat ini,&amp;rdquo; ujar Febrio, Jumat (1/3/2024).
Kinerja manufaktur Indonesia yang masih ekspansif ini didorong oleh tingkat permintaan dalam negeri dan pembelian barang input, sebagai antisipasi peningkatan permintaan menjelang bulan Ramadhan. Febrio memandang, kepercayaan bisnis periode Februari 2024 berada di level tertinggi, menandakan optimisme pelaku bisnis terhadap prospek produksi Indonesia sepanjang 2024 relatif masih tinggi.
Sementara itu, inflasi Februari 2024 masih terkendali dan masih  berada di dalam rentang sasaran pemerintah, meskipun sedikit meningkat  di level 2,75%. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh harga pangan,  khususnya beras.
&amp;ldquo;Pemerintah akan terus melakukan berbagai langkah antisipasi untuk  menjaga ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga pangan seiring  dengan persiapan momen Ramadhan dan Idul Fitri 2024,&amp;rdquo; paparnya.
Berdasarkan komponennya, inflasi pangan bergejolak (volatile food)  masih dalam tren yang meningkat, mencapai 8,47% (yoy) di Februari. Beras  sebagai komoditas dengan bobot inflasi terbesar dalam kelompok makanan,  mengalami kenaikan harga secara gradual sejak 2023.
Kenaikan harga ini salah satunya dipengaruhi oleh produksi yang  rendah sebagai dampak cuaca yang berpengaruh pada siklus tanam dan  panen. Puncak panen diperkirakan baru akan terjadi pada April mendatang.  Selain beras, beberapa pangan yang juga mengalami kenaikan harga,  antara lain cabai merah, telur ayam ras, daging ayam ras, dan kentang.
Di sisi lain, inflasi inti yang menjadi komponen terbesar inflasi  masih stabil di angka 1,68%, sementara inflasi harga diatur pemerintah  (administered price) menurun tipis menjadi 1,67% dari 1,74% pada Januari  2024. Meskipun perlahan menurun, pergerakan inflasi administered price  perlu diwaspadai seiring risiko kenaikan tarif transportasi pada bulan  depan di masa mudik lebaran.
&amp;ldquo;Pemerintah terus melakukan langkah mitigasi risiko atas potensi  terjadinya gejolak harga pangan, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan  Nasional (HBKN) Ramadhan dan Idul Fitri. Pemerintah secara konsisten  berupaya untuk menjaga ketersediaan pasokan,&amp;rdquo; beber dia
Adapun, beberapa kebijakan yang ditempuh sebagai langkah stabilisasi  harga beras, antara lain melalui operasi pasar dan pasar murah, dukungan  subsidi pupuk, percepatan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan Harga  Pangan (SPHP), percepatan impor, dan pembatasan pembelian retail untuk  mengantisipasi panic buying.
&amp;ldquo;Inflasi volatile food diharapkan dapat kembali menurun hingga di  bawah 5% untuk mendukung pencapaian sasaran Pemerintah tahun 2024,&amp;rdquo;  turur Febrio.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8yMi80LzE3NzUzNy81L3g4dDRoZjQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
JAKARTA &amp;ndash; Sektor manufaktur Indonesia terus melanjutkan kinerja yang kuat. Purchasing Managers&amp;rsquo; Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Februari 2024 berada di zona ekspansif atau level 52,7.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat permintaan domestik dan beberapa mitra dagang utama yang masih tumbuh kuat, kendati dihadapkan pada tren pelemahan aktivitas ekonomi global.

BACA JUGA:
UMKM Naik Kelas, MNC Leasing Beri Pembiayaan ke Industri Manufaktur di Cikarang


Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menyebut beberapa negara mitra dagang Indonesia masih mencatatkan ekspansi sektor manufakturnya, antara lain India (56,7) dan Amerika Serikat (51,5). Sementara, PMI manufaktur negara kawasan ASEAN seperti Malaysia dan Thailand masih terkontraksi, masing&amp;ndash;masing ke level 49,5 dan 45,3.

BACA JUGA:
Menperin Optimis Kinerja Manufaktur Capai 5,8% di 2024


&amp;ldquo;Di tengah pelemahan ekonomi global dan masih berlanjutnya perlambatan manufaktur di beberapa negara, Indonesia mampu menjaga aktivitas manufaktur yang tetap kuat. Capaian ini akan terus dijaga dengan optimalisasi APBN dan tetap mengantisipasi risiko global saat ini,&amp;rdquo; ujar Febrio, Jumat (1/3/2024).
Kinerja manufaktur Indonesia yang masih ekspansif ini didorong oleh tingkat permintaan dalam negeri dan pembelian barang input, sebagai antisipasi peningkatan permintaan menjelang bulan Ramadhan. Febrio memandang, kepercayaan bisnis periode Februari 2024 berada di level tertinggi, menandakan optimisme pelaku bisnis terhadap prospek produksi Indonesia sepanjang 2024 relatif masih tinggi.
Sementara itu, inflasi Februari 2024 masih terkendali dan masih  berada di dalam rentang sasaran pemerintah, meskipun sedikit meningkat  di level 2,75%. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh harga pangan,  khususnya beras.
&amp;ldquo;Pemerintah akan terus melakukan berbagai langkah antisipasi untuk  menjaga ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga pangan seiring  dengan persiapan momen Ramadhan dan Idul Fitri 2024,&amp;rdquo; paparnya.
Berdasarkan komponennya, inflasi pangan bergejolak (volatile food)  masih dalam tren yang meningkat, mencapai 8,47% (yoy) di Februari. Beras  sebagai komoditas dengan bobot inflasi terbesar dalam kelompok makanan,  mengalami kenaikan harga secara gradual sejak 2023.
Kenaikan harga ini salah satunya dipengaruhi oleh produksi yang  rendah sebagai dampak cuaca yang berpengaruh pada siklus tanam dan  panen. Puncak panen diperkirakan baru akan terjadi pada April mendatang.  Selain beras, beberapa pangan yang juga mengalami kenaikan harga,  antara lain cabai merah, telur ayam ras, daging ayam ras, dan kentang.
Di sisi lain, inflasi inti yang menjadi komponen terbesar inflasi  masih stabil di angka 1,68%, sementara inflasi harga diatur pemerintah  (administered price) menurun tipis menjadi 1,67% dari 1,74% pada Januari  2024. Meskipun perlahan menurun, pergerakan inflasi administered price  perlu diwaspadai seiring risiko kenaikan tarif transportasi pada bulan  depan di masa mudik lebaran.
&amp;ldquo;Pemerintah terus melakukan langkah mitigasi risiko atas potensi  terjadinya gejolak harga pangan, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan  Nasional (HBKN) Ramadhan dan Idul Fitri. Pemerintah secara konsisten  berupaya untuk menjaga ketersediaan pasokan,&amp;rdquo; beber dia
Adapun, beberapa kebijakan yang ditempuh sebagai langkah stabilisasi  harga beras, antara lain melalui operasi pasar dan pasar murah, dukungan  subsidi pupuk, percepatan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan Harga  Pangan (SPHP), percepatan impor, dan pembatasan pembelian retail untuk  mengantisipasi panic buying.
&amp;ldquo;Inflasi volatile food diharapkan dapat kembali menurun hingga di  bawah 5% untuk mendukung pencapaian sasaran Pemerintah tahun 2024,&amp;rdquo;  turur Febrio.</content:encoded></item></channel></rss>
