<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tips Atur Arus Pengeluaran Perusahaan</title><description>Tips mengatur arus kas pengeluaran bagi perusahaan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/03/01/622/2977801/tips-atur-arus-pengeluaran-perusahaan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/03/01/622/2977801/tips-atur-arus-pengeluaran-perusahaan"/><item><title>Tips Atur Arus Pengeluaran Perusahaan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/03/01/622/2977801/tips-atur-arus-pengeluaran-perusahaan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/03/01/622/2977801/tips-atur-arus-pengeluaran-perusahaan</guid><pubDate>Jum'at 01 Maret 2024 18:12 WIB</pubDate><dc:creator>Fadila Nur Hasan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/01/622/2977801/tips-atur-arus-pengeluaran-perusahaan-QcPUGl9igG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tips mengatur arus kas keuangan (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/01/622/2977801/tips-atur-arus-pengeluaran-perusahaan-QcPUGl9igG.jpg</image><title>Tips mengatur arus kas keuangan (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8yMS8xLzE2NzQwOC81L3g4bHhwMWs=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
JAKARTA &amp;ndash; Tips mengatur arus kas pengeluaran bagi perusahaan. Salah satu pengeluaran operasional perusahaan adalah Reimbursement. Walau terlihat simpel, proses reimbursement dapat mempengaruhi kelancaran arus kas perusahaan dan kepuasan kerja karyawan.
Reimbursement adalah pengembalian dana pribadi yang telah dikeluarkan karyawan untuk menalangi keperluan kantor atau kerja, seperti biaya taksi online saat pergi ke pertemuan bisnis. Setelah pengeluaran dilakukan, karyawan biasanya akan mengajukan reimbursement dengan menyerahkan bukti pembayaran ke perusahaan.

BACA JUGA:
4 Tips Mengelola Pengeluaran Perjalanan Bisnis dengan Bijak


Chief Business Officer Mekari Jansen Jumino mengatakan, walau terlihat sederhana, ada beban administratif dan keuangan yang ditanggung perusahaan untuk memproses dan mengeluarkan reimbursement.
&amp;ldquo;Di sisi karyawan, reimbursement juga tidak bisa dianggap remeh karena kemudahan mengurus hal tersebut berpengaruh pada kepuasan mereka terhadap sistem internal perusahaan. Sebab itu, perusahaan perlu menerapkan sistem dan proses reimbursement yang efisien demi kelancaran administratif dan operasional,&amp;rdquo; kata Jansen, Jumat (1/3/2024).

BACA JUGA:
Biar Enggak Tekor, Ini 7 Tips Mengelola Keuangan di Awal Tahun


Dia melanjutkan bahwa tren terkait pola reimbursement karyawan memberi pandangan menarik bagi perusahaan mengenai cara mengatur reimbursement dengan baik.
&amp;ldquo;Data dari Mekari Expense selama semester II tahun lalu menunjukkan bahwa perusahaan segala ukuran disibukkan oleh reimbursement. Bahkan, kategori UMKM secara keseluruhan memproses lebih dari ribuan transaksi perbulan, sebuah volume yang menyerupai kategori perusahaan besar dan enterprise,&amp;rdquo; ujarnya.
Lalu, apa saja pola reimbursement perusahaan dan karyawan lainnya? Simak empat hal di bawah ini.
Pengeluaran untuk transportasi menjadi kategori reimbursement yang  paling sering diajukan, mengingat tingginya mobilitas kerja di era  hybrid work. Hingga 30% dari jenis reimbursement menutupi pengeluaran  kendaraan, bensin, parkir, dan service. Kategori kedua terbesar adalah  peralatan dan pengiriman (15%), seperti alat tulis kantor (ATK) dan  kurir, diikuti oleh akomodasi, seperti sewa hotel saat perjalanan dinas.
&amp;ldquo;Adanya sub-kategori pengeluaran mengharuskan perusahaan untuk  memiliki sistem reimbursement yang bisa menangani kompleksitas tersebut.  Sebagai contoh, perjalanan dinas harus tercatat dan terhitung dengan  akurat karena terdiri dari banyak komponen pengeluaran, seperti per  diem, transportasi, dan akomodasi,&amp;rdquo; katanya.
Karena kerap mengunjungi pelanggan dan mitra bisnis, tim sales dan  commercial adalah divisi yang paling sering mengajukan reimbursement.  Sebanyak 40% dari pengajuan reimbursement berasal dari tim tersebut,  diikuti oleh tim operasional dan produk (18%) yang acap kali mengecek  langsung keadaan pasar. Tim engineering dan lapangan (16%) yang juga  biasa terjun ke lapangan berada di posisi ketiga.
&amp;ldquo;Tim yang menyelesaikan kerja dari kantor, seperti keuangan dan HR,  tetap mengajukan reimbursement untuk pengeluaran terkait ATK serta kas  kecil lainnya,&amp;rdquo; katanya.
Semakin lancar perusahaan memproses pengajuan reimbursement, semakin  cepat pula mereka mengembalikan uang ke karyawan. Data menunjukkan bahwa  42% perusahaan membutuhkan hingga 7 hari untuk memproses reimbursement,  sedangkan yang lain membutuhkan 8-14 hari (37%) dan 15-21 hari (21%).
Untuk jadwal, sebanyak 38% perusahaan membayar reimbursement sekali  sebulan, umumnya bersama dengan gaji. Selain itu, sebanyak 25%  perusahaan membayar secara mingguan dan 34% membayar secara harian.
&amp;ldquo;Perusahaan membutuhkan waktu untuk memproses reimbursement karena  pengajuan yang diserahkan oleh karyawan ditangani oleh berbagai divisi,  termasuk divisi payroll di HRD yang menerima pengajuan dan divisi  keuangan yang bertanggung jawab untuk membayar reimbursement. Pemrosesan  lintas divisi ini mengharuskan perusahaan untuk menerapkan alur  pengajuan reimbursement yang tertata rapi dan sistem pencatatan arus kas  yang akurat,&amp;rdquo; ujarnya.
Berdasarkan data, sebanyak 83% karyawan mengajukan reimbursement  dalam 7 hari setelah tanggal transaksi. Selain itu, karyawan aktif  umumnya mengajukan reimbursement rata-rata 5 kali sebulan dengan  rata-rata nilai total Rp250 ribu.
&amp;ldquo;Karyawan bergerak cepat agar tidak melewati tenggat waktu pengajuan reimbursement yang ditetapkan perusahaan,&amp;rdquo; ujarnya.
Adanya pola pengajuan dan pemrosesan reimbursement memberikan  perusahaan gambaran lebih jelas bagaimana merancang sistem yang teratur  untuk mengajukan dan menangani hal tersebut, mulai dari penyerahan bukti  transaksi oleh karyawan hingga pembukuan semua pengeluaran perusahaan  untuk menutupi reimbursement.
&amp;ldquo;Teknologi berupa solusi pengelolaan keuangan bisnis akan membantu  perusahaan menerapkan dan menjalankan sistem reimbursement secara baik.  Solusi memungkinkan karyawan mengajukan reimbursement beserta bukti  transaksi dengan mudah melalui aplikasi yang terhubung ke payroll dan  keuangan. Dengan demikian, pengajuan reimbursement tidak saja tercatat  dengan rapi, tapi pemrosesannya juga akan transparan karena semua pihak  dapat melihat sejauh mana reimbursement sudah ditangani. Oleh sebab itu,  perusahaan perlu mempertimbangkan penggunaan solusi untuk kemudahan dan  efisiensi dalam menangani reimbursement,&amp;rdquo; tutup Jansen.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8yMS8xLzE2NzQwOC81L3g4bHhwMWs=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
JAKARTA &amp;ndash; Tips mengatur arus kas pengeluaran bagi perusahaan. Salah satu pengeluaran operasional perusahaan adalah Reimbursement. Walau terlihat simpel, proses reimbursement dapat mempengaruhi kelancaran arus kas perusahaan dan kepuasan kerja karyawan.
Reimbursement adalah pengembalian dana pribadi yang telah dikeluarkan karyawan untuk menalangi keperluan kantor atau kerja, seperti biaya taksi online saat pergi ke pertemuan bisnis. Setelah pengeluaran dilakukan, karyawan biasanya akan mengajukan reimbursement dengan menyerahkan bukti pembayaran ke perusahaan.

BACA JUGA:
4 Tips Mengelola Pengeluaran Perjalanan Bisnis dengan Bijak


Chief Business Officer Mekari Jansen Jumino mengatakan, walau terlihat sederhana, ada beban administratif dan keuangan yang ditanggung perusahaan untuk memproses dan mengeluarkan reimbursement.
&amp;ldquo;Di sisi karyawan, reimbursement juga tidak bisa dianggap remeh karena kemudahan mengurus hal tersebut berpengaruh pada kepuasan mereka terhadap sistem internal perusahaan. Sebab itu, perusahaan perlu menerapkan sistem dan proses reimbursement yang efisien demi kelancaran administratif dan operasional,&amp;rdquo; kata Jansen, Jumat (1/3/2024).

BACA JUGA:
Biar Enggak Tekor, Ini 7 Tips Mengelola Keuangan di Awal Tahun


Dia melanjutkan bahwa tren terkait pola reimbursement karyawan memberi pandangan menarik bagi perusahaan mengenai cara mengatur reimbursement dengan baik.
&amp;ldquo;Data dari Mekari Expense selama semester II tahun lalu menunjukkan bahwa perusahaan segala ukuran disibukkan oleh reimbursement. Bahkan, kategori UMKM secara keseluruhan memproses lebih dari ribuan transaksi perbulan, sebuah volume yang menyerupai kategori perusahaan besar dan enterprise,&amp;rdquo; ujarnya.
Lalu, apa saja pola reimbursement perusahaan dan karyawan lainnya? Simak empat hal di bawah ini.
Pengeluaran untuk transportasi menjadi kategori reimbursement yang  paling sering diajukan, mengingat tingginya mobilitas kerja di era  hybrid work. Hingga 30% dari jenis reimbursement menutupi pengeluaran  kendaraan, bensin, parkir, dan service. Kategori kedua terbesar adalah  peralatan dan pengiriman (15%), seperti alat tulis kantor (ATK) dan  kurir, diikuti oleh akomodasi, seperti sewa hotel saat perjalanan dinas.
&amp;ldquo;Adanya sub-kategori pengeluaran mengharuskan perusahaan untuk  memiliki sistem reimbursement yang bisa menangani kompleksitas tersebut.  Sebagai contoh, perjalanan dinas harus tercatat dan terhitung dengan  akurat karena terdiri dari banyak komponen pengeluaran, seperti per  diem, transportasi, dan akomodasi,&amp;rdquo; katanya.
Karena kerap mengunjungi pelanggan dan mitra bisnis, tim sales dan  commercial adalah divisi yang paling sering mengajukan reimbursement.  Sebanyak 40% dari pengajuan reimbursement berasal dari tim tersebut,  diikuti oleh tim operasional dan produk (18%) yang acap kali mengecek  langsung keadaan pasar. Tim engineering dan lapangan (16%) yang juga  biasa terjun ke lapangan berada di posisi ketiga.
&amp;ldquo;Tim yang menyelesaikan kerja dari kantor, seperti keuangan dan HR,  tetap mengajukan reimbursement untuk pengeluaran terkait ATK serta kas  kecil lainnya,&amp;rdquo; katanya.
Semakin lancar perusahaan memproses pengajuan reimbursement, semakin  cepat pula mereka mengembalikan uang ke karyawan. Data menunjukkan bahwa  42% perusahaan membutuhkan hingga 7 hari untuk memproses reimbursement,  sedangkan yang lain membutuhkan 8-14 hari (37%) dan 15-21 hari (21%).
Untuk jadwal, sebanyak 38% perusahaan membayar reimbursement sekali  sebulan, umumnya bersama dengan gaji. Selain itu, sebanyak 25%  perusahaan membayar secara mingguan dan 34% membayar secara harian.
&amp;ldquo;Perusahaan membutuhkan waktu untuk memproses reimbursement karena  pengajuan yang diserahkan oleh karyawan ditangani oleh berbagai divisi,  termasuk divisi payroll di HRD yang menerima pengajuan dan divisi  keuangan yang bertanggung jawab untuk membayar reimbursement. Pemrosesan  lintas divisi ini mengharuskan perusahaan untuk menerapkan alur  pengajuan reimbursement yang tertata rapi dan sistem pencatatan arus kas  yang akurat,&amp;rdquo; ujarnya.
Berdasarkan data, sebanyak 83% karyawan mengajukan reimbursement  dalam 7 hari setelah tanggal transaksi. Selain itu, karyawan aktif  umumnya mengajukan reimbursement rata-rata 5 kali sebulan dengan  rata-rata nilai total Rp250 ribu.
&amp;ldquo;Karyawan bergerak cepat agar tidak melewati tenggat waktu pengajuan reimbursement yang ditetapkan perusahaan,&amp;rdquo; ujarnya.
Adanya pola pengajuan dan pemrosesan reimbursement memberikan  perusahaan gambaran lebih jelas bagaimana merancang sistem yang teratur  untuk mengajukan dan menangani hal tersebut, mulai dari penyerahan bukti  transaksi oleh karyawan hingga pembukuan semua pengeluaran perusahaan  untuk menutupi reimbursement.
&amp;ldquo;Teknologi berupa solusi pengelolaan keuangan bisnis akan membantu  perusahaan menerapkan dan menjalankan sistem reimbursement secara baik.  Solusi memungkinkan karyawan mengajukan reimbursement beserta bukti  transaksi dengan mudah melalui aplikasi yang terhubung ke payroll dan  keuangan. Dengan demikian, pengajuan reimbursement tidak saja tercatat  dengan rapi, tapi pemrosesannya juga akan transparan karena semua pihak  dapat melihat sejauh mana reimbursement sudah ditangani. Oleh sebab itu,  perusahaan perlu mempertimbangkan penggunaan solusi untuk kemudahan dan  efisiensi dalam menangani reimbursement,&amp;rdquo; tutup Jansen.</content:encoded></item></channel></rss>
