<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kejar Target 1,5 GW PLTS Atap, RI Butuh 3,3 Juta Panel Surya</title><description>Kementerian ESDM mengungkapkan Indonesia memerlukan 3,3 juta panel surya untuk mencapai target 1 gigawatt (GW) PLTS Atap.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/03/05/320/2979230/kejar-target-1-5-gw-plts-atap-ri-butuh-3-3-juta-panel-surya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/03/05/320/2979230/kejar-target-1-5-gw-plts-atap-ri-butuh-3-3-juta-panel-surya"/><item><title>Kejar Target 1,5 GW PLTS Atap, RI Butuh 3,3 Juta Panel Surya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/03/05/320/2979230/kejar-target-1-5-gw-plts-atap-ri-butuh-3-3-juta-panel-surya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/03/05/320/2979230/kejar-target-1-5-gw-plts-atap-ri-butuh-3-3-juta-panel-surya</guid><pubDate>Selasa 05 Maret 2024 13:19 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/05/320/2979230/kejar-target-1-5-gw-plts-atap-ri-butuh-3-3-juta-panel-surya-nqjEoimjFS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">RI Butuh 3,3 juta panel surya (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/05/320/2979230/kejar-target-1-5-gw-plts-atap-ri-butuh-3-3-juta-panel-surya-nqjEoimjFS.jpg</image><title>RI Butuh 3,3 juta panel surya (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8wOS80LzE3MzQyOC81L3g4cGg3cWw=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kementerian ESDM mengungkapkan Indonesia memerlukan 3,3 juta panel surya untuk mencapai target 1 gigawatt (GW) PLTS Atap.
&quot;Hal ini akan mendorong tumbuhnya industri modul surya di Indonesia,&quot; jelas Plt Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Jisman P Hutajulu dalam acara Sosialisasi Peraturan Menteri ESDM No 2 Tahun 2024 di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (5/3/2024).

BACA JUGA:
Ini Revisi Aturan Terbaru PLTS Atap, Tetap Ada Insentif


Jisman juga mengatakan, di sisi hulu Indonesia juga memiliki sand silika yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung industri solar cell.
&quot;Dengan demikian, diharapkan program PLTS Atap ini dapat mendukung rencana pembangunan industri hulu solar cell yang direncanakan di Jawa Tengah, Pulau Batam dan Pulau Rempang,&quot; tutur Jisman.

BACA JUGA:
Begini Aturan Main PLTS Atap Terbaru 


Dalam kesempatan ini, Jisman juga menambahkan revisi peraturan PLTS Ini merupakan upaya Pemerintah dalam merespons dinamika perubahan yang ada di masyarakat dan untuk memfasilitasi masukan dari berbagai pihak yang ingin berkontribusi dalam pengembangan PLTS /Atap.
&quot;Melalui peraturan terbaru ini, diharapkan dapat meningkatkan perbaikan tata kelola pemanfaatan energi surya yang ramah lingkungan untuk pembangkitan tenaga listrik, khususnya sistem PLTS atap yang digunakan untuk kepentingan sendiri,&quot; lanjut Jisman.
Terakhir Jisman berharap, pengembangan PLTS ini akan berdampak pada  beberapa hal seperti, meningkatkan bauran energi baru dan terbarukan  (EBT) nasional, mendukung pencapaian Nationally Determined Contribution  (NDC) Indonesia, penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan investasi.
&quot;(Selain itu) pengembangan PLTS Atap juga diharapkan mendorong  tumbuhnya industri pendukung PLTS dalam negeri, mendorong green product  sektor jasa dan green industry untuk menghindari dan penerapan carbon  border tax di tingkat global,&quot; tutup Jisman.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8wOS80LzE3MzQyOC81L3g4cGg3cWw=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kementerian ESDM mengungkapkan Indonesia memerlukan 3,3 juta panel surya untuk mencapai target 1 gigawatt (GW) PLTS Atap.
&quot;Hal ini akan mendorong tumbuhnya industri modul surya di Indonesia,&quot; jelas Plt Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Jisman P Hutajulu dalam acara Sosialisasi Peraturan Menteri ESDM No 2 Tahun 2024 di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (5/3/2024).

BACA JUGA:
Ini Revisi Aturan Terbaru PLTS Atap, Tetap Ada Insentif


Jisman juga mengatakan, di sisi hulu Indonesia juga memiliki sand silika yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung industri solar cell.
&quot;Dengan demikian, diharapkan program PLTS Atap ini dapat mendukung rencana pembangunan industri hulu solar cell yang direncanakan di Jawa Tengah, Pulau Batam dan Pulau Rempang,&quot; tutur Jisman.

BACA JUGA:
Begini Aturan Main PLTS Atap Terbaru 


Dalam kesempatan ini, Jisman juga menambahkan revisi peraturan PLTS Ini merupakan upaya Pemerintah dalam merespons dinamika perubahan yang ada di masyarakat dan untuk memfasilitasi masukan dari berbagai pihak yang ingin berkontribusi dalam pengembangan PLTS /Atap.
&quot;Melalui peraturan terbaru ini, diharapkan dapat meningkatkan perbaikan tata kelola pemanfaatan energi surya yang ramah lingkungan untuk pembangkitan tenaga listrik, khususnya sistem PLTS atap yang digunakan untuk kepentingan sendiri,&quot; lanjut Jisman.
Terakhir Jisman berharap, pengembangan PLTS ini akan berdampak pada  beberapa hal seperti, meningkatkan bauran energi baru dan terbarukan  (EBT) nasional, mendukung pencapaian Nationally Determined Contribution  (NDC) Indonesia, penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan investasi.
&quot;(Selain itu) pengembangan PLTS Atap juga diharapkan mendorong  tumbuhnya industri pendukung PLTS dalam negeri, mendorong green product  sektor jasa dan green industry untuk menghindari dan penerapan carbon  border tax di tingkat global,&quot; tutup Jisman.</content:encoded></item></channel></rss>
