<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Krisis Ekonomi, Sri Lanka Tunda Bayar Utang</title><description>Sri Lanka tunda pembayaran utang hingga 2028 karena krisis ekonomi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/03/07/320/2980232/krisis-ekonomi-sri-lanka-tunda-bayar-utang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/03/07/320/2980232/krisis-ekonomi-sri-lanka-tunda-bayar-utang"/><item><title>Krisis Ekonomi, Sri Lanka Tunda Bayar Utang</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/03/07/320/2980232/krisis-ekonomi-sri-lanka-tunda-bayar-utang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/03/07/320/2980232/krisis-ekonomi-sri-lanka-tunda-bayar-utang</guid><pubDate>Kamis 07 Maret 2024 12:02 WIB</pubDate><dc:creator>Pika Piqhaniah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/07/320/2980232/krisis-ekonomi-sri-lanka-tunda-bayar-utang-k43fvDxyUO.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Sri Lanka tunda pembayaran utang (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/07/320/2980232/krisis-ekonomi-sri-lanka-tunda-bayar-utang-k43fvDxyUO.jpeg</image><title>Sri Lanka tunda pembayaran utang (Foto: Freepik)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8yOS8xLzE3Nzc2OC81L3g4dGs0OHE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Sri Lanka tunda pembayaran utang hingga 2028 karena krisis ekonomi. Presiden Sri Lanka mengatakan dia sedang mengupayakan moratorium pembayaran pinjaman hingga tahun 2028 sewaktu negara yang dililit utang itu berusaha keluar dari kebangkrutan.
Presiden Ranil Wickremesinghe mengatakan kepada Parlemen bahwa pemerintah meminta para pemberi pinjaman untuk menerima rencana penundaan pembayaran selama lima tahun dan kemudian membayar utangnya dari awal tahun 2028 hingga 2042.

BACA JUGA:
Pemerintah Diminta Cepat Buat Aturan Atasi Krisis Ekonomi


Sri Lanka menyatakan kebangkrutan pada bulan April 2022 dan menangguhkan pembayaran kembali pinjaman lokal dan luar negeri senilai USD83 miliar di tengah krisis valuta asing yang parah yang menyebabkan kekurangan kebutuhan pokok seperti makanan, obat-obatan, bahan bakar dan gas untuk memasak, serta pemadaman listrik selama berjam-jam.
&amp;ldquo;Tujuan kami adalah mendapatkan keringanan sementara dari gagal bayar utang dari tahun 2023 hingga 2027. Selanjutnya, kami berencana bekerja keras untuk melunasi pinjaman tersebut pada periode 2027 hingga 2042,&amp;rdquo; kata Wickremesinghe dilansir dari VOA, Kamis (7/3/2024).

BACA JUGA:
Sri Mulyani: Hadapi Krisis Ekonomi seperti Aduk Kopi


Pada tahun 2022, Sri Lanka harus membayar utang luar negerinya sekitar USD6 miliar setiap tahunnya, atau setara dengan 9,5% PDB. Pemerintah bertujuan untuk mengurangi pembayaran utang menjadi 4,5% PDB melalui negosiasi restrukturisasi utang, kata Wickremesinghe.
Meskipun indikator-indikator perekonomian membaik dan kelangkaan terburuk berhasil diatasi, masyarakat Sri Lanka telah kehilangan daya beli karena tingginya pajak dan devaluasi mata uang, sementara pengangguran masih tetap tinggi karena industri-industri yang sempat terpuruk pada puncak krisis belum bangkit kembali.
Tahun lalu, Wickremesinghe mengatakan kepada Parlemen bahwa dia meminta pengurangan pinjaman sebesar USD17 miliar.
Sri Lanka saat ini berada di bawah program dana talangan selama empat  tahun dari Dana Moneter Internasional (IMF), yang melalui lembaga itu  sebesar USD2,9 miliar akan dicairkan secara bertahap setelah dilakukan  tinjauan dua kali setahun.
Sri Lanka telah menerima dua pembayaran sejauh ini, setelah menerima  janji pengampunan utang dari para kreditor besar seperti India, Jepang  dan China. Pemerintah saat ini sedang berbicara dengan para kreditor  swasta untuk mencari kesepakatan akhir.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8yOS8xLzE3Nzc2OC81L3g4dGs0OHE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Sri Lanka tunda pembayaran utang hingga 2028 karena krisis ekonomi. Presiden Sri Lanka mengatakan dia sedang mengupayakan moratorium pembayaran pinjaman hingga tahun 2028 sewaktu negara yang dililit utang itu berusaha keluar dari kebangkrutan.
Presiden Ranil Wickremesinghe mengatakan kepada Parlemen bahwa pemerintah meminta para pemberi pinjaman untuk menerima rencana penundaan pembayaran selama lima tahun dan kemudian membayar utangnya dari awal tahun 2028 hingga 2042.

BACA JUGA:
Pemerintah Diminta Cepat Buat Aturan Atasi Krisis Ekonomi


Sri Lanka menyatakan kebangkrutan pada bulan April 2022 dan menangguhkan pembayaran kembali pinjaman lokal dan luar negeri senilai USD83 miliar di tengah krisis valuta asing yang parah yang menyebabkan kekurangan kebutuhan pokok seperti makanan, obat-obatan, bahan bakar dan gas untuk memasak, serta pemadaman listrik selama berjam-jam.
&amp;ldquo;Tujuan kami adalah mendapatkan keringanan sementara dari gagal bayar utang dari tahun 2023 hingga 2027. Selanjutnya, kami berencana bekerja keras untuk melunasi pinjaman tersebut pada periode 2027 hingga 2042,&amp;rdquo; kata Wickremesinghe dilansir dari VOA, Kamis (7/3/2024).

BACA JUGA:
Sri Mulyani: Hadapi Krisis Ekonomi seperti Aduk Kopi


Pada tahun 2022, Sri Lanka harus membayar utang luar negerinya sekitar USD6 miliar setiap tahunnya, atau setara dengan 9,5% PDB. Pemerintah bertujuan untuk mengurangi pembayaran utang menjadi 4,5% PDB melalui negosiasi restrukturisasi utang, kata Wickremesinghe.
Meskipun indikator-indikator perekonomian membaik dan kelangkaan terburuk berhasil diatasi, masyarakat Sri Lanka telah kehilangan daya beli karena tingginya pajak dan devaluasi mata uang, sementara pengangguran masih tetap tinggi karena industri-industri yang sempat terpuruk pada puncak krisis belum bangkit kembali.
Tahun lalu, Wickremesinghe mengatakan kepada Parlemen bahwa dia meminta pengurangan pinjaman sebesar USD17 miliar.
Sri Lanka saat ini berada di bawah program dana talangan selama empat  tahun dari Dana Moneter Internasional (IMF), yang melalui lembaga itu  sebesar USD2,9 miliar akan dicairkan secara bertahap setelah dilakukan  tinjauan dua kali setahun.
Sri Lanka telah menerima dua pembayaran sejauh ini, setelah menerima  janji pengampunan utang dari para kreditor besar seperti India, Jepang  dan China. Pemerintah saat ini sedang berbicara dengan para kreditor  swasta untuk mencari kesepakatan akhir.</content:encoded></item></channel></rss>
