<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Subsidi Gas Industri Dinilai Tak Mampu Ciptakan Produk yang Murah, Kok Bisa?</title><description>Subsidi gas industri dinilai tidak mampu menciptakan produk yang murah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/03/18/320/2984855/subsidi-gas-industri-dinilai-tak-mampu-ciptakan-produk-yang-murah-kok-bisa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/03/18/320/2984855/subsidi-gas-industri-dinilai-tak-mampu-ciptakan-produk-yang-murah-kok-bisa"/><item><title>Subsidi Gas Industri Dinilai Tak Mampu Ciptakan Produk yang Murah, Kok Bisa?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/03/18/320/2984855/subsidi-gas-industri-dinilai-tak-mampu-ciptakan-produk-yang-murah-kok-bisa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/03/18/320/2984855/subsidi-gas-industri-dinilai-tak-mampu-ciptakan-produk-yang-murah-kok-bisa</guid><pubDate>Senin 18 Maret 2024 16:39 WIB</pubDate><dc:creator>Pika Piqhaniah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/18/320/2984855/subsidi-gas-industri-dinilai-tak-mampu-ciptakan-produk-yang-murah-kok-bisa-J1CyJ6hT9i.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Program gas industri dinilai tidak efektif (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/18/320/2984855/subsidi-gas-industri-dinilai-tak-mampu-ciptakan-produk-yang-murah-kok-bisa-J1CyJ6hT9i.jpg</image><title>Program gas industri dinilai tidak efektif (Foto: Reuters)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8wMi8xLzE3NDU1MS81L3g4cTVqYmU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Subsidi gas industri dinilai tidak mampu menciptakan produk yang murah. Pasalnya, program subsidi harga gas bumi tertentu (HGBT) kepada sejumlah industri tidak efektif.
&amp;ldquo;Kebijakan HGBT ini seharusnya mampu menurunkan harga pokok produksi (HPP), tetapi dalam praktiknya tidak terjadi penurunan signifikan,&amp;rdquo; jelas Ekonom Universitas Brawijaya Candra Fajri Ananda, Senin (18/3/2024).

BACA JUGA:
Kenaikan Harga Gas USD1 Kerek Anggaran Pupuk Subsidi Rp2,6 Triliun


Menurutnya, meskipun harga eceran produk tidak berubah, namun HPP tidak turun. Itu sebabnya, ia menilai bahwa tantangan yang dihadapi oleh sektor industri bukan pada persoalan  gas, melainkan akibat kegiatan operasional perusahaan yang efisien.
&amp;ldquo;Kami mendeteksi bahwa sektor korporasi mungkin tidak beroperasi secara efisien yang mengakibatkan potensi kerugian yang signifikan. Korporasi juga perlu memastikan penggunaan gas meningkat, ketersediaan dan distribusi gas lancar, serta efisiensi dalam penyaluran,&amp;rdquo; ungkapnya.

BACA JUGA:
Negara Berpotensi Kehilangan Rp15,6 Triliun Gegara Harga Gas Murah


Dari 7 sektor industri yang mendapatkan subsidi HGBT, ia melanjutkan, industri pupuk paling memiliki multiplier effect. Oleh karenanya jika kebijakan ini dihentikan harga pupuk dipastikan akan  melambung.
&amp;ldquo;Sebaiknya program seperti ini harus lebih difokuskan ke industri yang berdampak pada hajat hidup orang banyak seperti pupuk,&amp;rdquo; sebut Candra.
Berdasarkan data pemerintah pada tahun 2022, komponen biaya gas dalam biaya produksi bervariasi. Paling tinggi adalah industri pupuk di mana komponen biaya gas mencapai 58,48%, kemudian kaca 24,84%, keramik 17,87%, oleochemical 8,96% dan petrokimia sekitar 7,72%. Adapun kontribusi biaya gas di industri baja sekitar 7,26% dan yang paling rendah industri sarung tangan sebesar 5,90%.
Sebelumnya Founder &amp;amp; Advisor Reforminer Institute, Lembaga Riset  Pertambangan dan Ekonomi Energi, Pri Agung Rahmanto mengatakan evaluasi  terhadap kebijakan harga gas bumi tertentu alias HGBT tidak akan  berdampak terhadap daya saing industri dalam negeri. Selain komponen gas  bumi kontribusinya rendah, daya saing sebuah industri dipengaruhi oleh  banyak aspek.
&amp;ldquo;Ada banyak faktor yang memengaruhi daya saing sebuah industri.   Seperti permintaan pasar, sumber daya, strategi industri dan juga  keterkaitannya dengan industri pendukung dalam mata rantai industri  tersebut. Harga gas hanya salah satu aspek dari sumberdaya, khususnya  aspek biaya,&amp;rdquo; imbuh Pri Agung.
Argumen Pri Agung tersebut sejalan dengan Purchasing Managers&amp;rsquo; Index&amp;trade;  (PMI) Manufaktur Indonesia yang diterbitkan oleh S&amp;amp;P Global. Dalam  rilisnya pada 1 Februari 2024, menyatakan bahwa sektor manufaktur  Indonesia berekspansi pada laju lebih cepat pada awal bulan tahun 2024.
S&amp;amp;P Global menyatakan bahwa pertumbuhan sektor manufaktur  mengalami percepatan, didukung oleh kenaikan lebih cepat pada permintaan  baru karena kondisi  permintaan secara keseluruhan membaik dan basis  pelanggan naik. Permintaan asing juga membaik, namun kecepatan  pertumbuhan permintaan ekspor masih marginal.
Hal ini mendorong kenaikan aktivitas pembelian dan persediaan  inventaris input, meski upaya perekrutan terbatas. Keseluruhan  kepercayaan diri bisnis bertahan positif, sementara tekanan inflasi  berkurang pada bulan Januari. PMI Manufaktur Indonesia  naik ke posisi  52,9 pada bulan Januari dari 52,2 pada bulan Desember 2023.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8wMi8xLzE3NDU1MS81L3g4cTVqYmU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Subsidi gas industri dinilai tidak mampu menciptakan produk yang murah. Pasalnya, program subsidi harga gas bumi tertentu (HGBT) kepada sejumlah industri tidak efektif.
&amp;ldquo;Kebijakan HGBT ini seharusnya mampu menurunkan harga pokok produksi (HPP), tetapi dalam praktiknya tidak terjadi penurunan signifikan,&amp;rdquo; jelas Ekonom Universitas Brawijaya Candra Fajri Ananda, Senin (18/3/2024).

BACA JUGA:
Kenaikan Harga Gas USD1 Kerek Anggaran Pupuk Subsidi Rp2,6 Triliun


Menurutnya, meskipun harga eceran produk tidak berubah, namun HPP tidak turun. Itu sebabnya, ia menilai bahwa tantangan yang dihadapi oleh sektor industri bukan pada persoalan  gas, melainkan akibat kegiatan operasional perusahaan yang efisien.
&amp;ldquo;Kami mendeteksi bahwa sektor korporasi mungkin tidak beroperasi secara efisien yang mengakibatkan potensi kerugian yang signifikan. Korporasi juga perlu memastikan penggunaan gas meningkat, ketersediaan dan distribusi gas lancar, serta efisiensi dalam penyaluran,&amp;rdquo; ungkapnya.

BACA JUGA:
Negara Berpotensi Kehilangan Rp15,6 Triliun Gegara Harga Gas Murah


Dari 7 sektor industri yang mendapatkan subsidi HGBT, ia melanjutkan, industri pupuk paling memiliki multiplier effect. Oleh karenanya jika kebijakan ini dihentikan harga pupuk dipastikan akan  melambung.
&amp;ldquo;Sebaiknya program seperti ini harus lebih difokuskan ke industri yang berdampak pada hajat hidup orang banyak seperti pupuk,&amp;rdquo; sebut Candra.
Berdasarkan data pemerintah pada tahun 2022, komponen biaya gas dalam biaya produksi bervariasi. Paling tinggi adalah industri pupuk di mana komponen biaya gas mencapai 58,48%, kemudian kaca 24,84%, keramik 17,87%, oleochemical 8,96% dan petrokimia sekitar 7,72%. Adapun kontribusi biaya gas di industri baja sekitar 7,26% dan yang paling rendah industri sarung tangan sebesar 5,90%.
Sebelumnya Founder &amp;amp; Advisor Reforminer Institute, Lembaga Riset  Pertambangan dan Ekonomi Energi, Pri Agung Rahmanto mengatakan evaluasi  terhadap kebijakan harga gas bumi tertentu alias HGBT tidak akan  berdampak terhadap daya saing industri dalam negeri. Selain komponen gas  bumi kontribusinya rendah, daya saing sebuah industri dipengaruhi oleh  banyak aspek.
&amp;ldquo;Ada banyak faktor yang memengaruhi daya saing sebuah industri.   Seperti permintaan pasar, sumber daya, strategi industri dan juga  keterkaitannya dengan industri pendukung dalam mata rantai industri  tersebut. Harga gas hanya salah satu aspek dari sumberdaya, khususnya  aspek biaya,&amp;rdquo; imbuh Pri Agung.
Argumen Pri Agung tersebut sejalan dengan Purchasing Managers&amp;rsquo; Index&amp;trade;  (PMI) Manufaktur Indonesia yang diterbitkan oleh S&amp;amp;P Global. Dalam  rilisnya pada 1 Februari 2024, menyatakan bahwa sektor manufaktur  Indonesia berekspansi pada laju lebih cepat pada awal bulan tahun 2024.
S&amp;amp;P Global menyatakan bahwa pertumbuhan sektor manufaktur  mengalami percepatan, didukung oleh kenaikan lebih cepat pada permintaan  baru karena kondisi  permintaan secara keseluruhan membaik dan basis  pelanggan naik. Permintaan asing juga membaik, namun kecepatan  pertumbuhan permintaan ekspor masih marginal.
Hal ini mendorong kenaikan aktivitas pembelian dan persediaan  inventaris input, meski upaya perekrutan terbatas. Keseluruhan  kepercayaan diri bisnis bertahan positif, sementara tekanan inflasi  berkurang pada bulan Januari. PMI Manufaktur Indonesia  naik ke posisi  52,9 pada bulan Januari dari 52,2 pada bulan Desember 2023.</content:encoded></item></channel></rss>
