<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Waspadai Inflasi Lebaran Imbas Kenaikan Harga Pangan</title><description>Bank Indonesia mewaspadai inflasi Lebaran imbas kenaikan harga pangan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/03/27/320/2988888/bi-waspadai-inflasi-lebaran-imbas-kenaikan-harga-pangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/03/27/320/2988888/bi-waspadai-inflasi-lebaran-imbas-kenaikan-harga-pangan"/><item><title>BI Waspadai Inflasi Lebaran Imbas Kenaikan Harga Pangan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/03/27/320/2988888/bi-waspadai-inflasi-lebaran-imbas-kenaikan-harga-pangan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/03/27/320/2988888/bi-waspadai-inflasi-lebaran-imbas-kenaikan-harga-pangan</guid><pubDate>Rabu 27 Maret 2024 12:12 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/27/320/2988888/bi-waspadai-inflasi-lebaran-imbas-kenaikan-harga-pangan-7utmNHtSRj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">BI waspadai inflasi Lebaran (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/27/320/2988888/bi-waspadai-inflasi-lebaran-imbas-kenaikan-harga-pangan-7utmNHtSRj.jpg</image><title>BI waspadai inflasi Lebaran (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMy8xOS80LzE3ODUyNy81L3g4dXZxcWM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Bank Indonesia mewaspadai inflasi Lebaran imbas kenaikan harga pangan. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Doni Primanto Joewono mengatakan menjelang perayaan idul fitri harga bahan pangan berpotensi mengalami kenaikan. Hal itu disebabkan oleh faktor permintaan masyarakat.
&quot;Selama HKBN ramadhan dan idul fitri terdapat potensi peningkatan harga pangan seiring meningkatnya permintaan masyarakat, kita berharap inflasi HKBN bisa terkendali,&quot; ujar Doni dalam sambutannya pada acara Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Wilayah Kalimantan secara virtual, Rabu (27/3/2024).

BACA JUGA:
Wall Street Turun, Investor Fokus ke Data Inflasi AS 


Doni menjelaskan beberapa tantangan perlu diantisipasi dalam rangka pengendalian inflasi pangan. Seperti dari sisi pasokan, distribusi, hingga faktor cuaca yang menjadi penyebab adanya inflasi pangan.
Pada tahun ini, Doni juga mengatakan pemerintah akan lebih berfokus untuk menjaga stok dan ketersediaan beberapa komoditas pangan strategis. Misalnya beras, cabai, bawang merah, yang menjadi bahan baku utama pada sebuah masakan.

BACA JUGA:
Perdagangan Cuma 4 Hari, IHSG Pekan Ini Dipengaruhi Sentimen Inflasi


&quot;Serta komoditas lainnya yang sesuai dengan karakteristik dan kondisi di masing masing wilayah,&quot; lanjutnya.
Dalam rangka menjaga inflasi pangan yang mengancam menjelang idul fitri, BI berkomitmen untuk melakukan stabilisasi harga jangka pendek dengan melakukan intervensi pasar. Menghadirkan pasar murah, agar hukum permintaan dan penawaran di pasar menjadi seimbang dan harga bisa stabil.
&quot;GNPIP tahun 2024 juga tetap memperkuat komitmen untuk melakukan  quick win atau stabilisasi harga jangka pendek di pasar,&quot; lanjutnya.
Selain faktor permintaan, inflasi pangan menjelang idul fitri juga  berpotensi disebabkan oleh faktor cuaca dan perubahan iklim. El Nino  yang melanda akhir tahun lalu membuat keterlambatan musim tanam, dan  akhirnya berdampak pada keterlambatan musim panen.
Sehingga ketika musim panen terlambat, otomatis stok beras berkurang,  disatu sisi ada permintaan bulanan yang jumlahnya tetap bahkan lebih  banyak. Fenomena inilah yang membuat kondisi harga beras di pasar  menjadi lebih mahal, terutama menjelang idul fitri.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMy8xOS80LzE3ODUyNy81L3g4dXZxcWM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Bank Indonesia mewaspadai inflasi Lebaran imbas kenaikan harga pangan. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Doni Primanto Joewono mengatakan menjelang perayaan idul fitri harga bahan pangan berpotensi mengalami kenaikan. Hal itu disebabkan oleh faktor permintaan masyarakat.
&quot;Selama HKBN ramadhan dan idul fitri terdapat potensi peningkatan harga pangan seiring meningkatnya permintaan masyarakat, kita berharap inflasi HKBN bisa terkendali,&quot; ujar Doni dalam sambutannya pada acara Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Wilayah Kalimantan secara virtual, Rabu (27/3/2024).

BACA JUGA:
Wall Street Turun, Investor Fokus ke Data Inflasi AS 


Doni menjelaskan beberapa tantangan perlu diantisipasi dalam rangka pengendalian inflasi pangan. Seperti dari sisi pasokan, distribusi, hingga faktor cuaca yang menjadi penyebab adanya inflasi pangan.
Pada tahun ini, Doni juga mengatakan pemerintah akan lebih berfokus untuk menjaga stok dan ketersediaan beberapa komoditas pangan strategis. Misalnya beras, cabai, bawang merah, yang menjadi bahan baku utama pada sebuah masakan.

BACA JUGA:
Perdagangan Cuma 4 Hari, IHSG Pekan Ini Dipengaruhi Sentimen Inflasi


&quot;Serta komoditas lainnya yang sesuai dengan karakteristik dan kondisi di masing masing wilayah,&quot; lanjutnya.
Dalam rangka menjaga inflasi pangan yang mengancam menjelang idul fitri, BI berkomitmen untuk melakukan stabilisasi harga jangka pendek dengan melakukan intervensi pasar. Menghadirkan pasar murah, agar hukum permintaan dan penawaran di pasar menjadi seimbang dan harga bisa stabil.
&quot;GNPIP tahun 2024 juga tetap memperkuat komitmen untuk melakukan  quick win atau stabilisasi harga jangka pendek di pasar,&quot; lanjutnya.
Selain faktor permintaan, inflasi pangan menjelang idul fitri juga  berpotensi disebabkan oleh faktor cuaca dan perubahan iklim. El Nino  yang melanda akhir tahun lalu membuat keterlambatan musim tanam, dan  akhirnya berdampak pada keterlambatan musim panen.
Sehingga ketika musim panen terlambat, otomatis stok beras berkurang,  disatu sisi ada permintaan bulanan yang jumlahnya tetap bahkan lebih  banyak. Fenomena inilah yang membuat kondisi harga beras di pasar  menjadi lebih mahal, terutama menjelang idul fitri.</content:encoded></item></channel></rss>
