<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Minyak Mentah RI Bisa Tembus USD100 per Barel Usai Iran Serang Israel</title><description>Tutuka Ariadji mengakui harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi menyentuh angka USD100 per barel</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/04/15/320/2996168/harga-minyak-mentah-ri-bisa-tembus-usd100-per-barel-usai-iran-serang-israel</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/04/15/320/2996168/harga-minyak-mentah-ri-bisa-tembus-usd100-per-barel-usai-iran-serang-israel"/><item><title>Harga Minyak Mentah RI Bisa Tembus USD100 per Barel Usai Iran Serang Israel</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/04/15/320/2996168/harga-minyak-mentah-ri-bisa-tembus-usd100-per-barel-usai-iran-serang-israel</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/04/15/320/2996168/harga-minyak-mentah-ri-bisa-tembus-usd100-per-barel-usai-iran-serang-israel</guid><pubDate>Senin 15 April 2024 15:15 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/04/15/320/2996168/harga-minyak-mentah-ri-bisa-tembus-usd100-per-barel-usai-iran-serang-israel-bUPgDnEKuZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga Minyak Dunia (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/04/15/320/2996168/harga-minyak-mentah-ri-bisa-tembus-usd100-per-barel-usai-iran-serang-israel-bUPgDnEKuZ.jpg</image><title>Harga Minyak Dunia (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNC8xNS8xLzE3OTYzMS81L3g4d3RwOGE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tutuka Ariadji mengakui harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi menyentuh angka USD100 per barel Pasca serangan Iran ke Israel.
Sebab lanjut dia, sebelum konflik antarkedua negara Timur Tengah itu pecah, yakni pada Februari 2024 lalu, harga minyak mentah sudah menunjukkan tren kenaikan kurang lebih USD5 per barel setiap bulannya.

BACA JUGA:
Viral! Beredar Video Dirut ASDP Joget saat Pemudik Protes Antrean di Pelabuhan Bakauheni

&quot;Jadi dengan adanya konflik baru Iran dengan Israel, ini sebetulnya tidak jauh dari angka USD100 per barel,&quot; jelas Tutuka dalam sebuah webinar yang disaksikan secara virtual, Senin (15/4/2024).

BACA JUGA:
Rupiah Diprediksi Tembus Level Rp17.000 per USD Efek Perang Iran vs Israel

Kendati demikian Tutuka menilai, terkait dampak perang terhadap harga minyak ini akan berkelanjutan atau tidak, pemerintah masih menunggu reaksi dari Israel dan Amerika yang hingga kini memang belum mengeluarkan tanggapan apapun terhadap serangan tersebut.&quot;Saya katakan tadi sependapat kemungkinan besar harga ICP naik USD100. Tapi apakah berkelanjutan atau spike berhenti? saya cenderung menunggu apa reaksi dari Israel dan Amerika terhadap konflik tersebut, jadi masih diskusi. Kemungkinan bisa lebih cenderung untuk spike dalam waktu yang tidak lama,&quot; terang Tutuka.
Tutuka mengungkapkan, hal inilah yang dipantau oleh pihaknya dalam 40 bulan ke belakang, termasuk mengenai berbagai parameter seperti kurs, ICP (Indonesian Crude Oil Price) atau harga patokan minyak mentah Indonesia, serta faktor-faktor lainnya.
&quot;Kalau kita soroti ICP dari bulan Februari sebetulnya dari Maret April naik terus. Kenaikan kurang lebih USD5 per bulan, keduanya ini sangat tidak menguntungkan kalau ditotal pengaruhnya ke Indonesia,&quot; tukas Tutuka.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNC8xNS8xLzE3OTYzMS81L3g4d3RwOGE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tutuka Ariadji mengakui harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi menyentuh angka USD100 per barel Pasca serangan Iran ke Israel.
Sebab lanjut dia, sebelum konflik antarkedua negara Timur Tengah itu pecah, yakni pada Februari 2024 lalu, harga minyak mentah sudah menunjukkan tren kenaikan kurang lebih USD5 per barel setiap bulannya.

BACA JUGA:
Viral! Beredar Video Dirut ASDP Joget saat Pemudik Protes Antrean di Pelabuhan Bakauheni

&quot;Jadi dengan adanya konflik baru Iran dengan Israel, ini sebetulnya tidak jauh dari angka USD100 per barel,&quot; jelas Tutuka dalam sebuah webinar yang disaksikan secara virtual, Senin (15/4/2024).

BACA JUGA:
Rupiah Diprediksi Tembus Level Rp17.000 per USD Efek Perang Iran vs Israel

Kendati demikian Tutuka menilai, terkait dampak perang terhadap harga minyak ini akan berkelanjutan atau tidak, pemerintah masih menunggu reaksi dari Israel dan Amerika yang hingga kini memang belum mengeluarkan tanggapan apapun terhadap serangan tersebut.&quot;Saya katakan tadi sependapat kemungkinan besar harga ICP naik USD100. Tapi apakah berkelanjutan atau spike berhenti? saya cenderung menunggu apa reaksi dari Israel dan Amerika terhadap konflik tersebut, jadi masih diskusi. Kemungkinan bisa lebih cenderung untuk spike dalam waktu yang tidak lama,&quot; terang Tutuka.
Tutuka mengungkapkan, hal inilah yang dipantau oleh pihaknya dalam 40 bulan ke belakang, termasuk mengenai berbagai parameter seperti kurs, ICP (Indonesian Crude Oil Price) atau harga patokan minyak mentah Indonesia, serta faktor-faktor lainnya.
&quot;Kalau kita soroti ICP dari bulan Februari sebetulnya dari Maret April naik terus. Kenaikan kurang lebih USD5 per bulan, keduanya ini sangat tidak menguntungkan kalau ditotal pengaruhnya ke Indonesia,&quot; tukas Tutuka.</content:encoded></item></channel></rss>
