<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ditahan Bea Cukai sejak 2022, SLB Pastikan Alat Belajar Tunanetra dari Korsel Masih Berfungsi</title><description>Pihak SLB memastikan 20 unit alat bantu pembelajaran bagi para  siswa-siswi tunanetra dari OHFA Tech Korea Selatan masih bisa  berfungsi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/04/29/320/3002189/ditahan-bea-cukai-sejak-2022-slb-pastikan-alat-belajar-tunanetra-dari-korsel-masih-berfungsi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/04/29/320/3002189/ditahan-bea-cukai-sejak-2022-slb-pastikan-alat-belajar-tunanetra-dari-korsel-masih-berfungsi"/><item><title>Ditahan Bea Cukai sejak 2022, SLB Pastikan Alat Belajar Tunanetra dari Korsel Masih Berfungsi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/04/29/320/3002189/ditahan-bea-cukai-sejak-2022-slb-pastikan-alat-belajar-tunanetra-dari-korsel-masih-berfungsi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/04/29/320/3002189/ditahan-bea-cukai-sejak-2022-slb-pastikan-alat-belajar-tunanetra-dari-korsel-masih-berfungsi</guid><pubDate>Senin 29 April 2024 17:21 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/04/29/320/3002189/ditahan-bea-cukai-sejak-2022-slb-pastikan-alat-belajar-tunanetra-dari-korsel-masih-berfungsi-ouAyC5Gd5T.jpg" expression="full" type="image/jpeg">SLB pastikan alat bantu yang ditahan bea cukai masih berfungsi (Foto: MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/04/29/320/3002189/ditahan-bea-cukai-sejak-2022-slb-pastikan-alat-belajar-tunanetra-dari-korsel-masih-berfungsi-ouAyC5Gd5T.jpg</image><title>SLB pastikan alat bantu yang ditahan bea cukai masih berfungsi (Foto: MPI)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNC8yOS8xLzE4MDExMS81L3g4eG1rdm0=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
TANGERANG &amp;ndash; Pihak SLB memastikan 20 unit alat bantu pembelajaran bagi para siswa-siswi tunanetra dari OHFA Tech Korea Selatan (Korsel) masih bisa berfungsi. Meskipun alat bantuan belajar ini sempat ditahan sejak Desember 2022 oleh Bea Cukai Soetta.

BACA JUGA:
Viral Dihujat Netizen, Anak Buah Sri Mulyani: Bea Cukai Bukan Keranjang Sampah!


&quot;Masih baik-baik aja, (tertahan) 1 tahun 4 bulanan,&quot; ujar Kepala SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta Dede Kurniasih, Senin (29/4/2024).
Dede mewakili SLB-A Pembina Tingkat Nasional mengucapkan terima kasih atas bantuan keyboard yang diberikan itu sehingga bisa dipergunakan. Apalagi katanya, alat ini belum ada di Indonesia.

BACA JUGA:
Ditahan Bea Cukai sejak 2022, Akhirnya Alat Belajar SLB Diserahkan


&quot;Sebetulnya suatu kebanggaan untuk kami karena memang alat ini dibutuhkan buat peserta didik tunanetra, karena ini ada bunyinya, karena mereka kan menggunakan pendengaran. Jadi saat ini sangat dibutuhkan dan bahkan sangat ditunggu-tunggu anak-anak yang kemarin sudah uji coba,&quot; terangnya.
Dede juga berharap, alat ini bisa membuat para siswa-siswi tunanetra belajar lebih maksimal.
&quot;Jadi Alhamdulillah, senang sekali alat ini bisa kami terima.  Mudah-mudahan alat ini membantu pembelajaran dan pendidikan khususnya  tunanetra bisa belajar lebih maksimal,&quot; imbuhnya.
Dede menambahkan, pihaknya juga meminta maaf atas kegaduhan yang  muncul tentang tagihan ratusan juta dari Bea Cukai yang sebelumnya viral  di media sosial X (dulunya twitter).
Diakuinya, tagihan ratusan juta itu muncul akibat ketidaktahuan pihaknya tentang prosedur barang hibah impor.
&quot;Permohonan maaf dari kami atas ketidaktahuan dan kekurangan wawasan  terkait bagaimana prosedur barang hibah importir sehingga menyebabkan  miskomunikasi. Permohonan maaf juga atas kegaduhan media yang selama ini  kita ketahui,&quot; pungkas Dede.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNC8yOS8xLzE4MDExMS81L3g4eG1rdm0=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
TANGERANG &amp;ndash; Pihak SLB memastikan 20 unit alat bantu pembelajaran bagi para siswa-siswi tunanetra dari OHFA Tech Korea Selatan (Korsel) masih bisa berfungsi. Meskipun alat bantuan belajar ini sempat ditahan sejak Desember 2022 oleh Bea Cukai Soetta.

BACA JUGA:
Viral Dihujat Netizen, Anak Buah Sri Mulyani: Bea Cukai Bukan Keranjang Sampah!


&quot;Masih baik-baik aja, (tertahan) 1 tahun 4 bulanan,&quot; ujar Kepala SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta Dede Kurniasih, Senin (29/4/2024).
Dede mewakili SLB-A Pembina Tingkat Nasional mengucapkan terima kasih atas bantuan keyboard yang diberikan itu sehingga bisa dipergunakan. Apalagi katanya, alat ini belum ada di Indonesia.

BACA JUGA:
Ditahan Bea Cukai sejak 2022, Akhirnya Alat Belajar SLB Diserahkan


&quot;Sebetulnya suatu kebanggaan untuk kami karena memang alat ini dibutuhkan buat peserta didik tunanetra, karena ini ada bunyinya, karena mereka kan menggunakan pendengaran. Jadi saat ini sangat dibutuhkan dan bahkan sangat ditunggu-tunggu anak-anak yang kemarin sudah uji coba,&quot; terangnya.
Dede juga berharap, alat ini bisa membuat para siswa-siswi tunanetra belajar lebih maksimal.
&quot;Jadi Alhamdulillah, senang sekali alat ini bisa kami terima.  Mudah-mudahan alat ini membantu pembelajaran dan pendidikan khususnya  tunanetra bisa belajar lebih maksimal,&quot; imbuhnya.
Dede menambahkan, pihaknya juga meminta maaf atas kegaduhan yang  muncul tentang tagihan ratusan juta dari Bea Cukai yang sebelumnya viral  di media sosial X (dulunya twitter).
Diakuinya, tagihan ratusan juta itu muncul akibat ketidaktahuan pihaknya tentang prosedur barang hibah impor.
&quot;Permohonan maaf dari kami atas ketidaktahuan dan kekurangan wawasan  terkait bagaimana prosedur barang hibah importir sehingga menyebabkan  miskomunikasi. Permohonan maaf juga atas kegaduhan media yang selama ini  kita ketahui,&quot; pungkas Dede.</content:encoded></item></channel></rss>
