<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Industri Petrokimia Sepakat Atasi Masalah Sampah Plastik di RI</title><description>Industri Petrokimia sepakat memberantas masalah sampah plastik di Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/04/30/320/3002699/industri-petrokimia-sepakat-atasi-masalah-sampah-plastik-di-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/04/30/320/3002699/industri-petrokimia-sepakat-atasi-masalah-sampah-plastik-di-ri"/><item><title>Industri Petrokimia Sepakat Atasi Masalah Sampah Plastik di RI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/04/30/320/3002699/industri-petrokimia-sepakat-atasi-masalah-sampah-plastik-di-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/04/30/320/3002699/industri-petrokimia-sepakat-atasi-masalah-sampah-plastik-di-ri</guid><pubDate>Selasa 30 April 2024 18:03 WIB</pubDate><dc:creator>Farida Syifa Anandita</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/04/30/320/3002699/industri-petrokimia-sepakat-atasi-masalah-sampah-plastik-di-ri-XVnpQ5I8kD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Komitmen Inaplas berantas masalah sampah plastik (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/04/30/320/3002699/industri-petrokimia-sepakat-atasi-masalah-sampah-plastik-di-ri-XVnpQ5I8kD.jpg</image><title>Komitmen Inaplas berantas masalah sampah plastik (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNC8zMC8xLzE4MDE1OS81L3g4eG9zeDA=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Industri Petrokimia sepakat memberantas masalah sampah plastik di Indonesia. Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mendukung upaya Pemerintah Indonesia dalam mengatasi polusi sampah plastik agar dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Wakil Ketua Inaplas Edi Riva&amp;rsquo;i, menjelaskan bahwa Inaplas turut serta menegaskan kembali komitmen asosiasi dalam membantu Pemerintah Indonesia mengatasi pengelolaan sampah plastik masih dibutuhkan penyelesaian menyeluruh.

BACA JUGA:
Berbicara di INC-4 Kanada, Pemerintah Dorong Penjanjian Internasional soal Sampah Plastik


&amp;ldquo;Inaplas berkomitmen untuk bersama-sama dengan seluruh industri petrokimia di tanah air dalam menyelesaikan permasalahan sampah plastik di Indonesia.  Karenanya, kami akan terus berkolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengatasi permasalahan ini dan memberikan solusi inovatif,&amp;rdquo; ujar Edi Riva&amp;rsquo;I, Selasa (30/4/2024).
Sejalan dengan komitmen tersebut INAPLAS hadir dalam pertemuan &amp;ldquo;The Fourth Session of the Intergovernmental Negotiating Committee to Develop an International Legally Binding Instrument (ILBI) on Plastic Pollution, Including in the Marine Environment (INC-4)&amp;rdquo; pada tanggal 23 &amp;ndash; 29 April 2024 di Ottawa, Kanada.

BACA JUGA:
Kurangi Sampah Plastik, Ribuan Ibu-Ibu Diberdayakan Produksi Kantong Kertas Ramah Lingkungan


Pada forum INC-4 yang diselenggarakan oleh United Nation Environment Program (UNEP) dan dihadiri perwakilan dari berbagai negara.
Edi melanjutkan bahwa upaya mengatasi polusi sampah plastik perlu dilakukan dengan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, yang salah satunya dilakukan melalui investasi sektor petrokimia dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor.
Data Inaplas menunjukkan Indonesia masih bergantung pada produk impor  untuk memenuhi kebutuhan plastik dalam negeri dengan nilai mencapai  USD11 miliar per tahun. Melalui anggotanya, Inaplas juga tengah  melakukan pengembangan industri petrokimia dengan nilai mencapai USD 18  miliar untuk melepas ketergantungan terhadap produk impor.
Industri Petrokimia sendiri memiliki potensi dan kekuatan pasar yang  besar dalam kemajuan perekonomian Indonesia. Keberadaan industri  petrokimia serta industri logam dan baja sering kali dijadikan sebuah  benchmark bagi tingkat kemajuan suatu negara karena merupakan basis atau  penopang bagi ragam industri manufaktur.
Keberadaan industri petrokimia merupakan salah satu pilar industri  nasional yang perlu dikembangkan melalui penguatan struktur dari hulu  (upstream) hingga produk hilir (consumer goods) untuk memenuhi kebutuhan  domestik berupa pangan, sandang, dan papan.
&amp;ldquo;Melalui agenda INC-4 ini, Inaplas berharap Indonesia dapat mengelola  permasalahan sampah nasional dan tetap sejalan dengan peningkatan  ekonomi nasional melalui pertumbuhan investasi pada industri  petrokimia,&amp;rdquo; ujar Edi Rivai.
Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PSLB3) KLHK,  Rosa Vivien Ratnawati, dalam perannya sebagai perwakilan Coordinating  Body on the Seas of East Asia (COBSEA) pada INC-4 menyampaikan,  &amp;ldquo;Pemerintah RI mendukung penuh terbentuknya perjanjian internasional  tersebut sebagai salah satu wujud dukungan internasional dalam  menyelesaikan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh polusi  plastik. Pemerintah juga mendukung implementasi ekonomi sirkular dalam  produksi plastik, pendaurulangan plastik, dan penciptaan industri  plastik yang ramah lingkungan.&amp;rdquo;
Dalam hal penerapan ekonomi sirkular, Industri Petrokimia di  Indonesia telah menciptakan ragam inovasi pengelolaan sampah plastik,  seperti mengubah sampah plastik menjadi minyak priolisis, campuran  paving blok, campuran aspal, hingga menjadi bahan baku untuk  Refuse-Derived Fuel (RDF). Hal ini menjadi sebuah upaya nyata industri  untuk menciptakan keberlanjutan lingkungan.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNC8zMC8xLzE4MDE1OS81L3g4eG9zeDA=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Industri Petrokimia sepakat memberantas masalah sampah plastik di Indonesia. Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mendukung upaya Pemerintah Indonesia dalam mengatasi polusi sampah plastik agar dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Wakil Ketua Inaplas Edi Riva&amp;rsquo;i, menjelaskan bahwa Inaplas turut serta menegaskan kembali komitmen asosiasi dalam membantu Pemerintah Indonesia mengatasi pengelolaan sampah plastik masih dibutuhkan penyelesaian menyeluruh.

BACA JUGA:
Berbicara di INC-4 Kanada, Pemerintah Dorong Penjanjian Internasional soal Sampah Plastik


&amp;ldquo;Inaplas berkomitmen untuk bersama-sama dengan seluruh industri petrokimia di tanah air dalam menyelesaikan permasalahan sampah plastik di Indonesia.  Karenanya, kami akan terus berkolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengatasi permasalahan ini dan memberikan solusi inovatif,&amp;rdquo; ujar Edi Riva&amp;rsquo;I, Selasa (30/4/2024).
Sejalan dengan komitmen tersebut INAPLAS hadir dalam pertemuan &amp;ldquo;The Fourth Session of the Intergovernmental Negotiating Committee to Develop an International Legally Binding Instrument (ILBI) on Plastic Pollution, Including in the Marine Environment (INC-4)&amp;rdquo; pada tanggal 23 &amp;ndash; 29 April 2024 di Ottawa, Kanada.

BACA JUGA:
Kurangi Sampah Plastik, Ribuan Ibu-Ibu Diberdayakan Produksi Kantong Kertas Ramah Lingkungan


Pada forum INC-4 yang diselenggarakan oleh United Nation Environment Program (UNEP) dan dihadiri perwakilan dari berbagai negara.
Edi melanjutkan bahwa upaya mengatasi polusi sampah plastik perlu dilakukan dengan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, yang salah satunya dilakukan melalui investasi sektor petrokimia dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor.
Data Inaplas menunjukkan Indonesia masih bergantung pada produk impor  untuk memenuhi kebutuhan plastik dalam negeri dengan nilai mencapai  USD11 miliar per tahun. Melalui anggotanya, Inaplas juga tengah  melakukan pengembangan industri petrokimia dengan nilai mencapai USD 18  miliar untuk melepas ketergantungan terhadap produk impor.
Industri Petrokimia sendiri memiliki potensi dan kekuatan pasar yang  besar dalam kemajuan perekonomian Indonesia. Keberadaan industri  petrokimia serta industri logam dan baja sering kali dijadikan sebuah  benchmark bagi tingkat kemajuan suatu negara karena merupakan basis atau  penopang bagi ragam industri manufaktur.
Keberadaan industri petrokimia merupakan salah satu pilar industri  nasional yang perlu dikembangkan melalui penguatan struktur dari hulu  (upstream) hingga produk hilir (consumer goods) untuk memenuhi kebutuhan  domestik berupa pangan, sandang, dan papan.
&amp;ldquo;Melalui agenda INC-4 ini, Inaplas berharap Indonesia dapat mengelola  permasalahan sampah nasional dan tetap sejalan dengan peningkatan  ekonomi nasional melalui pertumbuhan investasi pada industri  petrokimia,&amp;rdquo; ujar Edi Rivai.
Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PSLB3) KLHK,  Rosa Vivien Ratnawati, dalam perannya sebagai perwakilan Coordinating  Body on the Seas of East Asia (COBSEA) pada INC-4 menyampaikan,  &amp;ldquo;Pemerintah RI mendukung penuh terbentuknya perjanjian internasional  tersebut sebagai salah satu wujud dukungan internasional dalam  menyelesaikan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh polusi  plastik. Pemerintah juga mendukung implementasi ekonomi sirkular dalam  produksi plastik, pendaurulangan plastik, dan penciptaan industri  plastik yang ramah lingkungan.&amp;rdquo;
Dalam hal penerapan ekonomi sirkular, Industri Petrokimia di  Indonesia telah menciptakan ragam inovasi pengelolaan sampah plastik,  seperti mengubah sampah plastik menjadi minyak priolisis, campuran  paving blok, campuran aspal, hingga menjadi bahan baku untuk  Refuse-Derived Fuel (RDF). Hal ini menjadi sebuah upaya nyata industri  untuk menciptakan keberlanjutan lingkungan.</content:encoded></item></channel></rss>
