<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Gabah Turun, Kenapa Beras Masih Mahal?</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani turun 15,58%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/02/320/3003538/harga-gabah-turun-kenapa-beras-masih-mahal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/05/02/320/3003538/harga-gabah-turun-kenapa-beras-masih-mahal"/><item><title>Harga Gabah Turun, Kenapa Beras Masih Mahal?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/02/320/3003538/harga-gabah-turun-kenapa-beras-masih-mahal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/05/02/320/3003538/harga-gabah-turun-kenapa-beras-masih-mahal</guid><pubDate>Kamis 02 Mei 2024 15:40 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/05/02/320/3003538/harga-gabah-turun-kenapa-beras-masih-mahal-l9Ut0emYDP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penyebab harga beras belum turun (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/05/02/320/3003538/harga-gabah-turun-kenapa-beras-masih-mahal-l9Ut0emYDP.jpg</image><title>Penyebab harga beras belum turun (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMy8yNC80LzE3ODc1MS81L3g4dmp5M3U=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani turun 15,58%. Sementara harga gabah di tingkat penggilingan turun 15,20% pada April 2024.
Namun, penurunan harga gabah ini belum sepenuhnya diikuti oleh harga beras. Jika dibandingkan April 2023 (yoy), rata-rata harga beras di penggilingan pada April 2024 untuk kualitas premium, medium, submedium, dan pecah masing-masing mengalami kenaikan sebesar 15,76%, 15,47%, 15,12%; dan 27,87%.

BACA JUGA:
Memasuki Musim Panen, Harga Gabah dan Beras di Berbagai Wilayah Mulai Turun


Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti pun menjelaskan penyebab harga beras di beberapa daerah masih mahal dan mengalami inflasi secara month-to-month (mtm). Katanya, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hal tersebut salah satunya pola konsumsi yang variatif.
Di setiap daerah, lanjut Amalia, memiliki pola tanam dan panen padi yang bervariasi, juga dibarengi dengan pola konsumsi yang berbeda. Pola konsumsi ini tidak selalu mengacu pada nasi.

BACA JUGA:
Panen Raya Melimpah, Petani Minta Pemerintah Jaga Harga Gabah Tetap Stabil


&quot;Pola konsumsi yang variatif di antar wilayah, selain itu pola tanam dan panen pandi juga bervariasi, ini yang sebabkan perbedaan struktur permintaan beras. (Jadi) meskipun secara nasional terjadi panen raya, tapi tidak semua alami turun beras,&quot; ujarnya saat konferensi per hari ini, Kamis (2/5/2024).
Amalia menambahkan, faktor lainnya yaitu karena preverensi terhadap beras lokal yang mempengaruhi kepada pembentukan harga beras.
Dia mencontohkan, beras lokal varietas Solok yang dikonsumsi Suku  Minang di Riau dan sebagainya cenderung memiliki karakteristik sendiri  di mana pasokan dari luar wilayah tidak serta merta mampu menekan harga  beras lokal.
Berbeda dengan daerah Riau, terdapat wilayah yang bukan sentra  produksi beras di Maluku dan Papua, kenaikan harga beras didorong oleh  faktor pasokan dan juga faktor distribusi.
&quot;Selain dipengaruhi oleh harga gabah, harga beras di penggilingan  juga dipengaruhi oleh ongkos produksi seperti penjemuran. Kondisi ini  yang biasanya terkendala karena cuaca, berpengaruh ke upah buruh, hingga  biaya produksi lainnya,&quot; tutup Amalia.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMy8yNC80LzE3ODc1MS81L3g4dmp5M3U=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani turun 15,58%. Sementara harga gabah di tingkat penggilingan turun 15,20% pada April 2024.
Namun, penurunan harga gabah ini belum sepenuhnya diikuti oleh harga beras. Jika dibandingkan April 2023 (yoy), rata-rata harga beras di penggilingan pada April 2024 untuk kualitas premium, medium, submedium, dan pecah masing-masing mengalami kenaikan sebesar 15,76%, 15,47%, 15,12%; dan 27,87%.

BACA JUGA:
Memasuki Musim Panen, Harga Gabah dan Beras di Berbagai Wilayah Mulai Turun


Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti pun menjelaskan penyebab harga beras di beberapa daerah masih mahal dan mengalami inflasi secara month-to-month (mtm). Katanya, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hal tersebut salah satunya pola konsumsi yang variatif.
Di setiap daerah, lanjut Amalia, memiliki pola tanam dan panen padi yang bervariasi, juga dibarengi dengan pola konsumsi yang berbeda. Pola konsumsi ini tidak selalu mengacu pada nasi.

BACA JUGA:
Panen Raya Melimpah, Petani Minta Pemerintah Jaga Harga Gabah Tetap Stabil


&quot;Pola konsumsi yang variatif di antar wilayah, selain itu pola tanam dan panen pandi juga bervariasi, ini yang sebabkan perbedaan struktur permintaan beras. (Jadi) meskipun secara nasional terjadi panen raya, tapi tidak semua alami turun beras,&quot; ujarnya saat konferensi per hari ini, Kamis (2/5/2024).
Amalia menambahkan, faktor lainnya yaitu karena preverensi terhadap beras lokal yang mempengaruhi kepada pembentukan harga beras.
Dia mencontohkan, beras lokal varietas Solok yang dikonsumsi Suku  Minang di Riau dan sebagainya cenderung memiliki karakteristik sendiri  di mana pasokan dari luar wilayah tidak serta merta mampu menekan harga  beras lokal.
Berbeda dengan daerah Riau, terdapat wilayah yang bukan sentra  produksi beras di Maluku dan Papua, kenaikan harga beras didorong oleh  faktor pasokan dan juga faktor distribusi.
&quot;Selain dipengaruhi oleh harga gabah, harga beras di penggilingan  juga dipengaruhi oleh ongkos produksi seperti penjemuran. Kondisi ini  yang biasanya terkendala karena cuaca, berpengaruh ke upah buruh, hingga  biaya produksi lainnya,&quot; tutup Amalia.</content:encoded></item></channel></rss>
