<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Pangan di RI Tak Stabil, Apa Penyebabnya?</title><description>Harga pangan di Indonesia tidak stabil. Hal ini pun diakui Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/10/320/3006783/harga-pangan-di-ri-tak-stabil-apa-penyebabnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/05/10/320/3006783/harga-pangan-di-ri-tak-stabil-apa-penyebabnya"/><item><title>Harga Pangan di RI Tak Stabil, Apa Penyebabnya?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/10/320/3006783/harga-pangan-di-ri-tak-stabil-apa-penyebabnya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/05/10/320/3006783/harga-pangan-di-ri-tak-stabil-apa-penyebabnya</guid><pubDate>Jum'at 10 Mei 2024 14:18 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/05/10/320/3006783/harga-pangan-di-ri-tak-stabil-apa-penyebabnya-hsc8MdOow5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penyebab harga pangan tidak stabil (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/05/10/320/3006783/harga-pangan-di-ri-tak-stabil-apa-penyebabnya-hsc8MdOow5.jpg</image><title>Penyebab harga pangan tidak stabil (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8wMy80LzE4MDI3OC81L3g4eHZzNHc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Harga pangan di Indonesia tidak stabil. Hal ini pun diakui Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi.
Dia mengungkap penyebab harga pangan di RI tidak stabil. Menurut dia, salah satu faktornya adalah karena masalah di fasilitas penyimpanan.

BACA JUGA:
Harga Pangan Hari Ini, Bawang Merah Jadi Rp50.640/Kg&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Arief mengemukakan Indonesia belum banyak memiliki alat yang bisa menambah umur simpan pasokan pangan. Padahal dinilai Arief fasilitas itu sangat dibutuhkan guna mendukung penguatan cadangan pangan.
&quot;Kenapa harga pangan di Indonesia itu naik turun? Salah satunya karena kita tidak punya alat untuk memperpanjang shelf life, ini yang banyak belum diketahui,&quot; kata Arief dalam pernyataan resminya dikutip Jumat (10/5/2024).

BACA JUGA:
Harga Pangan Hari Ini, Bawang Merah Jadi Rp50.640/Kg&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&quot;Itu ada Apel Fuji dari China bagian utara, walaupun di sana sedang winter, tapi masih bisa terus kirim. Itu karena mereka bisa mengatur tidak hanya suhunya saja. Ada namanya control atmosfer storage,&quot; bebernya.
Lebih lanjut Arief menyebut bahwa ketahanan pangan yang benar adalah ketahanan pangan yang mendahulukan kemandirian pangan. Adapun cara menjaganya, salah satunya adalah dengan fasilitas rantai dingin (cold chain) agar pasokan pangan bisa disimpan tanpa mengurangi kualitasnya.&quot;Tantangan pangan global itu sebenarnya hari ini cukup mengkhawatirkan. Jumlah penduduknya naik, lahan makin sempit, harga makin mahal, geo politiknya tidak bisa kita prediksi. Salah satu solusinya tentu kita tingkatkan produksi dalam negeri,&quot; ujar Arief.
&quot;Namun setelah produksi dalam negeri naik, sudah banyak, saking banyaknya malah harganya jatuh. Jadinya petaninya enggan nanam lagi, peternak juga. Kita tidak ingin begitu. Jadi tugas kita semua, termasuk Badan Pangan Nasional bersama BUMN, mempersiapkan pada saat produksi meninggi berperan sebagai offtaker,&quot; sambungnya.
Arief mengklaim pihaknya menaruh atensi pada pengembangan sarana prasarana cold chain. Ia mengaku telah menyampaikan masalah ini kepada Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan.
&quot;Di luar negeri sudah mulai sejak lama. Kalau kita baru mulai, tidak mengapa. Kita sudah memulai tapi cepat, karena Indonesia ini tidak seperti negara lain, kita ini negara kepulauan. Tahun ini saya mau selesaikan totalnya sampai 40 alat cold chain. Saya akan pastikan ada di sentra-sentra produksi beberapa kabupaten kota,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8wMy80LzE4MDI3OC81L3g4eHZzNHc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Harga pangan di Indonesia tidak stabil. Hal ini pun diakui Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi.
Dia mengungkap penyebab harga pangan di RI tidak stabil. Menurut dia, salah satu faktornya adalah karena masalah di fasilitas penyimpanan.

BACA JUGA:
Harga Pangan Hari Ini, Bawang Merah Jadi Rp50.640/Kg&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Arief mengemukakan Indonesia belum banyak memiliki alat yang bisa menambah umur simpan pasokan pangan. Padahal dinilai Arief fasilitas itu sangat dibutuhkan guna mendukung penguatan cadangan pangan.
&quot;Kenapa harga pangan di Indonesia itu naik turun? Salah satunya karena kita tidak punya alat untuk memperpanjang shelf life, ini yang banyak belum diketahui,&quot; kata Arief dalam pernyataan resminya dikutip Jumat (10/5/2024).

BACA JUGA:
Harga Pangan Hari Ini, Bawang Merah Jadi Rp50.640/Kg&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&quot;Itu ada Apel Fuji dari China bagian utara, walaupun di sana sedang winter, tapi masih bisa terus kirim. Itu karena mereka bisa mengatur tidak hanya suhunya saja. Ada namanya control atmosfer storage,&quot; bebernya.
Lebih lanjut Arief menyebut bahwa ketahanan pangan yang benar adalah ketahanan pangan yang mendahulukan kemandirian pangan. Adapun cara menjaganya, salah satunya adalah dengan fasilitas rantai dingin (cold chain) agar pasokan pangan bisa disimpan tanpa mengurangi kualitasnya.&quot;Tantangan pangan global itu sebenarnya hari ini cukup mengkhawatirkan. Jumlah penduduknya naik, lahan makin sempit, harga makin mahal, geo politiknya tidak bisa kita prediksi. Salah satu solusinya tentu kita tingkatkan produksi dalam negeri,&quot; ujar Arief.
&quot;Namun setelah produksi dalam negeri naik, sudah banyak, saking banyaknya malah harganya jatuh. Jadinya petaninya enggan nanam lagi, peternak juga. Kita tidak ingin begitu. Jadi tugas kita semua, termasuk Badan Pangan Nasional bersama BUMN, mempersiapkan pada saat produksi meninggi berperan sebagai offtaker,&quot; sambungnya.
Arief mengklaim pihaknya menaruh atensi pada pengembangan sarana prasarana cold chain. Ia mengaku telah menyampaikan masalah ini kepada Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan.
&quot;Di luar negeri sudah mulai sejak lama. Kalau kita baru mulai, tidak mengapa. Kita sudah memulai tapi cepat, karena Indonesia ini tidak seperti negara lain, kita ini negara kepulauan. Tahun ini saya mau selesaikan totalnya sampai 40 alat cold chain. Saya akan pastikan ada di sentra-sentra produksi beberapa kabupaten kota,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
