<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi RI Ditargetkan Tumbuh 6-7%, Mantan Menkeu: Produktivitas Kita Masih Rendah</title><description>Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai target pertumbuhan ekonomi 6%-7% sulit dicapai.&amp;nbsp;</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/11/320/3007179/ekonomi-ri-ditargetkan-tumbuh-6-7-mantan-menkeu-produktivitas-kita-masih-rendah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/05/11/320/3007179/ekonomi-ri-ditargetkan-tumbuh-6-7-mantan-menkeu-produktivitas-kita-masih-rendah"/><item><title>Ekonomi RI Ditargetkan Tumbuh 6-7%, Mantan Menkeu: Produktivitas Kita Masih Rendah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/11/320/3007179/ekonomi-ri-ditargetkan-tumbuh-6-7-mantan-menkeu-produktivitas-kita-masih-rendah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/05/11/320/3007179/ekonomi-ri-ditargetkan-tumbuh-6-7-mantan-menkeu-produktivitas-kita-masih-rendah</guid><pubDate>Sabtu 11 Mei 2024 18:34 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/05/11/320/3007179/ekonomi-ri-ditargetkan-tumbuh-6-7-mantan-menkeu-produktivitas-kita-masih-rendah-JyGDDY00pT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Target ekonomi RI sulit tercapai (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/05/11/320/3007179/ekonomi-ri-ditargetkan-tumbuh-6-7-mantan-menkeu-produktivitas-kita-masih-rendah-JyGDDY00pT.jpg</image><title>Target ekonomi RI sulit tercapai (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8wNi8xLzE4MDM4MS81L3g4eTMxNGk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai target pertumbuhan ekonomi 6%-7% sulit dicapai. Sebab saat ini produktivitas di Indonesia masih tergolong rendah.
Sehingga menurutnya jika mau mengejar pertumbuhan ekonomi sampai 6-7% perlu mendorong produktivitas dan meningkatkan rasio investasi terhadap PDB (Product Domestic Bruto) ke depannya.Sebab lewat investasi, akan menambah serapan tenaga kerja baru, meningkatkan produksi, dan bermuara pada pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan di angka 6%-7%.

BACA JUGA:
Jokowi Bersyukur Ekonomi RI Tumbuh 5,11% pada Kuartal I-2024

&quot;Kita mau mencapai ekonomi tumbuh 6%-7% tadi kata pak Airlangga begitu. Persoalan kita produktivitas masih rendah,&quot; ujar Chatib Basri dalam seminar Ekonomi di Sekolah Kolese Kanisius Jakarta Pusat, Sabtu (11/5/2024).
Disamping itu, menurut Chatib Basri Indonesia juga perlu menjamah potensi ekonomi-ekonomi baru yang ada saat ini. Misalnya ekonomi digital yang saat ini tengah berkembang pesat di berbagai negara.

BACA JUGA:
Tertinggi Sepanjang 2019-2024, Ekonomi RI Capai 5,11% di Kuartal I

Bahkan dikatakan Chatib, India menjadi salah satu contoh negara yang saat ini sudah memanfaatkan new economy dengan memanfaatkan digitalisasi. Bahkan menurutnya, saat ini India sudah menjadi negara dengan transaksi keuangan tertinggi di dunia.
Lewat transformasi ekonomi itu, India menurutnya telah berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi di angka 8,4% pada kuartal IV 2023 lalu. Angka ini tumbuh positif jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya di angka 7,6%.
&quot;Indonesia sudah harus memulai masuk ke digital ekonomi, suka atau tidak suka,&quot; sambung Chatib.Namun demikian, jika masuk ke arah transformasi digital maka menurutnya yang dipertaruhkan adalah soal serapan tenaga kerja. Sebab jika masuk dalam digitalisasi serapan tenaga kerjanya akan lebih rendah karena investasi yang dilakukan lebih kearah padat modal saja.
&quot;Sekarang tantangannya adalah, bagaimana bisa menciptakan human capital yang baik untuk mengakomodir ini semua,&quot; tutup Chatib.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8wNi8xLzE4MDM4MS81L3g4eTMxNGk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai target pertumbuhan ekonomi 6%-7% sulit dicapai. Sebab saat ini produktivitas di Indonesia masih tergolong rendah.
Sehingga menurutnya jika mau mengejar pertumbuhan ekonomi sampai 6-7% perlu mendorong produktivitas dan meningkatkan rasio investasi terhadap PDB (Product Domestic Bruto) ke depannya.Sebab lewat investasi, akan menambah serapan tenaga kerja baru, meningkatkan produksi, dan bermuara pada pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan di angka 6%-7%.

BACA JUGA:
Jokowi Bersyukur Ekonomi RI Tumbuh 5,11% pada Kuartal I-2024

&quot;Kita mau mencapai ekonomi tumbuh 6%-7% tadi kata pak Airlangga begitu. Persoalan kita produktivitas masih rendah,&quot; ujar Chatib Basri dalam seminar Ekonomi di Sekolah Kolese Kanisius Jakarta Pusat, Sabtu (11/5/2024).
Disamping itu, menurut Chatib Basri Indonesia juga perlu menjamah potensi ekonomi-ekonomi baru yang ada saat ini. Misalnya ekonomi digital yang saat ini tengah berkembang pesat di berbagai negara.

BACA JUGA:
Tertinggi Sepanjang 2019-2024, Ekonomi RI Capai 5,11% di Kuartal I

Bahkan dikatakan Chatib, India menjadi salah satu contoh negara yang saat ini sudah memanfaatkan new economy dengan memanfaatkan digitalisasi. Bahkan menurutnya, saat ini India sudah menjadi negara dengan transaksi keuangan tertinggi di dunia.
Lewat transformasi ekonomi itu, India menurutnya telah berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi di angka 8,4% pada kuartal IV 2023 lalu. Angka ini tumbuh positif jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya di angka 7,6%.
&quot;Indonesia sudah harus memulai masuk ke digital ekonomi, suka atau tidak suka,&quot; sambung Chatib.Namun demikian, jika masuk ke arah transformasi digital maka menurutnya yang dipertaruhkan adalah soal serapan tenaga kerja. Sebab jika masuk dalam digitalisasi serapan tenaga kerjanya akan lebih rendah karena investasi yang dilakukan lebih kearah padat modal saja.
&quot;Sekarang tantangannya adalah, bagaimana bisa menciptakan human capital yang baik untuk mengakomodir ini semua,&quot; tutup Chatib.</content:encoded></item></channel></rss>
