<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tarif Batas Atas Tiket Pesawat Diminta Naik, Ini Jawaban Kemenhub</title><description>TBA meminta tiket pesawat dinaikan. Pasalnya banyak maskapai yang mengaku berat untuk menanggung cost.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/19/320/3010439/tarif-batas-atas-tiket-pesawat-diminta-naik-ini-jawaban-kemenhub</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/05/19/320/3010439/tarif-batas-atas-tiket-pesawat-diminta-naik-ini-jawaban-kemenhub"/><item><title>Tarif Batas Atas Tiket Pesawat Diminta Naik, Ini Jawaban Kemenhub</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/19/320/3010439/tarif-batas-atas-tiket-pesawat-diminta-naik-ini-jawaban-kemenhub</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/05/19/320/3010439/tarif-batas-atas-tiket-pesawat-diminta-naik-ini-jawaban-kemenhub</guid><pubDate>Minggu 19 Mei 2024 17:13 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/05/19/320/3010439/tarif-batas-atas-tiket-pesawat-diminta-naik-ini-jawaban-kemenhub-XWYbPWD1x1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bandara Penumpang yang akan naik Pesawat (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/05/19/320/3010439/tarif-batas-atas-tiket-pesawat-diminta-naik-ini-jawaban-kemenhub-XWYbPWD1x1.jpg</image><title>Bandara Penumpang yang akan naik Pesawat (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8xNy8xLzE4MDc4Ny81L3g4eW00eWs=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Asosiasi penerbangan mengusulkan agar Tarif Batas Atas (TBA) meminta tiket pesawat  dinaikan. Pasalnya banyak maskapai yang mengaku berat untuk menanggung cost yang terus mengalami kenaikan.
Juru Bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati mengatakan saat ini pihaknya tengah membahas terkait revisi TBA untuk tiket pesawat. Hal itu menimbang komponen harga tiket pesawat yang saat ini sudah naik, terutama dari sisi nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dollar.

BACA JUGA:
Tarif Batas Atas Pesawat Diminta Dinaikkan, Jadi Berapa?

Semuanya sedang kita bahas (revisi TBA), yang jelas Kemenhub harus bisa menjaga keseimbangan berbagai kepentingan, baik masyarakat pengguna maupun industri penerbangan itu sendiri,&quot; ujar Adita kepada MNC Portal, Minggu (19/5/2024).
Namun demikian, Adita juga tidak mendetailkan terkait pembahasan revisi TBA tersebut. Termasuk belum dapat dijelaskan kapan revisi tersebut akan rampung, apakah dalam periode saat ini atau pemerintahan berikutnya.

BACA JUGA:
Gaji ke-13 PNS Bakal Dihentikan? Ini Faktanya

&quot;Kita lihat nanti ya,&quot; tutup Adita.Sebelumnya, Head Of Data &amp;amp; Publications INACA (Head Of Data &amp;amp; Publications Gatot Raharjo) Gatot Raharjo saat ini cost yang ditanggung maskapai sudah cukup besar, dan berdampak pada harga tiket. Disatu sisi, maskapai juga tidak bisa sembarang untuk melakukan penyesuaian harga tiket karena ada ancaman dikenakan sanksi oleh Kementerian Perhubungan.
Gatot mengungkapkan beberapa faktor yang membuat harga cost pesawat cukup besar adalah adanya kenaikan harga dari sisi bahan bakar, kemudian nilai tukar yang melemah, hingga pemebabanan pajak bandara yang dimasukan dalam komponen pembentukan harga tiket itu sendiri.
&quot;Kenapa harga tiket mahal karena costnya lebih mahal, itu pertama fuel, maintenance, spare part, itu mahal, kemudian yang paling rentan adalah kurs dollar kita terus melemah,&quot; tutup Gatot.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8xNy8xLzE4MDc4Ny81L3g4eW00eWs=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Asosiasi penerbangan mengusulkan agar Tarif Batas Atas (TBA) meminta tiket pesawat  dinaikan. Pasalnya banyak maskapai yang mengaku berat untuk menanggung cost yang terus mengalami kenaikan.
Juru Bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati mengatakan saat ini pihaknya tengah membahas terkait revisi TBA untuk tiket pesawat. Hal itu menimbang komponen harga tiket pesawat yang saat ini sudah naik, terutama dari sisi nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dollar.

BACA JUGA:
Tarif Batas Atas Pesawat Diminta Dinaikkan, Jadi Berapa?

Semuanya sedang kita bahas (revisi TBA), yang jelas Kemenhub harus bisa menjaga keseimbangan berbagai kepentingan, baik masyarakat pengguna maupun industri penerbangan itu sendiri,&quot; ujar Adita kepada MNC Portal, Minggu (19/5/2024).
Namun demikian, Adita juga tidak mendetailkan terkait pembahasan revisi TBA tersebut. Termasuk belum dapat dijelaskan kapan revisi tersebut akan rampung, apakah dalam periode saat ini atau pemerintahan berikutnya.

BACA JUGA:
Gaji ke-13 PNS Bakal Dihentikan? Ini Faktanya

&quot;Kita lihat nanti ya,&quot; tutup Adita.Sebelumnya, Head Of Data &amp;amp; Publications INACA (Head Of Data &amp;amp; Publications Gatot Raharjo) Gatot Raharjo saat ini cost yang ditanggung maskapai sudah cukup besar, dan berdampak pada harga tiket. Disatu sisi, maskapai juga tidak bisa sembarang untuk melakukan penyesuaian harga tiket karena ada ancaman dikenakan sanksi oleh Kementerian Perhubungan.
Gatot mengungkapkan beberapa faktor yang membuat harga cost pesawat cukup besar adalah adanya kenaikan harga dari sisi bahan bakar, kemudian nilai tukar yang melemah, hingga pemebabanan pajak bandara yang dimasukan dalam komponen pembentukan harga tiket itu sendiri.
&quot;Kenapa harga tiket mahal karena costnya lebih mahal, itu pertama fuel, maintenance, spare part, itu mahal, kemudian yang paling rentan adalah kurs dollar kita terus melemah,&quot; tutup Gatot.</content:encoded></item></channel></rss>
