<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menko Luhut Ungkap Indonesia Bisa Kantongi Rp112,5 Triliun dari Perdagangan Karbon</title><description>Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan sumber daya alamnya  secara berkelanjutan dan menghasilkan pendapatan penjualan karbon.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/20/320/3010988/menko-luhut-ungkap-indonesia-bisa-kantongi-rp112-5-triliun-dari-perdagangan-karbon</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/05/20/320/3010988/menko-luhut-ungkap-indonesia-bisa-kantongi-rp112-5-triliun-dari-perdagangan-karbon"/><item><title>Menko Luhut Ungkap Indonesia Bisa Kantongi Rp112,5 Triliun dari Perdagangan Karbon</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/20/320/3010988/menko-luhut-ungkap-indonesia-bisa-kantongi-rp112-5-triliun-dari-perdagangan-karbon</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/05/20/320/3010988/menko-luhut-ungkap-indonesia-bisa-kantongi-rp112-5-triliun-dari-perdagangan-karbon</guid><pubDate>Senin 20 Mei 2024 18:20 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/05/20/320/3010988/menko-luhut-ungkap-indonesia-bisa-kantongi-rp112-5-triliun-dari-perdagangan-karbon-czRcskrFSn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Peluang besar RI dalam perdagangan karbon (Foto: Kemenko Marves)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/05/20/320/3010988/menko-luhut-ungkap-indonesia-bisa-kantongi-rp112-5-triliun-dari-perdagangan-karbon-czRcskrFSn.jpg</image><title>Peluang besar RI dalam perdagangan karbon (Foto: Kemenko Marves)</title></images><description>


JAKARTA &amp;ndash; Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan sumber daya alamnya secara berkelanjutan dan menghasilkan pendapatan dari penjualan karbon. Berdasarkan penelitian berbagai lembaga termasuk Mc Kinsey Indonesia diperkirakan memiliki Nature Based Solutions (NBS) atau Ecological Based Approach (EBA) yang mencapai 1,5 GT CO2eq per tahun, sekitar Rp112,5 triliun atau USD7, 1 miliar.
&quot;Saat kita berupaya menuju masa depan net-zero. Mengacu pada Konsensus COP28 UEA, semua pihak berkomitmen untuk beralih dari bahan bakar fosil, mempercepat pengurangan emisi NDC yang ambisius dan berskala ekonomi, dan mendorong tiga kali lipat energi terbarukan dan dua kali lipat efisiensi energi. pada tahun 2030,&quot; ujar Menko Maritim dan Investasi Luhut B. Pandjaitan di acara Forum dialog yang diselenggarakan oleh Tri Hita Karana bersama dengan World Economic Forum, dikutip Senin (20/5/2024).

BACA JUGA:
Transaksi Bursa Karbon Capai Rp35,31 Miliar 

Menurut Luhut, Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan sumber daya alamnya secara berkelanjutan dan menghasilkan pendapatan dari penjualan karbon melalui mekanisme carbon pricing yang berstandar internasional.
&quot;Indonesia diberkati dengan sumber daya alam yang sangat besar yang dapat digunakan untuk mengatasi perubahan iklim. Berdasarkan beberapa penelitian, termasuk McKinsey pada tahun 2023, Indonesia memiliki potensi Nature Based Solutions (NBS) atau Ecological Based Approach (EBA) yang sangat besar dari upaya mitigasi hingga 1,5 GT CO2eq per tahun, sekitar 112,5 triliun rupiah atau 7, 1 miliar USD,&quot; tutur Luhut.

BACA JUGA:
Perdagangan Karbon Tanpa Kontrol Cuma Akan Merusak Lingkungan, Perlu Aturan Tegas

Luhut juga menyinggung inisiatif Indonesia sela-sela KTT G20 yakni Global Blended Finance Alliance (GBFA) yang menurutnya juga dapat menjadi solusi menghadapi tantangan global perubahan iklim.
&quot;GBFA juga mendukung pencapaian SDGs untuk negara-negara berkembang, LDCs, negara kepulauan, dan Kolaborasi Global Selatan. Melalui GBFA, kami meletakkan dasar bagi perubahan transformatif, memanfaatkan keuangan campuran dan pengetahuan masa depan untuk mempercepat penciptaan nilai dan investasi di sektor-sektor ekonomi utama seperti energi, hutan, ekonomi biru, termasuk hutan bakau dan lamun, kesehatan infrastruktur, dan keberlanjutan. pariwisata,&quot; papar Luhut.Luhut menambahkan GBFA bukan hanya solusi untuk mengatasi transisi  energi, namun Indonesia juga memimpin dalam bidang hutan dan bakau  sebagai bagian dari Solusi Berbasis Alam untuk aksi iklim,.
Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral  (ESDM) Arifin Tasrif berharap GBFA dapat membantu Indonesia mewujudkan  Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 mendatang.&quot;Kami juga berharap  bahwa G20 Bali Global Blended Finance Alliance (GBFA) dapat mendukung  program kami mewujudkan Net Zero Emission pada tahun 2060,&quot;kata Arifin.
Untuk mewujudkannya, NZE pemerintah akan melakukan diversifikasi  energi dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber energi  terbarukan.&quot;Kami yakin bahwa kami dapat mencapai target dan melaksanakan  peta jalan, meskipun terdapat beberapa tantangan,&quot;pungkas Arifin.
Diversifikasi energi adalah kunci untuk mencapai net zero emission  pada tahun 2060. Dengan komitmen dan kerjasama dari semua pihak, target  ini dapat tercapai dan Indonesia dapat beralih ke masa depan energi yang  lebih bersih dan berkelanjutan.</description><content:encoded>


JAKARTA &amp;ndash; Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan sumber daya alamnya secara berkelanjutan dan menghasilkan pendapatan dari penjualan karbon. Berdasarkan penelitian berbagai lembaga termasuk Mc Kinsey Indonesia diperkirakan memiliki Nature Based Solutions (NBS) atau Ecological Based Approach (EBA) yang mencapai 1,5 GT CO2eq per tahun, sekitar Rp112,5 triliun atau USD7, 1 miliar.
&quot;Saat kita berupaya menuju masa depan net-zero. Mengacu pada Konsensus COP28 UEA, semua pihak berkomitmen untuk beralih dari bahan bakar fosil, mempercepat pengurangan emisi NDC yang ambisius dan berskala ekonomi, dan mendorong tiga kali lipat energi terbarukan dan dua kali lipat efisiensi energi. pada tahun 2030,&quot; ujar Menko Maritim dan Investasi Luhut B. Pandjaitan di acara Forum dialog yang diselenggarakan oleh Tri Hita Karana bersama dengan World Economic Forum, dikutip Senin (20/5/2024).

BACA JUGA:
Transaksi Bursa Karbon Capai Rp35,31 Miliar 

Menurut Luhut, Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan sumber daya alamnya secara berkelanjutan dan menghasilkan pendapatan dari penjualan karbon melalui mekanisme carbon pricing yang berstandar internasional.
&quot;Indonesia diberkati dengan sumber daya alam yang sangat besar yang dapat digunakan untuk mengatasi perubahan iklim. Berdasarkan beberapa penelitian, termasuk McKinsey pada tahun 2023, Indonesia memiliki potensi Nature Based Solutions (NBS) atau Ecological Based Approach (EBA) yang sangat besar dari upaya mitigasi hingga 1,5 GT CO2eq per tahun, sekitar 112,5 triliun rupiah atau 7, 1 miliar USD,&quot; tutur Luhut.

BACA JUGA:
Perdagangan Karbon Tanpa Kontrol Cuma Akan Merusak Lingkungan, Perlu Aturan Tegas

Luhut juga menyinggung inisiatif Indonesia sela-sela KTT G20 yakni Global Blended Finance Alliance (GBFA) yang menurutnya juga dapat menjadi solusi menghadapi tantangan global perubahan iklim.
&quot;GBFA juga mendukung pencapaian SDGs untuk negara-negara berkembang, LDCs, negara kepulauan, dan Kolaborasi Global Selatan. Melalui GBFA, kami meletakkan dasar bagi perubahan transformatif, memanfaatkan keuangan campuran dan pengetahuan masa depan untuk mempercepat penciptaan nilai dan investasi di sektor-sektor ekonomi utama seperti energi, hutan, ekonomi biru, termasuk hutan bakau dan lamun, kesehatan infrastruktur, dan keberlanjutan. pariwisata,&quot; papar Luhut.Luhut menambahkan GBFA bukan hanya solusi untuk mengatasi transisi  energi, namun Indonesia juga memimpin dalam bidang hutan dan bakau  sebagai bagian dari Solusi Berbasis Alam untuk aksi iklim,.
Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral  (ESDM) Arifin Tasrif berharap GBFA dapat membantu Indonesia mewujudkan  Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 mendatang.&quot;Kami juga berharap  bahwa G20 Bali Global Blended Finance Alliance (GBFA) dapat mendukung  program kami mewujudkan Net Zero Emission pada tahun 2060,&quot;kata Arifin.
Untuk mewujudkannya, NZE pemerintah akan melakukan diversifikasi  energi dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber energi  terbarukan.&quot;Kami yakin bahwa kami dapat mencapai target dan melaksanakan  peta jalan, meskipun terdapat beberapa tantangan,&quot;pungkas Arifin.
Diversifikasi energi adalah kunci untuk mencapai net zero emission  pada tahun 2060. Dengan komitmen dan kerjasama dari semua pihak, target  ini dapat tercapai dan Indonesia dapat beralih ke masa depan energi yang  lebih bersih dan berkelanjutan.</content:encoded></item></channel></rss>
