<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jokowi Luncurkan INA Digital: Setop Bikin Aplikasi Baru, Pemborosan Uang Negara</title><description>Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan Government Technology (GovTech) Indonesia bernama INA Digital.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/27/320/3013601/jokowi-luncurkan-ina-digital-setop-bikin-aplikasi-baru-pemborosan-uang-negara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/05/27/320/3013601/jokowi-luncurkan-ina-digital-setop-bikin-aplikasi-baru-pemborosan-uang-negara"/><item><title>Jokowi Luncurkan INA Digital: Setop Bikin Aplikasi Baru, Pemborosan Uang Negara</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/27/320/3013601/jokowi-luncurkan-ina-digital-setop-bikin-aplikasi-baru-pemborosan-uang-negara</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/05/27/320/3013601/jokowi-luncurkan-ina-digital-setop-bikin-aplikasi-baru-pemborosan-uang-negara</guid><pubDate>Senin 27 Mei 2024 11:56 WIB</pubDate><dc:creator>Raka Dwi Novianto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/05/27/320/3013601/jokowi-luncurkan-ina-digital-setop-bikin-aplikasi-baru-pemborosan-uang-negara-GHeMcwCofG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jokowi luncurkan platform INA Digital (Foto: MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/05/27/320/3013601/jokowi-luncurkan-ina-digital-setop-bikin-aplikasi-baru-pemborosan-uang-negara-GHeMcwCofG.jpg</image><title>Jokowi luncurkan platform INA Digital (Foto: MPI)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8yMi8xLzE4MDk3NC81L3g4eXZjeW8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan Government Technology (GovTech) Indonesia bernama INA Digital. Dia pun meminta semua kementerian dan lembaga untuk tidak lagi membuat aplikasi atau platform baru mulai tahun ini.
Hal itu dikarenakan setiap kementerian lembaga bisa membuat aplikasi hingga ribuan dan bisa menghabiskan anggaran hingga triliun rupiah. Hal tersebut disampaikan Jokowi dalam acara Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Summit 2024 dan peluncuran Government Technology (GovTech) Indonesia pada hari ini.

BACA JUGA:
Luncurkan INA Digital, Jokowi: Jalan Tol Digitalisasi Pelayanan Publik


&quot;Oleh sebab itu perlu saya sampaikan mulai tahun ini sudah saya sampaikan di Januari yang lalu, mulai tahun ini berhenti membuat aplikasi baru, mulai tahun ini berhentilah membikin platform-platform baru. Stop. Karena tadi 27 ribu aplikasi yang ada,&quot; kata Jokowi, Senin (27/5/2024).
&quot;Tahun ini saja kemarin kita cek waktu membikin anggaran ada Rp 6,2 triliun yang akan dipakai untuk membikin aplikasi baru. Di satu kementerian ada lebih dari 500 aplikasi, bayangkan,&quot; tambahnya.

BACA JUGA:
Pegi Bantah Bunuh Vina, Hotman Paris Minta Bantuan Jokowi: Darurat Hukum!


Menurut Jokowi, banyaknya aplikasi yang dibuat oleh kementerian lembaga dikarenakan setiap adanya pergantian menteri ataupun dirjen selalu muncul aplikasi baru.
&quot;Karena setiap, mungkin dulu setiap ganti menteri ganti aplikasi ganti dirjen ganti aplikasi. Sama di daerah ganti gubernur ganti aplikasi, ganti kepala dinas ganti aplikasi. Orientasinya selalu proyek. itu yang kita hentikan dan tidak boleh diteruskan lagi,&quot; ungkapnya.
Jokowi menekankan bahwa kehadiran birokrasi seharusnya untuk melayani  dan tidak mempersulit ataupun memperlambat pelayanan untuk masyarakat.
&quot;Saya ingin menggarisbawahi, ingin menekankan kembali bahwa kehadiran  birokrasi itu harusnya melayani, bukan mempersulit dan bukan malah  memperlambat,&quot; kata Jokowi.
Jokowi mengatakan, seharusnya yang menjadi tolak ukur adalah kepuasan  masyarakat, manfaat yang diterima masyarakat, hingga kemudahan urusan  masyarakat.
&quot;Tapi bagaimana bisa lebih mudah kalo di kementerian, di lembaga, di  pemerintahan daerah provinsi kabupaten kota ini ada kurang lebih 27 ribu  aplikasi. 27 ribu platform yang berjalan sendiri-sendiri. yang kerjanya  juga sendiri-sendiri. Gak akan mungkin tadi yang saya sampaikan  mempermudah mempercepat, enggak. Tidak terintegrasi dan bahkan banyak  yang justru tumpang tindih,&quot; kata Jokowi.
Maka dari itu, kata Jokowi perlunya memperkuat digital public  infrastructure untuk digitalisasi pelayanan publik di Indonesia dan juga  meningkatkan daya saing.
&quot;Kita juga harus memperkuat govtech kita. satu portal terintegrasi  yang kita namakan Ina digital. Yang di situ ada layanan pendidikan,  layanan kesehatan, ada layanan izin usaha ada perpajakan dan  lain-lainnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8yMi8xLzE4MDk3NC81L3g4eXZjeW8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan Government Technology (GovTech) Indonesia bernama INA Digital. Dia pun meminta semua kementerian dan lembaga untuk tidak lagi membuat aplikasi atau platform baru mulai tahun ini.
Hal itu dikarenakan setiap kementerian lembaga bisa membuat aplikasi hingga ribuan dan bisa menghabiskan anggaran hingga triliun rupiah. Hal tersebut disampaikan Jokowi dalam acara Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Summit 2024 dan peluncuran Government Technology (GovTech) Indonesia pada hari ini.

BACA JUGA:
Luncurkan INA Digital, Jokowi: Jalan Tol Digitalisasi Pelayanan Publik


&quot;Oleh sebab itu perlu saya sampaikan mulai tahun ini sudah saya sampaikan di Januari yang lalu, mulai tahun ini berhenti membuat aplikasi baru, mulai tahun ini berhentilah membikin platform-platform baru. Stop. Karena tadi 27 ribu aplikasi yang ada,&quot; kata Jokowi, Senin (27/5/2024).
&quot;Tahun ini saja kemarin kita cek waktu membikin anggaran ada Rp 6,2 triliun yang akan dipakai untuk membikin aplikasi baru. Di satu kementerian ada lebih dari 500 aplikasi, bayangkan,&quot; tambahnya.

BACA JUGA:
Pegi Bantah Bunuh Vina, Hotman Paris Minta Bantuan Jokowi: Darurat Hukum!


Menurut Jokowi, banyaknya aplikasi yang dibuat oleh kementerian lembaga dikarenakan setiap adanya pergantian menteri ataupun dirjen selalu muncul aplikasi baru.
&quot;Karena setiap, mungkin dulu setiap ganti menteri ganti aplikasi ganti dirjen ganti aplikasi. Sama di daerah ganti gubernur ganti aplikasi, ganti kepala dinas ganti aplikasi. Orientasinya selalu proyek. itu yang kita hentikan dan tidak boleh diteruskan lagi,&quot; ungkapnya.
Jokowi menekankan bahwa kehadiran birokrasi seharusnya untuk melayani  dan tidak mempersulit ataupun memperlambat pelayanan untuk masyarakat.
&quot;Saya ingin menggarisbawahi, ingin menekankan kembali bahwa kehadiran  birokrasi itu harusnya melayani, bukan mempersulit dan bukan malah  memperlambat,&quot; kata Jokowi.
Jokowi mengatakan, seharusnya yang menjadi tolak ukur adalah kepuasan  masyarakat, manfaat yang diterima masyarakat, hingga kemudahan urusan  masyarakat.
&quot;Tapi bagaimana bisa lebih mudah kalo di kementerian, di lembaga, di  pemerintahan daerah provinsi kabupaten kota ini ada kurang lebih 27 ribu  aplikasi. 27 ribu platform yang berjalan sendiri-sendiri. yang kerjanya  juga sendiri-sendiri. Gak akan mungkin tadi yang saya sampaikan  mempermudah mempercepat, enggak. Tidak terintegrasi dan bahkan banyak  yang justru tumpang tindih,&quot; kata Jokowi.
Maka dari itu, kata Jokowi perlunya memperkuat digital public  infrastructure untuk digitalisasi pelayanan publik di Indonesia dan juga  meningkatkan daya saing.
&quot;Kita juga harus memperkuat govtech kita. satu portal terintegrasi  yang kita namakan Ina digital. Yang di situ ada layanan pendidikan,  layanan kesehatan, ada layanan izin usaha ada perpajakan dan  lain-lainnya.</content:encoded></item></channel></rss>
