<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penerimaan Bea Cukai Tembus Rp95,7 Triliun per April 2024</title><description>Sri Mulyani Indrawati menyebut penerimaan kepabeanan dan cukai per April 2024 mencapai Rp95,7 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/27/320/3013873/penerimaan-bea-cukai-tembus-rp95-7-triliun-per-april-2024</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/05/27/320/3013873/penerimaan-bea-cukai-tembus-rp95-7-triliun-per-april-2024"/><item><title>Penerimaan Bea Cukai Tembus Rp95,7 Triliun per April 2024</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/27/320/3013873/penerimaan-bea-cukai-tembus-rp95-7-triliun-per-april-2024</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/05/27/320/3013873/penerimaan-bea-cukai-tembus-rp95-7-triliun-per-april-2024</guid><pubDate>Senin 27 Mei 2024 21:16 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/05/27/320/3013873/penerimaan-bea-cukai-tembus-rp95-7-triliun-per-april-2024-cJbgY3YM7R.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penerimaan Bea Cukai  (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/05/27/320/3013873/penerimaan-bea-cukai-tembus-rp95-7-triliun-per-april-2024-cJbgY3YM7R.jpg</image><title>Penerimaan Bea Cukai  (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8yNy8xLzE4MTEzNC81L3g4ejU3cWE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut penerimaan kepabeanan dan cukai per April 2024 mencapai Rp95,7 triliun. Realisasi itu naik tipis 1,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Seperti diketahui, hasil penerimaan kepabeanan dan cukai ditopang oleh tiga komponen, diantaranya bea masuk, bea keluar dan cukai.

BACA JUGA:
Gaji ke-13 PNS Cair Juni 2024, Sri Mulyani Siapkan Anggaran Rp50,8 Triliun

Menkeu menyebutkan, penerimaan bea masuk tercatat Rp15,7 triliun atau turun 0,5% dibandingkan Januari sampai April 2023.
&quot;Penurunan tarif bea masuk dari 1,47% jadi 1,35% menjadi kontribusi penurunan penerimaan. Komoditas utama kita seperti kendaraan roda empat, suku cadang kendaraan, gas alam itu mengalami penurunan dari masuknya ke dalam negeri,&quot; tutur Menkeu dalam konferensi pers APBN Kita, Senin (27/5/2024).

BACA JUGA:
Tekanan Pasar Keuangan Domestik Mereda, Sri Mulyani Bicara Pelemahan Rupiah

Kemudian penerimaan bea keluar pada Januari-April tercatat Rp5,8 triliun atau naik 40,6% dari periode yang sama tahun lalu.
&quot;Terutama untuk bea keluar barang mineral yang tumbuh 6 kali lipat karena ada relaksasi ekspor mineral,&quot; imbuhnya.Sri Mulyani menambahkan, sementara itu untuk bea keluar produk sawit anjlok 68,3%karena harga minyak sawit mentah (CPO) turun 11,16 persen yang menyebabkan penurunan tarif dari USD911/MT menjadi USD809/MT.
&quot;Volumenya juga turun dari 12,9 juta ton menjadi 11,48 juta ton. Jadi untuk sawit kena dua-duanya, volume dan harga,&quot; urai Menkeu.
Kemudian penerimaan cukai terkumpul Rp74,2 triliun pada Januari-April atau turun tipis 0,5% dari 4 bulan pertama 2023. Hal ini dipengaruhi oleh turunnya cukai hasil tembakau yang disebabkan oleh total produksi hasil tembakau tumbuh namun terjadi shifting dari golongan 1 yang turun 3,0 persen dan golongan 2 yang tumbuh 14,2 persen. Penyebab lainnya yaitu tarif efektif yang mengalami tren penurunan sama seperti 2023.
&quot;DJBC secara konsisten melakukan pengawasan dan penindakan rokok ilegal dengan jumlah penindakan lebih dari 4.000 penindakan dengan jumlah barang hasil penindakan 220 juta batang dan perkiraan nilai barang hasil penindakan sebesar Rp311,3 miliar,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8yNy8xLzE4MTEzNC81L3g4ejU3cWE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut penerimaan kepabeanan dan cukai per April 2024 mencapai Rp95,7 triliun. Realisasi itu naik tipis 1,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Seperti diketahui, hasil penerimaan kepabeanan dan cukai ditopang oleh tiga komponen, diantaranya bea masuk, bea keluar dan cukai.

BACA JUGA:
Gaji ke-13 PNS Cair Juni 2024, Sri Mulyani Siapkan Anggaran Rp50,8 Triliun

Menkeu menyebutkan, penerimaan bea masuk tercatat Rp15,7 triliun atau turun 0,5% dibandingkan Januari sampai April 2023.
&quot;Penurunan tarif bea masuk dari 1,47% jadi 1,35% menjadi kontribusi penurunan penerimaan. Komoditas utama kita seperti kendaraan roda empat, suku cadang kendaraan, gas alam itu mengalami penurunan dari masuknya ke dalam negeri,&quot; tutur Menkeu dalam konferensi pers APBN Kita, Senin (27/5/2024).

BACA JUGA:
Tekanan Pasar Keuangan Domestik Mereda, Sri Mulyani Bicara Pelemahan Rupiah

Kemudian penerimaan bea keluar pada Januari-April tercatat Rp5,8 triliun atau naik 40,6% dari periode yang sama tahun lalu.
&quot;Terutama untuk bea keluar barang mineral yang tumbuh 6 kali lipat karena ada relaksasi ekspor mineral,&quot; imbuhnya.Sri Mulyani menambahkan, sementara itu untuk bea keluar produk sawit anjlok 68,3%karena harga minyak sawit mentah (CPO) turun 11,16 persen yang menyebabkan penurunan tarif dari USD911/MT menjadi USD809/MT.
&quot;Volumenya juga turun dari 12,9 juta ton menjadi 11,48 juta ton. Jadi untuk sawit kena dua-duanya, volume dan harga,&quot; urai Menkeu.
Kemudian penerimaan cukai terkumpul Rp74,2 triliun pada Januari-April atau turun tipis 0,5% dari 4 bulan pertama 2023. Hal ini dipengaruhi oleh turunnya cukai hasil tembakau yang disebabkan oleh total produksi hasil tembakau tumbuh namun terjadi shifting dari golongan 1 yang turun 3,0 persen dan golongan 2 yang tumbuh 14,2 persen. Penyebab lainnya yaitu tarif efektif yang mengalami tren penurunan sama seperti 2023.
&quot;DJBC secara konsisten melakukan pengawasan dan penindakan rokok ilegal dengan jumlah penindakan lebih dari 4.000 penindakan dengan jumlah barang hasil penindakan 220 juta batang dan perkiraan nilai barang hasil penindakan sebesar Rp311,3 miliar,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
