<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ojol Tolak Potong Gaji untuk Iuran Tapera</title><description>Pengemudi ojek online (ojol) menolak kebijakan pemerintah yang berencana  memotong gaji pegawai untuk iuran Tapera.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/29/320/3014615/ojol-tolak-potong-gaji-untuk-iuran-tapera</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/05/29/320/3014615/ojol-tolak-potong-gaji-untuk-iuran-tapera"/><item><title>Ojol Tolak Potong Gaji untuk Iuran Tapera</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/05/29/320/3014615/ojol-tolak-potong-gaji-untuk-iuran-tapera</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/05/29/320/3014615/ojol-tolak-potong-gaji-untuk-iuran-tapera</guid><pubDate>Rabu 29 Mei 2024 12:50 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/05/29/320/3014615/ojol-tolak-potong-gaji-untuk-iuran-tapera-F2N7IMvRx7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ojol tolak kebijakan tapera (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/05/29/320/3014615/ojol-tolak-potong-gaji-untuk-iuran-tapera-F2N7IMvRx7.jpg</image><title>Ojol tolak kebijakan tapera (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8yOS8xLzE4MTIwMS81L3g4ejkzbXE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Pengemudi ojek online (ojol) menolak kebijakan pemerintah yang berencana memotong gaji pegawai untuk iuran Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).
&quot;Garda Indonesia menolak semua bentuk potongan wajib Tapera,&quot; jelas Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek Online Garda Indonesia Igun Wicaksono kepada MNC Portal Indonesia, Rabu (29/5/2024).

BACA JUGA:
Heboh Gaji Karyawan Dipotong untuk Iuran Tapera, Menko Airlangga: Nanti Dievaluasi


Menurutnya, aturan ini memberatkan beban penghasilan pekerja Indonesia.
&quot;Pekerja formal dan nonformal sudah cukup dikenakan pajak atas penghasilannya, profesi pengemudi ojol yang statusnya masih ilegal juga dikenakan pajak oleh aplikatornya,&quot; tutur Igun.

BACA JUGA:
Segini Harta Kekayaan Heru Pudyo, Bos BP Tapera yang Akan Potong Gaji Karyawan 3% Tiap Bulan


Sama halnya diungkapkan oleh Pengamat Kebijakan Publik dari FISIP Universitas Diponegoro, Satria Aji Imawan yang menilai, potongan gaji untuk iuran Tapera bisa memberatkan banyak pekerja. Sebab menurutnya, nominal Rp100 hingga Rp200 ribu bernilai besar bagi sebagian besar orang.
&quot;Artinya bukan berarti penghasilan berapa lalu di-press (tekan) sedemikian rupa untuk investasi perumahan tapi kemudian hari per harinya penghidupannya bermasalah,&quot; jelas Satria, Selasa (28/5/2024) lalu.
Menurut Satria, kebutuhan hidup setiap orang bersifat relatif dan berbeda-beda. Dengan demikian, potongan tersebut tidak bisa dipukul rata.
&quot;Tidak bisa dipukul rata 3%. Perlu dijelaskan logikanya bagaimana,  penghasilan orang itu bervariatif, 3% bagi orang yang penghasilannya  sekelas ibu kota ya tidak sama dengan yang di kabupaten. Tidak bisa  sama, harus ada penyesuaian,&quot; katanya.
Oleh karena prioritas hidup orang berbeda, lanjut Satria, membeli  rumah bukanlah perkara mudah. Lagi pula menurutnya, membeli properti  bukan harga mati bagi sebagian orang.
&amp;ldquo;Artinya dia memang orang yang tidak hanya bisa beli rumah, tetapi  juga bertanggung jawab dengan rumahnya. Di Britania Raya, dia bisa beli  rumah tetapi tidak kesulitan untuk menghidupi dirinya (yang) kemudian  jadi beban negara. Kebanyakan skema di luar negeri adalah rumah sewa,  orang menyewa terus, bukan membeli,&amp;rdquo; tuturnya.
Selain itu, Satria juga menyoroti transparansi iuran Tapera. Ia pun  menegaskan pemerintah, dalam hal ini BP Tapera, harus menjelaskan secara  lebih transparan terkait kebijakan ini.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8yOS8xLzE4MTIwMS81L3g4ejkzbXE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Pengemudi ojek online (ojol) menolak kebijakan pemerintah yang berencana memotong gaji pegawai untuk iuran Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).
&quot;Garda Indonesia menolak semua bentuk potongan wajib Tapera,&quot; jelas Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek Online Garda Indonesia Igun Wicaksono kepada MNC Portal Indonesia, Rabu (29/5/2024).

BACA JUGA:
Heboh Gaji Karyawan Dipotong untuk Iuran Tapera, Menko Airlangga: Nanti Dievaluasi


Menurutnya, aturan ini memberatkan beban penghasilan pekerja Indonesia.
&quot;Pekerja formal dan nonformal sudah cukup dikenakan pajak atas penghasilannya, profesi pengemudi ojol yang statusnya masih ilegal juga dikenakan pajak oleh aplikatornya,&quot; tutur Igun.

BACA JUGA:
Segini Harta Kekayaan Heru Pudyo, Bos BP Tapera yang Akan Potong Gaji Karyawan 3% Tiap Bulan


Sama halnya diungkapkan oleh Pengamat Kebijakan Publik dari FISIP Universitas Diponegoro, Satria Aji Imawan yang menilai, potongan gaji untuk iuran Tapera bisa memberatkan banyak pekerja. Sebab menurutnya, nominal Rp100 hingga Rp200 ribu bernilai besar bagi sebagian besar orang.
&quot;Artinya bukan berarti penghasilan berapa lalu di-press (tekan) sedemikian rupa untuk investasi perumahan tapi kemudian hari per harinya penghidupannya bermasalah,&quot; jelas Satria, Selasa (28/5/2024) lalu.
Menurut Satria, kebutuhan hidup setiap orang bersifat relatif dan berbeda-beda. Dengan demikian, potongan tersebut tidak bisa dipukul rata.
&quot;Tidak bisa dipukul rata 3%. Perlu dijelaskan logikanya bagaimana,  penghasilan orang itu bervariatif, 3% bagi orang yang penghasilannya  sekelas ibu kota ya tidak sama dengan yang di kabupaten. Tidak bisa  sama, harus ada penyesuaian,&quot; katanya.
Oleh karena prioritas hidup orang berbeda, lanjut Satria, membeli  rumah bukanlah perkara mudah. Lagi pula menurutnya, membeli properti  bukan harga mati bagi sebagian orang.
&amp;ldquo;Artinya dia memang orang yang tidak hanya bisa beli rumah, tetapi  juga bertanggung jawab dengan rumahnya. Di Britania Raya, dia bisa beli  rumah tetapi tidak kesulitan untuk menghidupi dirinya (yang) kemudian  jadi beban negara. Kebanyakan skema di luar negeri adalah rumah sewa,  orang menyewa terus, bukan membeli,&amp;rdquo; tuturnya.
Selain itu, Satria juga menyoroti transparansi iuran Tapera. Ia pun  menegaskan pemerintah, dalam hal ini BP Tapera, harus menjelaskan secara  lebih transparan terkait kebijakan ini.</content:encoded></item></channel></rss>
