<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tolak Tapera, Ribuan Buruh Demo Geruduk Kantor Jokowi di Istana Negara 6 Juni</title><description>Ribuan buruh dari berbagai serikat pekerja di Jabodetabek akan melakukan  demo sebagai bentuk aksi protes di depan Istana Negara pada 6 Juni</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/04/320/3017067/tolak-tapera-ribuan-buruh-demo-geruduk-kantor-jokowi-di-istana-negara-6-juni</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/06/04/320/3017067/tolak-tapera-ribuan-buruh-demo-geruduk-kantor-jokowi-di-istana-negara-6-juni"/><item><title>Tolak Tapera, Ribuan Buruh Demo Geruduk Kantor Jokowi di Istana Negara 6 Juni</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/04/320/3017067/tolak-tapera-ribuan-buruh-demo-geruduk-kantor-jokowi-di-istana-negara-6-juni</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/06/04/320/3017067/tolak-tapera-ribuan-buruh-demo-geruduk-kantor-jokowi-di-istana-negara-6-juni</guid><pubDate>Selasa 04 Juni 2024 10:45 WIB</pubDate><dc:creator> Muhammad Farhan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/04/320/3017067/tolak-tapera-ribuan-buruh-demo-geruduk-kantor-jokowi-di-istana-negara-6-juni-NfIqVZ4gwM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Buruh bakal demo tolak tapera (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/04/320/3017067/tolak-tapera-ribuan-buruh-demo-geruduk-kantor-jokowi-di-istana-negara-6-juni-NfIqVZ4gwM.jpg</image><title>Buruh bakal demo tolak tapera (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8zMC8xLzE4MTI1Mi81L3g4emJ4Nm0=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Ribuan buruh dari berbagai serikat pekerja di Jabodetabek akan melakukan demo sebagai bentuk aksi protes di depan Istana Negara pada 6 Juni 2024. Demo buruh ini merupakan respons terhadap kebijakan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang dinilai menambah beban dan merugikan para pekerja.
Presiden Partai Buruh sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal mengungkapkan, aksi ini akan diikuti oleh gabungan serikat buruh lainnya seperti KSPI, Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), Serikat Petani Indonesia (SPI) dan organisasi perempuan PERCAYA.

BACA JUGA:
Sudah Ada JHT, Kenapa Harus Ikut Tapera?


&quot;Para buruh akan berkumpul di depan Balaikota pada pukul 10.00 dan bergerak menuju Istana melalui Patung Kuda,&quot; kata Said Iqbal melalui keterangannya, Selasa (4/6/2024).
Said Iqbal menilai kebijakan Tapera membebani pekerja dengan iuran yang tidak menjamin kepemilikan rumah, meskipun sudah mengiur selama 10 hingga 20 tahun.
&quot;Pemerintah hanya berperan sebagai pengumpul iuran tanpa alokasi dana dari APBN maupun APBD,&quot; jelas Said.

BACA JUGA:
BPJS Ketenagakerjaan Buka Suara soal Iuran Tapera


Dia juga menyoroti potensi korupsi dalam pengelolaan dana Tapera serta prosedur pencairan dana yang rumit.
&quot;Permasalahan lain adalah dana Tapera rawan dikorupsi, serta ketidakjelasan dan kerumitan pencairan dana,&quot; lanjutnya.
Selain menolak PP Tapera, buruh juga akan menyuarakan sejumlah isu lainnya. Mereka menolak Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang mahal, kebijakan Kamar Rawat Inap Standar (KRIS) BPJS Kesehatan, Omnibuslaw UU Cipta Kerja, serta sistem outsourcing dan upah murah (HOSTUM).
Menurut Iqbal, biaya UKT yang tinggi membuat pendidikan semakin sulit  dijangkau oleh anak-anak buruh, menghambat kesempatan mereka untuk  meraih pendidikan tinggi.
&quot;UKT yang mahal menambah beban ekonomi bagi buruh,&quot; tegas Said.
Terkait KRIS BPJS Kesehatan, buruh berpendapat bahwa kebijakan ini  akan menurunkan kualitas layanan kesehatan di rumah sakit yang sudah  penuh. &quot;Kami menuntut pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan ini  demi pelayanan kesehatan yang adil dan layak,&quot; ujarnya.
Penolakan terhadap Omnibuslaw Undang-undang Cipta Kerja juga akan  disuarakan dalam aksi ini. Bagi buruh, UU tersebut adalah simbol  ketidakadilan yang melegalkan eksploitasi dengan memberi kebebasan  kepada pengusaha dalam penggunaan kontrak dan outsourcing.
&quot;UU ini menyebabkan upah murah, pesangon rendah, PHK yang mudah, dan jam kerja yang fleksibel,&quot; tambah Iqbal.
Selain itu, buruh juga menuntut penghapusan sistem outsourcing yang  tidak memberikan kepastian kerja dan upah layak. &quot;Hidup buruh menjadi  tidak menentu dan terombang-ambing dalam ketidakpastian,&quot; lugas Iqbal.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8zMC8xLzE4MTI1Mi81L3g4emJ4Nm0=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Ribuan buruh dari berbagai serikat pekerja di Jabodetabek akan melakukan demo sebagai bentuk aksi protes di depan Istana Negara pada 6 Juni 2024. Demo buruh ini merupakan respons terhadap kebijakan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang dinilai menambah beban dan merugikan para pekerja.
Presiden Partai Buruh sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal mengungkapkan, aksi ini akan diikuti oleh gabungan serikat buruh lainnya seperti KSPI, Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), Serikat Petani Indonesia (SPI) dan organisasi perempuan PERCAYA.

BACA JUGA:
Sudah Ada JHT, Kenapa Harus Ikut Tapera?


&quot;Para buruh akan berkumpul di depan Balaikota pada pukul 10.00 dan bergerak menuju Istana melalui Patung Kuda,&quot; kata Said Iqbal melalui keterangannya, Selasa (4/6/2024).
Said Iqbal menilai kebijakan Tapera membebani pekerja dengan iuran yang tidak menjamin kepemilikan rumah, meskipun sudah mengiur selama 10 hingga 20 tahun.
&quot;Pemerintah hanya berperan sebagai pengumpul iuran tanpa alokasi dana dari APBN maupun APBD,&quot; jelas Said.

BACA JUGA:
BPJS Ketenagakerjaan Buka Suara soal Iuran Tapera


Dia juga menyoroti potensi korupsi dalam pengelolaan dana Tapera serta prosedur pencairan dana yang rumit.
&quot;Permasalahan lain adalah dana Tapera rawan dikorupsi, serta ketidakjelasan dan kerumitan pencairan dana,&quot; lanjutnya.
Selain menolak PP Tapera, buruh juga akan menyuarakan sejumlah isu lainnya. Mereka menolak Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang mahal, kebijakan Kamar Rawat Inap Standar (KRIS) BPJS Kesehatan, Omnibuslaw UU Cipta Kerja, serta sistem outsourcing dan upah murah (HOSTUM).
Menurut Iqbal, biaya UKT yang tinggi membuat pendidikan semakin sulit  dijangkau oleh anak-anak buruh, menghambat kesempatan mereka untuk  meraih pendidikan tinggi.
&quot;UKT yang mahal menambah beban ekonomi bagi buruh,&quot; tegas Said.
Terkait KRIS BPJS Kesehatan, buruh berpendapat bahwa kebijakan ini  akan menurunkan kualitas layanan kesehatan di rumah sakit yang sudah  penuh. &quot;Kami menuntut pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan ini  demi pelayanan kesehatan yang adil dan layak,&quot; ujarnya.
Penolakan terhadap Omnibuslaw Undang-undang Cipta Kerja juga akan  disuarakan dalam aksi ini. Bagi buruh, UU tersebut adalah simbol  ketidakadilan yang melegalkan eksploitasi dengan memberi kebebasan  kepada pengusaha dalam penggunaan kontrak dan outsourcing.
&quot;UU ini menyebabkan upah murah, pesangon rendah, PHK yang mudah, dan jam kerja yang fleksibel,&quot; tambah Iqbal.
Selain itu, buruh juga menuntut penghapusan sistem outsourcing yang  tidak memberikan kepastian kerja dan upah layak. &quot;Hidup buruh menjadi  tidak menentu dan terombang-ambing dalam ketidakpastian,&quot; lugas Iqbal.</content:encoded></item></channel></rss>
