<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perbankan RI Bisa Lebih Sehat dan Kuat, Ini Kuncinya</title><description>Industri perbankan di Indonesia bisa lebih sehat dan kuat jika jumlahnya tidak terlalu banyak.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/10/320/3019836/perbankan-ri-bisa-lebih-sehat-dan-kuat-ini-kuncinya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/06/10/320/3019836/perbankan-ri-bisa-lebih-sehat-dan-kuat-ini-kuncinya"/><item><title>Perbankan RI Bisa Lebih Sehat dan Kuat, Ini Kuncinya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/10/320/3019836/perbankan-ri-bisa-lebih-sehat-dan-kuat-ini-kuncinya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/06/10/320/3019836/perbankan-ri-bisa-lebih-sehat-dan-kuat-ini-kuncinya</guid><pubDate>Senin 10 Juni 2024 19:35 WIB</pubDate><dc:creator>Kristalensi Bunga Nauli Sihite</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/10/320/3019836/perbankan-ri-bisa-lebih-sehat-dan-kuat-ini-kuncinya-469hpVWtjV.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kunci perbankan RI bisa sehat (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/10/320/3019836/perbankan-ri-bisa-lebih-sehat-dan-kuat-ini-kuncinya-469hpVWtjV.jpg</image><title>Kunci perbankan RI bisa sehat (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMy8yOC80LzE3ODkxNC81L3g4dnhpMG8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Industri perbankan di Indonesia bisa lebih sehat dan kuat jika jumlahnya tidak terlalu banyak. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah bank di Indonesia per Maret 2024, mencapai 106 bank umum.
Presiden Direktur Centre for Banking Crisis (CBC), Achmad Deni Daruri mengingatkan, harus dipertimbangkan bahwa merger antar bank di Indonesia, tidak bisa dihindari di masa depan. karena persaingan di bidang perbankan yang semakin ketat.

BACA JUGA:
Endus Transaksi Mencurigakan, Perbankan Diminta Bangun Sistem Berantas Judi Online


&quot;Merger tersebut akan kehilangan arah perbaikan perbankan nasional yang tepat jika mengabaikan sifat masing-masing bank. Semakin sama perilaku dari bank-bank yang akan merger, semakin mudah adaptasi yang dilakukan oleh bank hasil merger tersebut,&quot; kata dia, Jakarta, Senin (10/6/2024).
Sifat-sifat bank, kata dia, pada akhirnya harus menjamin bahwa perbankan di masa depan mampu bersaing secara sehat. Sifat-sifat bank yang penting tersebut tercermin dalam besaran variabel Total Factor Productivity (TFP), Technical Efficiency, dan skala ekonomis.

BACA JUGA:
OJK Terbitkan Aturan Produk Pembiayaan Musyarakah Perbankan Syariah


&quot;Ketiga variabel itu merupakan necessary condition variables yang juga harus didampingi sufficient condition variables, yaitu average costs, marginal costs, net interest margin (NIM), return on assets (ROA), dan return on equity (ROE),&quot; kata Deny.
Perilaku bank sebelum merger, lanjut Deni, seperti kebijakan kredit, pengelolaan risiko, dan inovasi layanan, dapat menjadi dasar untuk mengidentifikasi kesamaan dan potensi sinergi.
&quot;Bank yang memiliki perilaku serupa dalam hal manajemen risiko, misalnya, dapat mengintegrasikan sistem mereka dengan lebih mulus, mengurangi redudansi, dan meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko secara keseluruhan,&quot; ungkapnya.
Dari perspektif operasional, lanjutnya, merger antara bank dengan  perilaku operasional yang serupa dapat menghasilkan efisiensi biaya yang  signifikan.
Penggabungan operasi back-office, misalnya, dapat mengurangi biaya  operasional dan meningkatkan margin keuntungan. Ini juga dapat  memungkinkan bank yang telah merger untuk mengalokasikan sumber daya  dengan lebih efektif, memprioritaskan investasi dalam teknologi atau  area pertumbuhan yang menjanjikan.
Dalam hal strategi bisnis, lanjutnya, bank yang memiliki pendekatan  serupa terhadap ekspansi pasar atau diversifikasi produk dapat  memanfaatkan merger untuk memperkuat posisi mereka di pasar yang ada  atau memasuki pasar baru dengan lebih efektif.
&quot;Sinergi strategis ini dapat menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang  lebih cepat dan memperluas jangkauan geografis bank yang telah merger.  Merger juga dapat memperkuat kemampuan bank untuk menangani perubahan  regulasi dan lingkungan ekonomi yang dinamis,&quot; ungkapnya.
Mengenai potensi PHK akibat merger, pemerintah Indonesia perlu  belajar dari Singapura yang telah terlebih dahulu melakukan merger bank.  Strategi penyaluran karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja  (PHK) akibat merger bank pemerintah di Singapura biasanya melibatkan  beberapa langkah kunci.
&quot;Pertama, pemerintah sering kali bekerja sama dengan lembaga  pelatihan untuk menyediakan program reskilling dan upskilling,  memastikan bahwa karyawan yang terkena dampak dapat meningkatkan  keterampilan mereka dan tetap relevan di pasar kerja,&quot; ungkapnya.
Kedua, lanjutnya, ada inisiatif pencocokan pekerjaan yang dilakukan  oleh agensi tenaga kerja pemerintah, yang membantu mantan karyawan  menemukan peluang kerja baru di sektor yang sedang berkembang atau  memiliki kekurangan tenaga kerja.
&quot;Ketiga, sering kali ada dukungan finansial sementara bagi karyawan  yang terkena PHK, memberikan mereka waktu untuk mencari pekerjaan tanpa  tekanan finansial yang berlebihan,&quot; tuturnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMy8yOC80LzE3ODkxNC81L3g4dnhpMG8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Industri perbankan di Indonesia bisa lebih sehat dan kuat jika jumlahnya tidak terlalu banyak. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah bank di Indonesia per Maret 2024, mencapai 106 bank umum.
Presiden Direktur Centre for Banking Crisis (CBC), Achmad Deni Daruri mengingatkan, harus dipertimbangkan bahwa merger antar bank di Indonesia, tidak bisa dihindari di masa depan. karena persaingan di bidang perbankan yang semakin ketat.

BACA JUGA:
Endus Transaksi Mencurigakan, Perbankan Diminta Bangun Sistem Berantas Judi Online


&quot;Merger tersebut akan kehilangan arah perbaikan perbankan nasional yang tepat jika mengabaikan sifat masing-masing bank. Semakin sama perilaku dari bank-bank yang akan merger, semakin mudah adaptasi yang dilakukan oleh bank hasil merger tersebut,&quot; kata dia, Jakarta, Senin (10/6/2024).
Sifat-sifat bank, kata dia, pada akhirnya harus menjamin bahwa perbankan di masa depan mampu bersaing secara sehat. Sifat-sifat bank yang penting tersebut tercermin dalam besaran variabel Total Factor Productivity (TFP), Technical Efficiency, dan skala ekonomis.

BACA JUGA:
OJK Terbitkan Aturan Produk Pembiayaan Musyarakah Perbankan Syariah


&quot;Ketiga variabel itu merupakan necessary condition variables yang juga harus didampingi sufficient condition variables, yaitu average costs, marginal costs, net interest margin (NIM), return on assets (ROA), dan return on equity (ROE),&quot; kata Deny.
Perilaku bank sebelum merger, lanjut Deni, seperti kebijakan kredit, pengelolaan risiko, dan inovasi layanan, dapat menjadi dasar untuk mengidentifikasi kesamaan dan potensi sinergi.
&quot;Bank yang memiliki perilaku serupa dalam hal manajemen risiko, misalnya, dapat mengintegrasikan sistem mereka dengan lebih mulus, mengurangi redudansi, dan meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko secara keseluruhan,&quot; ungkapnya.
Dari perspektif operasional, lanjutnya, merger antara bank dengan  perilaku operasional yang serupa dapat menghasilkan efisiensi biaya yang  signifikan.
Penggabungan operasi back-office, misalnya, dapat mengurangi biaya  operasional dan meningkatkan margin keuntungan. Ini juga dapat  memungkinkan bank yang telah merger untuk mengalokasikan sumber daya  dengan lebih efektif, memprioritaskan investasi dalam teknologi atau  area pertumbuhan yang menjanjikan.
Dalam hal strategi bisnis, lanjutnya, bank yang memiliki pendekatan  serupa terhadap ekspansi pasar atau diversifikasi produk dapat  memanfaatkan merger untuk memperkuat posisi mereka di pasar yang ada  atau memasuki pasar baru dengan lebih efektif.
&quot;Sinergi strategis ini dapat menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang  lebih cepat dan memperluas jangkauan geografis bank yang telah merger.  Merger juga dapat memperkuat kemampuan bank untuk menangani perubahan  regulasi dan lingkungan ekonomi yang dinamis,&quot; ungkapnya.
Mengenai potensi PHK akibat merger, pemerintah Indonesia perlu  belajar dari Singapura yang telah terlebih dahulu melakukan merger bank.  Strategi penyaluran karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja  (PHK) akibat merger bank pemerintah di Singapura biasanya melibatkan  beberapa langkah kunci.
&quot;Pertama, pemerintah sering kali bekerja sama dengan lembaga  pelatihan untuk menyediakan program reskilling dan upskilling,  memastikan bahwa karyawan yang terkena dampak dapat meningkatkan  keterampilan mereka dan tetap relevan di pasar kerja,&quot; ungkapnya.
Kedua, lanjutnya, ada inisiatif pencocokan pekerjaan yang dilakukan  oleh agensi tenaga kerja pemerintah, yang membantu mantan karyawan  menemukan peluang kerja baru di sektor yang sedang berkembang atau  memiliki kekurangan tenaga kerja.
&quot;Ketiga, sering kali ada dukungan finansial sementara bagi karyawan  yang terkena PHK, memberikan mereka waktu untuk mencari pekerjaan tanpa  tekanan finansial yang berlebihan,&quot; tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
