<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mekanisme FCA Pemantauan Khusus Bikin Investor Bingung, Khawatir Kehilangan Likuiditas</title><description>Mekanisme perdagangan saham periodic full call auction dalam Papan Pemantauan Khusus (PPK) dinilai bisa mempengarui terhadap likuiditas.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/13/278/3020961/mekanisme-fca-pemantauan-khusus-bikin-investor-bingung-khawatir-kehilangan-likuiditas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/06/13/278/3020961/mekanisme-fca-pemantauan-khusus-bikin-investor-bingung-khawatir-kehilangan-likuiditas"/><item><title>Mekanisme FCA Pemantauan Khusus Bikin Investor Bingung, Khawatir Kehilangan Likuiditas</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/13/278/3020961/mekanisme-fca-pemantauan-khusus-bikin-investor-bingung-khawatir-kehilangan-likuiditas</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/06/13/278/3020961/mekanisme-fca-pemantauan-khusus-bikin-investor-bingung-khawatir-kehilangan-likuiditas</guid><pubDate>Kamis 13 Juni 2024 09:38 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/13/278/3020961/mekanisme-fca-pemantauan-khusus-bikin-investor-bingung-khawatir-kehilangan-likuiditas-RGTATXl5Rf.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Perdagangan Saham FCA (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/13/278/3020961/mekanisme-fca-pemantauan-khusus-bikin-investor-bingung-khawatir-kehilangan-likuiditas-RGTATXl5Rf.JPG</image><title>Perdagangan Saham FCA (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8xMi8xLzE4MTcxMC81L3g5MDdkZDQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Mekanisme perdagangan saham periodic full call auction (FCA) dalam Papan Pemantauan Khusus (PPK) dinilai bisa mempengarui  terhadap likuiditas perdagangan.
Professional Trader &amp;amp; Trading Coach, Michael Yeoh, menyebut skema baru ini membuat bingung sebagian investor sekaligus dikhawatirkan sulit untuk melepas sesuai harga yang diinginkan.

BACA JUGA:
IHSG Dibuka Menguat 0,64% ke Level 6.893

&amp;ldquo;Jadi ini membuat investor, terutama ritel menjadi kebingungan bagaimana menyikapinya dan yang perlu digarisbawahi adalah hilangnya likuiditas. Kita punya saham, kita tidak bisa jual, ini konsen ritel,&amp;rdquo; kata Michael dalam Special Dialog iNews TV, dikutip Kamis (13/6/2024).
Michael menilai terdapat beberapa saham dengan bobot besar terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masuk dalam PPK, sehingga hal ini dikhawatirkan menjadi &amp;lsquo;pemberat&amp;rsquo; bagi laju indeks komposit.

BACA JUGA:
366 Saham Melemah, IHSG Berakhir di Level 6.855

Salah satunya saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Namun data terakhir menunjukkan BREN mengalami auto rejection atas (ARA) tiga hari bursa berturut-turut sejak Senin (10/6/2024).&amp;ldquo;BREN ini punya market cap besar, jadi geraknya mempengaruhi IHSG. Lambat laun ini akan terus mempengaruhi indeks,&amp;rdquo; paparnya.
Sebelumnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan metode call auction dapat membuat orderbook perdagangan menjadi tidak terlalu sensitif, terutama terhadap permintaan beli atau jual yang agresif, yang sejatinya untuk saham-saham yang masih dalam special monitoring.
&amp;ldquo;Dengan mekanisme perdagangan periodik call auction, order book menjadi tidak terlalu sensitif ya atas order-order agresif dengan jumlah yang besar. Jadi justru ini akan mengurani volatility,&amp;rdquo; kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, belum lama ini.
Bukan kosongan, bursa masih menyediakan Indicative Equilibrium Price (IEP), dan Indicative Equilibrium Volume (IEV) sebagai rujukan investor. Inarno menyebut IEP dan IEV didasarkan pada keseluruhan order yang ada di order book, dengan menghitung harga pada titik equilibrium.
&amp;ldquo;Jadi tidak hanya semata-mata melihat harga pada order dengan jumlah besar tersebut ya,&amp;rdquo; tegas Inarno.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8xMi8xLzE4MTcxMC81L3g5MDdkZDQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Mekanisme perdagangan saham periodic full call auction (FCA) dalam Papan Pemantauan Khusus (PPK) dinilai bisa mempengarui  terhadap likuiditas perdagangan.
Professional Trader &amp;amp; Trading Coach, Michael Yeoh, menyebut skema baru ini membuat bingung sebagian investor sekaligus dikhawatirkan sulit untuk melepas sesuai harga yang diinginkan.

BACA JUGA:
IHSG Dibuka Menguat 0,64% ke Level 6.893

&amp;ldquo;Jadi ini membuat investor, terutama ritel menjadi kebingungan bagaimana menyikapinya dan yang perlu digarisbawahi adalah hilangnya likuiditas. Kita punya saham, kita tidak bisa jual, ini konsen ritel,&amp;rdquo; kata Michael dalam Special Dialog iNews TV, dikutip Kamis (13/6/2024).
Michael menilai terdapat beberapa saham dengan bobot besar terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masuk dalam PPK, sehingga hal ini dikhawatirkan menjadi &amp;lsquo;pemberat&amp;rsquo; bagi laju indeks komposit.

BACA JUGA:
366 Saham Melemah, IHSG Berakhir di Level 6.855

Salah satunya saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Namun data terakhir menunjukkan BREN mengalami auto rejection atas (ARA) tiga hari bursa berturut-turut sejak Senin (10/6/2024).&amp;ldquo;BREN ini punya market cap besar, jadi geraknya mempengaruhi IHSG. Lambat laun ini akan terus mempengaruhi indeks,&amp;rdquo; paparnya.
Sebelumnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan metode call auction dapat membuat orderbook perdagangan menjadi tidak terlalu sensitif, terutama terhadap permintaan beli atau jual yang agresif, yang sejatinya untuk saham-saham yang masih dalam special monitoring.
&amp;ldquo;Dengan mekanisme perdagangan periodik call auction, order book menjadi tidak terlalu sensitif ya atas order-order agresif dengan jumlah yang besar. Jadi justru ini akan mengurani volatility,&amp;rdquo; kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, belum lama ini.
Bukan kosongan, bursa masih menyediakan Indicative Equilibrium Price (IEP), dan Indicative Equilibrium Volume (IEV) sebagai rujukan investor. Inarno menyebut IEP dan IEV didasarkan pada keseluruhan order yang ada di order book, dengan menghitung harga pada titik equilibrium.
&amp;ldquo;Jadi tidak hanya semata-mata melihat harga pada order dengan jumlah besar tersebut ya,&amp;rdquo; tegas Inarno.</content:encoded></item></channel></rss>
