<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kebijakan FCA Bisa Bikin Investor Bergejolak, Ini Penjelasannya</title><description>Para investor merespons soal mekanisme perdagangan saham periodic full call auction (FCA) dalam Papan Pemantauan Khusus.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/13/278/3021002/kebijakan-fca-bisa-bikin-investor-bergejolak-ini-penjelasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/06/13/278/3021002/kebijakan-fca-bisa-bikin-investor-bergejolak-ini-penjelasannya"/><item><title>Kebijakan FCA Bisa Bikin Investor Bergejolak, Ini Penjelasannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/13/278/3021002/kebijakan-fca-bisa-bikin-investor-bergejolak-ini-penjelasannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/06/13/278/3021002/kebijakan-fca-bisa-bikin-investor-bergejolak-ini-penjelasannya</guid><pubDate>Kamis 13 Juni 2024 11:40 WIB</pubDate><dc:creator>Kristalensi Bunga Nauli Sihite</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/13/278/3021002/kebijakan-fca-bisa-bikin-investor-bergejolak-ini-penjelasannya-DQHAevqgwO.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Kebijakan FCA Bikin Investor Bergejolak (Foto: Okezone).</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/13/278/3021002/kebijakan-fca-bisa-bikin-investor-bergejolak-ini-penjelasannya-DQHAevqgwO.JPG</image><title>Kebijakan FCA Bikin Investor Bergejolak (Foto: Okezone).</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8xMi8xLzE4MTcxMC81L3g5MDdkZDQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Para investor merespons soal mekanisme perdagangan saham periodic full call auction (FCA) dalam Papan Pemantauan Khusus (PPK). Para investor saat ini kerap mengevaluasi kebijakan tersebut.
Mereka menilai bahwa kebijakan yang telah ditetapkan tersebut cukup membingungkan. Tidak hanya itu, para investor juga sulit untuk memberi kepercayaan kepada emiten yang turut mengerek nilai indeks saham.

BACA JUGA:
366 Saham Melemah, IHSG Berakhir di Level 6.855

Pengamat Pasar Modal, Kartika Sutandi menyebutkan bahwa kondisi likuiditas yang semakin mengering membuat nasib para investor bergejolak.
&amp;ldquo;Menurut saya sih lagi tak baik-baik saja, kita paling concern tuh sama likuiditas. Menurut saya tuh likuiditas sekarang ini mengering kalau dari data yang kita kumpulin,&amp;rdquo; ujarnya dalam Special Dialog iNews TV, dikutip Kamis (13/6/2024).

BACA JUGA:
Jadi Emiten Baru BEI, Harga Saham Benteng Api (BATR) Langsung Melesat 18,18%&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Kartika menambahkan bahwa persentase tingkat likuiditas di kalangan domestik mengalami penurunan sekitar 2% sedangkan saham yang termasuk ke dalam FCA mengalami penurunan tingkat persentase lebih dari 50%.&amp;ldquo;Kita worried, ya, karena dengan likuiditas nggak ada itu berarti risiko tambah tinggi, kalau risiko tambah tinggi berarti required rate yang kita minta itu lebih tinggi. Otomatis harga sahamnya tambah turun. FCA juga nggak kelihatan bid offer,&amp;rdquo; tuturnya.
Dengan kondisi seperti ini, para investor berharap agar BEI dapat terbuka dan transparan. Komunikasi dan evaluasi yang transparan menjadi suatu hal yang esensial agar dapat kembali menstabilkan pasar saham, serta memulihkan kepercayaan para investor.
&amp;ldquo;Bursa tuh harus transparan. Kalau nggak ada transparansi lagi-lagi risikonya naik. Banyak regulasi yang mereduce transparansi Bursa Efek Indonesia. Satu, kode broker dihilangin. Dua, flow asing dihilangin. Ketiga, FCA bid offer nggak kelihatan,&amp;rdquo; jelas Kartika.
Kondisi tersebut dinilai memiliki risiko yang cukup tinggi yang juga turut diikuti dengan required ratenya yang kian menaik membuat para investor semakin bergejolak dengan penerapan kebijakan terbaru ini.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8xMi8xLzE4MTcxMC81L3g5MDdkZDQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Para investor merespons soal mekanisme perdagangan saham periodic full call auction (FCA) dalam Papan Pemantauan Khusus (PPK). Para investor saat ini kerap mengevaluasi kebijakan tersebut.
Mereka menilai bahwa kebijakan yang telah ditetapkan tersebut cukup membingungkan. Tidak hanya itu, para investor juga sulit untuk memberi kepercayaan kepada emiten yang turut mengerek nilai indeks saham.

BACA JUGA:
366 Saham Melemah, IHSG Berakhir di Level 6.855

Pengamat Pasar Modal, Kartika Sutandi menyebutkan bahwa kondisi likuiditas yang semakin mengering membuat nasib para investor bergejolak.
&amp;ldquo;Menurut saya sih lagi tak baik-baik saja, kita paling concern tuh sama likuiditas. Menurut saya tuh likuiditas sekarang ini mengering kalau dari data yang kita kumpulin,&amp;rdquo; ujarnya dalam Special Dialog iNews TV, dikutip Kamis (13/6/2024).

BACA JUGA:
Jadi Emiten Baru BEI, Harga Saham Benteng Api (BATR) Langsung Melesat 18,18%&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Kartika menambahkan bahwa persentase tingkat likuiditas di kalangan domestik mengalami penurunan sekitar 2% sedangkan saham yang termasuk ke dalam FCA mengalami penurunan tingkat persentase lebih dari 50%.&amp;ldquo;Kita worried, ya, karena dengan likuiditas nggak ada itu berarti risiko tambah tinggi, kalau risiko tambah tinggi berarti required rate yang kita minta itu lebih tinggi. Otomatis harga sahamnya tambah turun. FCA juga nggak kelihatan bid offer,&amp;rdquo; tuturnya.
Dengan kondisi seperti ini, para investor berharap agar BEI dapat terbuka dan transparan. Komunikasi dan evaluasi yang transparan menjadi suatu hal yang esensial agar dapat kembali menstabilkan pasar saham, serta memulihkan kepercayaan para investor.
&amp;ldquo;Bursa tuh harus transparan. Kalau nggak ada transparansi lagi-lagi risikonya naik. Banyak regulasi yang mereduce transparansi Bursa Efek Indonesia. Satu, kode broker dihilangin. Dua, flow asing dihilangin. Ketiga, FCA bid offer nggak kelihatan,&amp;rdquo; jelas Kartika.
Kondisi tersebut dinilai memiliki risiko yang cukup tinggi yang juga turut diikuti dengan required ratenya yang kian menaik membuat para investor semakin bergejolak dengan penerapan kebijakan terbaru ini.</content:encoded></item></channel></rss>
