<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rupiah Anjlok ke Rp16.300 per USD, Harga Bahan Bangunan Kian Mahal</title><description>Gapensi mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi sektor jasa konstruksi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/19/320/3023391/rupiah-anjlok-ke-rp16-300-per-usd-harga-bahan-bangunan-kian-mahal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/06/19/320/3023391/rupiah-anjlok-ke-rp16-300-per-usd-harga-bahan-bangunan-kian-mahal"/><item><title>Rupiah Anjlok ke Rp16.300 per USD, Harga Bahan Bangunan Kian Mahal</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/19/320/3023391/rupiah-anjlok-ke-rp16-300-per-usd-harga-bahan-bangunan-kian-mahal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/06/19/320/3023391/rupiah-anjlok-ke-rp16-300-per-usd-harga-bahan-bangunan-kian-mahal</guid><pubDate>Rabu 19 Juni 2024 18:33 WIB</pubDate><dc:creator>Jihaan Haniifah Yarra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/19/320/3023391/rupiah-anjlok-ke-rp16-300-per-usd-harga-bahan-bangunan-kian-mahal-9x9llctJcq.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Nilai tukar rupiah melemah (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/19/320/3023391/rupiah-anjlok-ke-rp16-300-per-usd-harga-bahan-bangunan-kian-mahal-9x9llctJcq.jpeg</image><title>Nilai tukar rupiah melemah (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8xNy8xLzE4MTg1Ni81L3g5MGgxNXE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi sektor jasa konstruksi. Pertama, pelemahan nilai tukar Rupiah yang juga diikuti oleh menguatnya dolar AS secara signifikan memengaruhi biaya bahan baku impor yang digunakan dalam sektor konstruksi.
&quot;Ketika nilai Rupiah melemah, harga bahan baku impor seperti besi, baja, semen, dan alat-alat berat yang diimpor akan meningkat,&quot; ucap Ketua Umum BPP Gapensi Andi Rukman Karumpa, Rabu (19/6/2024).

BACA JUGA:
Apa Efeknya Rupiah Melemah?


Andi menyebut kenaikan biaya ini berdampak langsung pada peningkatan biaya produksi secara keseluruhan. Akibatnya, margin keuntungan menjadi lebih kecil dan harga proyek bisa melonjak jika tidak ada penyesuaian anggaran.
&quot;Kami dari GAPENSI sangat mempertimbangkan untuk mengusulkan eskalasi nilai proyek kepada pemerintah,&quot; sambung Andi.
Menurut Andi, surat Kementerian Keuangan Nomor S-940/MK/2022 tentang usulan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang penyesuaian harga (eskalasi) pada kontrak pekerjaan konstruksi tahun anggaran 2022 akibat kenaikan harga BBM dan aspal, pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) belum memberikan dampak positif kepada pelaku jasa konstruksi. Andi menilai kenaikan biaya bahan baku yang tidak terduga ini perlu diakomodasi agar proyek-proyek dapat berjalan sesuai dengan rencana tanpa menurunkan kualitas.

BACA JUGA:
Rupiah Melemah ke Rp16.300 per USD, Gubernur BI Tak Khawatir


&quot;Kami berharap pemerintah bisa memahami situasi ini dan memberikan dukungan melalui penyesuaian anggaran atau kebijakan yang meringankan beban kontraktor,&quot; lanjut Andi.
Selain kenaikan biaya bahan baku, ucap Andi, pelemahan nilai tukar rupiah juga membawa beberapa dampak lain yang dirasakan oleh pengusaha jasa konstruksi, mulai dari keterbatasan likuiditas, penundaan proyek, risiko kredit, dan inflasi.
Andi memaparkan kenaikan biaya impor bisa memengaruhi aliran kas  perusahaan, terutama bagi kontraktor yang bergantung pada bahan baku  impor dalam jumlah besar. Menurut Andi, proyek yang sudah berjalan bisa  mengalami penundaan karena perlu dilakukan renegosiasi anggaran atau  mencari sumber dana tambahan.
Dari sisi risiko kredit, lanjut Andi, peningkatan biaya dapat  meningkatkan risiko kredit bagi perusahaan yang sudah memiliki komitmen  pembayaran kepada pihak ketiga. Sedangkan dari sisi inflasi, kenaikan  harga bahan baku dan alat berat dapat berkontribusi pada inflasi, yang  juga akan mempengaruhi biaya operasional sehari-hari.
&quot;Melemahnya rupiah bisa berdampak pada peningkatan biaya konstruksi  yang saat ini tengah berlangsung, hal ini pernah kita temui pada 2022  dan kami sudah mengirimkan surat kepada Menteri Keuangan,&quot; kata Andi.
Andi menyebut pemerintah harus menyiapkan skema untuk meredam  pelemahan rupiah terhadap sektor kostruksi, salah satunya adalah  eskalask atau peningkatan nilai kontrak sebuah proyek yang selanjutnya  diajukan kepada Kementrian Keuangan untuk menutup pembengkakan biaya  konstruksi akibat adanya pelemahan rupiah terhadap dolar AS.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8xNy8xLzE4MTg1Ni81L3g5MGgxNXE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi sektor jasa konstruksi. Pertama, pelemahan nilai tukar Rupiah yang juga diikuti oleh menguatnya dolar AS secara signifikan memengaruhi biaya bahan baku impor yang digunakan dalam sektor konstruksi.
&quot;Ketika nilai Rupiah melemah, harga bahan baku impor seperti besi, baja, semen, dan alat-alat berat yang diimpor akan meningkat,&quot; ucap Ketua Umum BPP Gapensi Andi Rukman Karumpa, Rabu (19/6/2024).

BACA JUGA:
Apa Efeknya Rupiah Melemah?


Andi menyebut kenaikan biaya ini berdampak langsung pada peningkatan biaya produksi secara keseluruhan. Akibatnya, margin keuntungan menjadi lebih kecil dan harga proyek bisa melonjak jika tidak ada penyesuaian anggaran.
&quot;Kami dari GAPENSI sangat mempertimbangkan untuk mengusulkan eskalasi nilai proyek kepada pemerintah,&quot; sambung Andi.
Menurut Andi, surat Kementerian Keuangan Nomor S-940/MK/2022 tentang usulan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang penyesuaian harga (eskalasi) pada kontrak pekerjaan konstruksi tahun anggaran 2022 akibat kenaikan harga BBM dan aspal, pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) belum memberikan dampak positif kepada pelaku jasa konstruksi. Andi menilai kenaikan biaya bahan baku yang tidak terduga ini perlu diakomodasi agar proyek-proyek dapat berjalan sesuai dengan rencana tanpa menurunkan kualitas.

BACA JUGA:
Rupiah Melemah ke Rp16.300 per USD, Gubernur BI Tak Khawatir


&quot;Kami berharap pemerintah bisa memahami situasi ini dan memberikan dukungan melalui penyesuaian anggaran atau kebijakan yang meringankan beban kontraktor,&quot; lanjut Andi.
Selain kenaikan biaya bahan baku, ucap Andi, pelemahan nilai tukar rupiah juga membawa beberapa dampak lain yang dirasakan oleh pengusaha jasa konstruksi, mulai dari keterbatasan likuiditas, penundaan proyek, risiko kredit, dan inflasi.
Andi memaparkan kenaikan biaya impor bisa memengaruhi aliran kas  perusahaan, terutama bagi kontraktor yang bergantung pada bahan baku  impor dalam jumlah besar. Menurut Andi, proyek yang sudah berjalan bisa  mengalami penundaan karena perlu dilakukan renegosiasi anggaran atau  mencari sumber dana tambahan.
Dari sisi risiko kredit, lanjut Andi, peningkatan biaya dapat  meningkatkan risiko kredit bagi perusahaan yang sudah memiliki komitmen  pembayaran kepada pihak ketiga. Sedangkan dari sisi inflasi, kenaikan  harga bahan baku dan alat berat dapat berkontribusi pada inflasi, yang  juga akan mempengaruhi biaya operasional sehari-hari.
&quot;Melemahnya rupiah bisa berdampak pada peningkatan biaya konstruksi  yang saat ini tengah berlangsung, hal ini pernah kita temui pada 2022  dan kami sudah mengirimkan surat kepada Menteri Keuangan,&quot; kata Andi.
Andi menyebut pemerintah harus menyiapkan skema untuk meredam  pelemahan rupiah terhadap sektor kostruksi, salah satunya adalah  eskalask atau peningkatan nilai kontrak sebuah proyek yang selanjutnya  diajukan kepada Kementrian Keuangan untuk menutup pembengkakan biaya  konstruksi akibat adanya pelemahan rupiah terhadap dolar AS.</content:encoded></item></channel></rss>
