<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga Acuan di Level 6,25%</title><description>Bank Indonesia (BI) diproyeksi menahan suku bunga acuan di level 6,25%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/20/320/3023597/bi-diproyeksi-tahan-suku-bunga-acuan-di-level-6-25</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/06/20/320/3023597/bi-diproyeksi-tahan-suku-bunga-acuan-di-level-6-25"/><item><title>BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga Acuan di Level 6,25%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/20/320/3023597/bi-diproyeksi-tahan-suku-bunga-acuan-di-level-6-25</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/06/20/320/3023597/bi-diproyeksi-tahan-suku-bunga-acuan-di-level-6-25</guid><pubDate>Kamis 20 Juni 2024 09:34 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/20/320/3023597/bi-diproyeksi-tahan-suku-bunga-acuan-di-level-6-25-RvTj2ekjFs.jpg" expression="full" type="image/jpeg">BI diprediksi tahan suku bunga acuan (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/20/320/3023597/bi-diproyeksi-tahan-suku-bunga-acuan-di-level-6-25-RvTj2ekjFs.jpg</image><title>BI diprediksi tahan suku bunga acuan (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wMi80LzE2MzY3NC81L3g4ajVkNTg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Bank Indonesia (BI) diproyeksi menahan suku bunga acuan di level 6,25%. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky menilai BI perlu mempertahankan BI Rate di level 6,25% di periode ini. Saran ini diberikan atas dasar beberapa bahan pertimbangan.
Pertimbangan pertama, setelah perayaan Idul Fitri, inflasi umum di Indonesia turun menjadi 2,84% (yoy) di bulan Mei 2024 dari 3,00% (yoy) di bulan April 2024 dan masih berada dalam kisaran target BI.

BACA JUGA:
Wall Street Tertekan Suku Bunga dan Imbal Hasil Obligasi AS


&quot;Penurunan inflasi umum terjadi karena berkurangnya permintaan konsumen pasca Idul Fitri dan stabilnya harga bahan pangan akibat musim panen,&quot; kata Riefky dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (20/6/2024).
Tingkat inflasi saat ini masih berada di dalam kisaran target BI sebesar 1,5% hingga 3,5%. Penurunan inflasi sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya permintaan konsumen pasca-Idul Fitri, yang terlihat dari penurunan tingkat inflasi untuk kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, yang turun menjadi 6,18% (yoy) pada Mei 2024 dari 7,04% (yoy) pada April 2024.

BACA JUGA:
LPS Pertahankan Tingkat Suku Bunga Penjaminan 4,25%


Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD2,93 miliar di Mei 2024, naik 7,61% (mtm) atau USD0,21 miliar dari USD2,72 miliar di April 2024.
Akibat efek basis rendah (low-base effect), surplus perdagangan Mei bahkan tumbuh 585,10% (yoy) secara tahunan seiring nilai neraca perdagangan di Mei 2023 tercatat di titik terendahnya selama empat tahun terakhir.
&quot;Di Mei 2024, baik ekspor maupun impor mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, dan peningkatan neraca perdagangan secara keseluruhan didorong oleh peningkatan ekspor yang melampaui impor,&quot; ujarnya.
Selain itu, keputusan The Fed memicu arus modal keluar dan  berkontribusi pada depresiasi rupiah sebesar 2,79% (mtm) antara  pertengahan Mei dan pertengahan Juni. Adapun rupiah terdepresiasi  sebesar 2,79% (mtm) antara pertengahan Mei dan pertengahan Juni,  mencapai level terendah sejak April 2020, terutama disebabkan oleh  penguatan dolar AS.
Antara pertengahan Mei dan pertengahan Juni, Rupiah terdepresiasi  sebesar 2,79% secara bulanan, turun dari Rp15.950 per USD pada 17 Mei  menjadi Rp16.395 per USD pada 14 Juni. Angka ini menandai level terendah  sejak April 2020, saat awal pandemi Covid-19. Pelemahan Rupiah terutama  disebabkan oleh penguatan dolar AS, yang telah berdampak pada mata uang  global.
Tren ini tidak hanya terjadi di Indonesia; beberapa mata uang Asia  lainnya juga menunjukkan pola depresiasi yang serupa. Baht Thailand,  Ringgit Malaysia, dan Won Korea Selatan, misalnya, semuanya  terdepresiasi terhadap dollar AS pada periode yang sama.
Secara year-to-date, Rupiah telah terdepresiasi sebesar 7,07% (ytd),  menunjukkan kinerja yang moderat dibandingkan dengan mata uang lainnya.  Terlepas dari tantangan tersebut, cadangan devisa Indonesia mengalami  peningkatan sebesar USD2,8 miliar, naik dari USD136,2 miliar pada April  2024 menjadi USD138,97 miliar pada Mei 2024.
Meskipun demikian, peningkatan cadangan devisa pada Mei 2024  memberikan penyangga terhadap tekanan nilai tukar. Strategi triple  intervention BI diharapkan dapat membantu mengelola volatilitas Rupiah.
&quot;Kami melihat bahwa BI perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya di 6,25%,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wMi80LzE2MzY3NC81L3g4ajVkNTg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Bank Indonesia (BI) diproyeksi menahan suku bunga acuan di level 6,25%. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky menilai BI perlu mempertahankan BI Rate di level 6,25% di periode ini. Saran ini diberikan atas dasar beberapa bahan pertimbangan.
Pertimbangan pertama, setelah perayaan Idul Fitri, inflasi umum di Indonesia turun menjadi 2,84% (yoy) di bulan Mei 2024 dari 3,00% (yoy) di bulan April 2024 dan masih berada dalam kisaran target BI.

BACA JUGA:
Wall Street Tertekan Suku Bunga dan Imbal Hasil Obligasi AS


&quot;Penurunan inflasi umum terjadi karena berkurangnya permintaan konsumen pasca Idul Fitri dan stabilnya harga bahan pangan akibat musim panen,&quot; kata Riefky dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (20/6/2024).
Tingkat inflasi saat ini masih berada di dalam kisaran target BI sebesar 1,5% hingga 3,5%. Penurunan inflasi sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya permintaan konsumen pasca-Idul Fitri, yang terlihat dari penurunan tingkat inflasi untuk kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, yang turun menjadi 6,18% (yoy) pada Mei 2024 dari 7,04% (yoy) pada April 2024.

BACA JUGA:
LPS Pertahankan Tingkat Suku Bunga Penjaminan 4,25%


Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD2,93 miliar di Mei 2024, naik 7,61% (mtm) atau USD0,21 miliar dari USD2,72 miliar di April 2024.
Akibat efek basis rendah (low-base effect), surplus perdagangan Mei bahkan tumbuh 585,10% (yoy) secara tahunan seiring nilai neraca perdagangan di Mei 2023 tercatat di titik terendahnya selama empat tahun terakhir.
&quot;Di Mei 2024, baik ekspor maupun impor mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, dan peningkatan neraca perdagangan secara keseluruhan didorong oleh peningkatan ekspor yang melampaui impor,&quot; ujarnya.
Selain itu, keputusan The Fed memicu arus modal keluar dan  berkontribusi pada depresiasi rupiah sebesar 2,79% (mtm) antara  pertengahan Mei dan pertengahan Juni. Adapun rupiah terdepresiasi  sebesar 2,79% (mtm) antara pertengahan Mei dan pertengahan Juni,  mencapai level terendah sejak April 2020, terutama disebabkan oleh  penguatan dolar AS.
Antara pertengahan Mei dan pertengahan Juni, Rupiah terdepresiasi  sebesar 2,79% secara bulanan, turun dari Rp15.950 per USD pada 17 Mei  menjadi Rp16.395 per USD pada 14 Juni. Angka ini menandai level terendah  sejak April 2020, saat awal pandemi Covid-19. Pelemahan Rupiah terutama  disebabkan oleh penguatan dolar AS, yang telah berdampak pada mata uang  global.
Tren ini tidak hanya terjadi di Indonesia; beberapa mata uang Asia  lainnya juga menunjukkan pola depresiasi yang serupa. Baht Thailand,  Ringgit Malaysia, dan Won Korea Selatan, misalnya, semuanya  terdepresiasi terhadap dollar AS pada periode yang sama.
Secara year-to-date, Rupiah telah terdepresiasi sebesar 7,07% (ytd),  menunjukkan kinerja yang moderat dibandingkan dengan mata uang lainnya.  Terlepas dari tantangan tersebut, cadangan devisa Indonesia mengalami  peningkatan sebesar USD2,8 miliar, naik dari USD136,2 miliar pada April  2024 menjadi USD138,97 miliar pada Mei 2024.
Meskipun demikian, peningkatan cadangan devisa pada Mei 2024  memberikan penyangga terhadap tekanan nilai tukar. Strategi triple  intervention BI diharapkan dapat membantu mengelola volatilitas Rupiah.
&quot;Kami melihat bahwa BI perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya di 6,25%,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
