<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bahan Bakar Pesawat dari Minyak Jelantah, Harga Tiket Bisa Murah?</title><description>Irfan Setiaputra menyambut baik wacana pemerintah untuk menggantikan bahan bakar pesawat terbang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/20/320/3023973/bahan-bakar-pesawat-dari-minyak-jelantah-harga-tiket-bisa-murah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/06/20/320/3023973/bahan-bakar-pesawat-dari-minyak-jelantah-harga-tiket-bisa-murah"/><item><title>Bahan Bakar Pesawat dari Minyak Jelantah, Harga Tiket Bisa Murah?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/20/320/3023973/bahan-bakar-pesawat-dari-minyak-jelantah-harga-tiket-bisa-murah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/06/20/320/3023973/bahan-bakar-pesawat-dari-minyak-jelantah-harga-tiket-bisa-murah</guid><pubDate>Kamis 20 Juni 2024 21:23 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/20/320/3023973/bahan-bakar-pesawat-dari-minyak-jelantah-harga-tiket-bisa-murah-hTxzqA6D93.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Garuda Indonesia. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/20/320/3023973/bahan-bakar-pesawat-dari-minyak-jelantah-harga-tiket-bisa-murah-hTxzqA6D93.jpg</image><title>Garuda Indonesia. (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8xOS80LzE4MTkxMy81L3g5MGtiMnU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra menyambut baik wacana pemerintah untuk menggantikan bahan bakar pesawat terbang menggunakan minyak jelantah. Hal itu menurutnya baik untuk keberlangsungan industri penerbangan dalam upaya menurunkan emisi gas buang.
Meski demikian, Irfan mengatakan terkait harganya memang saat ini masih didiskusikan lebih lanjut bersama pihak-pihak terkait termasuk pemerintah. Termasuk penambahan beban biaya untuk belanja bahan bakar, dan bisa berdampak pada harga tiket pesawat.

BACA JUGA:
Rupiah Terus Melemah ke Rp16.400, Bos Garuda: Bisa Babak Belur Kita

&quot;Harganya ntar dulu lah. Belum apa-apa udah nanya harganya,&quot; ujar Irfan saat ditemui di Jakarta, Kamis (20/6/2024).
Meski demikian, Irfan mengaku perseroan akan mendukung upaya pemerintah untuk mengganti bahan bakar pesawat menggunakan minyak jelantah atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Sebab hal itu juga sejalan dengan komitmen perusahaan maskapai di seluruh dunia dalam rangka menurunkan emisi karbon.

BACA JUGA:
Penumpang Bercanda Bawa Bom di Pesawat, Dirut Garuda Indonesia: Penerbangan Delay 10 Jam&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&quot;Kita support, kan memang SAF itu kan harus untuk kemudian kita melakukan penggantian dari avtur menjadi SAF. Tinggal dicampur apa nanti, yang kemarin kita tes kan dicampur dengan sawit ya,&quot; kata Irfan.&quot;Kita komitmen mendukung itu, dan asal tau aja kita airlines satu-satunya di Republik ini yang sudah punya unit sustainability,&quot; sambungnya.
Pada kesempatan yang berbeda, Analis Independen Bisnis Penerbangan Nasional, Gatot Rahardjo menjelaskan penggunaan SAF sebagai bahan bakar pesawat sendiri masih menyimpan isu besar terkait dampaknya pada harga tiket pesawat.
Menurut Gatot saat ini masih lebih mahal dari avtur karena melewati proses produksi yang lebih panjang. Belum lagi masalah ketersediaan produk juga harus benar-benar dipastikan karena permintaan akan semakin banyak jika sudah masuk dalam industri penerbangan.
&quot;Ada beberapa tantangan dalam menggunakan SAF, yaitu  kontinuitas ketersediaan SAF, harganya (sampai saat ini harganya lebih mahal dari avtur), aturan dan sertifikasi, infrastruktur pendukung seperti penyelenggaraan di bandara, persepsi publik terkait keselamatan jika menggunakan SAF,&quot; tutupnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8xOS80LzE4MTkxMy81L3g5MGtiMnU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra menyambut baik wacana pemerintah untuk menggantikan bahan bakar pesawat terbang menggunakan minyak jelantah. Hal itu menurutnya baik untuk keberlangsungan industri penerbangan dalam upaya menurunkan emisi gas buang.
Meski demikian, Irfan mengatakan terkait harganya memang saat ini masih didiskusikan lebih lanjut bersama pihak-pihak terkait termasuk pemerintah. Termasuk penambahan beban biaya untuk belanja bahan bakar, dan bisa berdampak pada harga tiket pesawat.

BACA JUGA:
Rupiah Terus Melemah ke Rp16.400, Bos Garuda: Bisa Babak Belur Kita

&quot;Harganya ntar dulu lah. Belum apa-apa udah nanya harganya,&quot; ujar Irfan saat ditemui di Jakarta, Kamis (20/6/2024).
Meski demikian, Irfan mengaku perseroan akan mendukung upaya pemerintah untuk mengganti bahan bakar pesawat menggunakan minyak jelantah atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Sebab hal itu juga sejalan dengan komitmen perusahaan maskapai di seluruh dunia dalam rangka menurunkan emisi karbon.

BACA JUGA:
Penumpang Bercanda Bawa Bom di Pesawat, Dirut Garuda Indonesia: Penerbangan Delay 10 Jam&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&quot;Kita support, kan memang SAF itu kan harus untuk kemudian kita melakukan penggantian dari avtur menjadi SAF. Tinggal dicampur apa nanti, yang kemarin kita tes kan dicampur dengan sawit ya,&quot; kata Irfan.&quot;Kita komitmen mendukung itu, dan asal tau aja kita airlines satu-satunya di Republik ini yang sudah punya unit sustainability,&quot; sambungnya.
Pada kesempatan yang berbeda, Analis Independen Bisnis Penerbangan Nasional, Gatot Rahardjo menjelaskan penggunaan SAF sebagai bahan bakar pesawat sendiri masih menyimpan isu besar terkait dampaknya pada harga tiket pesawat.
Menurut Gatot saat ini masih lebih mahal dari avtur karena melewati proses produksi yang lebih panjang. Belum lagi masalah ketersediaan produk juga harus benar-benar dipastikan karena permintaan akan semakin banyak jika sudah masuk dalam industri penerbangan.
&quot;Ada beberapa tantangan dalam menggunakan SAF, yaitu  kontinuitas ketersediaan SAF, harganya (sampai saat ini harganya lebih mahal dari avtur), aturan dan sertifikasi, infrastruktur pendukung seperti penyelenggaraan di bandara, persepsi publik terkait keselamatan jika menggunakan SAF,&quot; tutupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
