<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Minta Kepastian Pasokan, Industri Pengguna Gas Bumi Usul HGBT Dihapus</title><description>Industri pengguna gas bumi menekankan pentingnya keberlanjutan pasokan di dalam negeri.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/21/320/3024411/minta-kepastian-pasokan-industri-pengguna-gas-bumi-usul-hgbt-dihapus</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/06/21/320/3024411/minta-kepastian-pasokan-industri-pengguna-gas-bumi-usul-hgbt-dihapus"/><item><title>Minta Kepastian Pasokan, Industri Pengguna Gas Bumi Usul HGBT Dihapus</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/21/320/3024411/minta-kepastian-pasokan-industri-pengguna-gas-bumi-usul-hgbt-dihapus</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/06/21/320/3024411/minta-kepastian-pasokan-industri-pengguna-gas-bumi-usul-hgbt-dihapus</guid><pubDate>Jum'at 21 Juni 2024 19:05 WIB</pubDate><dc:creator>Farida Syifa Anandita</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/21/320/3024411/minta-kepastian-pasokan-industri-pengguna-gas-bumi-usul-hgbt-dihapus-KnWEur2S6C.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Industri pengguna gas bumi usul HGBT dihapus (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/21/320/3024411/minta-kepastian-pasokan-industri-pengguna-gas-bumi-usul-hgbt-dihapus-KnWEur2S6C.jpg</image><title>Industri pengguna gas bumi usul HGBT dihapus (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8wMS8xLzE4MTMxMi81L3g4emc0cGM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Industri pengguna gas bumi menekankan pentingnya keberlanjutan pasokan di dalam negeri. Untuk itu, penguatan koordinasi serta terciptanya kesepahaman lintas sektor mutlak diperlukan dalam rangka optimalisasi gas bumi di dalam negeri.
Wakil Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Achmad Widjaja mengatakan hal terpenting bagi industri pengguna gas bumi adalah kepastian pasokan dan kepastian harga. Supaya keberlangsungan serta keberlanjutan produksi terjaga.

BACA JUGA:
Target 1 Juta Barel, Skema Cost Recovery Dinilai Bisa Dorong Investasi Migas


Pihaknya menyadari bahwa konsistensi kepastian pasokan gas bumi saat ini sulit terealisasi karena masih terdapat sejumlah faktor yang harus dibenahi. Salah satunya terkait harga sebagaimana tercermin dalam program gas murah untuk industri yang dikenal sebagai Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).
&amp;rdquo;Kalau perlu HGBT buat industri dicabut saja nggak apa-apa. Yang penting adalah perlu kepastian pasokan,&amp;rdquo; ucap Achmad, Jumat (21/6/2024).

BACA JUGA:
Eksplorasi dan Eksploitasi Sumur Baru, SKK Migas Bahas Optimalisasi Rig

Program HGBT yang mematok harga sebesar USD6 per MMBTU, kata Achmad, satu sisi memang sangat bermanfaat dan dinikmati industri pengguna gas bumi. Meski begitu di sisi lain pada saat yang sama negara harus menyubsidi ke sektor hulu migas sehingga produksinya akan sangat tergantung ketersediaan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) itu sendiri.
Selain itu, di sisi lain lagi yaitu midstream dan downstream sebagai pihak pemilik  serta pengelola infrastruktur penyaluran gas bumi, harga tersebut juga tidak mencapai nilai keekonomian. Situasi ini yang menciptakan ketidakpastian akan pasokan sehingga pada akhirnya juga tidak menguntungkan bagi pihak manapun.
&amp;rdquo;Padahal yang terpenting adalah kepastian pasokan gas ke industri,&amp;rdquo; tegasnya.
Achmad berharap segera ditentukan skema yang pasti dan untuk  mencapai hal tersebut diperlukan koodinasi lintas sektor mulai dari  Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, serta  kesepahaman antara pelaku industri migas dan juga industri pengguna gas  bumi.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, pada  kesempatan yang sama menegaskan koordinasi lintas sektor tersebut sangat  penting supaya terwujud keseimbangan yang tidak merugikan pihak  manapun. Termasuk industri pengguna gas bumi tidak akan diuntungkan  karena tercipta kepastian pasokan dan harga.
&amp;rdquo;Selama ini tidak ada kesepahaman maka akan berpengaruh kepada  komersialisasi gas bumi di Indonesia. padahal kebutuhan gas bumi  diperkirakan akan terus bertambah dalam 10 tahun ke depan,&amp;rdquo; ujarnya.
Pada program HGBT, misalnya, Komaidi menjelaskan Kementerian  Perindustrian terus mendorong supaya kebijakan ini dilanjutkan dan  bahkan jumlah industri penerimanya ditambah. Sebaliknya, pada saat yang  sama, Kementerian Keuangan menyadari bahwa program ini kian membebani  keuangan negara.
Begitu juga Kementerian ESDM menyadari pentingnya evaluasi program  HGBT ini supaya tidak hanya menguntungkan salah satu pihak sedangkan  terdapat industri lain yang kian terganggu mata rantainya. &amp;rdquo;Nilai  keekonomian proyek gas bumi juga penting karena ini adalah penentu  supply gas bumi untuk industri,&amp;rdquo; ucap Komaidi.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8wMS8xLzE4MTMxMi81L3g4emc0cGM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Industri pengguna gas bumi menekankan pentingnya keberlanjutan pasokan di dalam negeri. Untuk itu, penguatan koordinasi serta terciptanya kesepahaman lintas sektor mutlak diperlukan dalam rangka optimalisasi gas bumi di dalam negeri.
Wakil Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Achmad Widjaja mengatakan hal terpenting bagi industri pengguna gas bumi adalah kepastian pasokan dan kepastian harga. Supaya keberlangsungan serta keberlanjutan produksi terjaga.

BACA JUGA:
Target 1 Juta Barel, Skema Cost Recovery Dinilai Bisa Dorong Investasi Migas


Pihaknya menyadari bahwa konsistensi kepastian pasokan gas bumi saat ini sulit terealisasi karena masih terdapat sejumlah faktor yang harus dibenahi. Salah satunya terkait harga sebagaimana tercermin dalam program gas murah untuk industri yang dikenal sebagai Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).
&amp;rdquo;Kalau perlu HGBT buat industri dicabut saja nggak apa-apa. Yang penting adalah perlu kepastian pasokan,&amp;rdquo; ucap Achmad, Jumat (21/6/2024).

BACA JUGA:
Eksplorasi dan Eksploitasi Sumur Baru, SKK Migas Bahas Optimalisasi Rig

Program HGBT yang mematok harga sebesar USD6 per MMBTU, kata Achmad, satu sisi memang sangat bermanfaat dan dinikmati industri pengguna gas bumi. Meski begitu di sisi lain pada saat yang sama negara harus menyubsidi ke sektor hulu migas sehingga produksinya akan sangat tergantung ketersediaan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) itu sendiri.
Selain itu, di sisi lain lagi yaitu midstream dan downstream sebagai pihak pemilik  serta pengelola infrastruktur penyaluran gas bumi, harga tersebut juga tidak mencapai nilai keekonomian. Situasi ini yang menciptakan ketidakpastian akan pasokan sehingga pada akhirnya juga tidak menguntungkan bagi pihak manapun.
&amp;rdquo;Padahal yang terpenting adalah kepastian pasokan gas ke industri,&amp;rdquo; tegasnya.
Achmad berharap segera ditentukan skema yang pasti dan untuk  mencapai hal tersebut diperlukan koodinasi lintas sektor mulai dari  Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, serta  kesepahaman antara pelaku industri migas dan juga industri pengguna gas  bumi.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, pada  kesempatan yang sama menegaskan koordinasi lintas sektor tersebut sangat  penting supaya terwujud keseimbangan yang tidak merugikan pihak  manapun. Termasuk industri pengguna gas bumi tidak akan diuntungkan  karena tercipta kepastian pasokan dan harga.
&amp;rdquo;Selama ini tidak ada kesepahaman maka akan berpengaruh kepada  komersialisasi gas bumi di Indonesia. padahal kebutuhan gas bumi  diperkirakan akan terus bertambah dalam 10 tahun ke depan,&amp;rdquo; ujarnya.
Pada program HGBT, misalnya, Komaidi menjelaskan Kementerian  Perindustrian terus mendorong supaya kebijakan ini dilanjutkan dan  bahkan jumlah industri penerimanya ditambah. Sebaliknya, pada saat yang  sama, Kementerian Keuangan menyadari bahwa program ini kian membebani  keuangan negara.
Begitu juga Kementerian ESDM menyadari pentingnya evaluasi program  HGBT ini supaya tidak hanya menguntungkan salah satu pihak sedangkan  terdapat industri lain yang kian terganggu mata rantainya. &amp;rdquo;Nilai  keekonomian proyek gas bumi juga penting karena ini adalah penentu  supply gas bumi untuk industri,&amp;rdquo; ucap Komaidi.</content:encoded></item></channel></rss>
