<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Profil Tanri Abeng, Mantan Menteri BUMN Era Soeharto Meninggal Dunia yang Dijuluki Manajer 1 Miliar</title><description>Pengusaha Tanri Abeng meninggal dunia di usia 82 tahun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/23/320/3024885/profil-tanri-abeng-mantan-menteri-bumn-era-soeharto-meninggal-dunia-yang-dijuluki-manajer-1-miliar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/06/23/320/3024885/profil-tanri-abeng-mantan-menteri-bumn-era-soeharto-meninggal-dunia-yang-dijuluki-manajer-1-miliar"/><item><title>Profil Tanri Abeng, Mantan Menteri BUMN Era Soeharto Meninggal Dunia yang Dijuluki Manajer 1 Miliar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/23/320/3024885/profil-tanri-abeng-mantan-menteri-bumn-era-soeharto-meninggal-dunia-yang-dijuluki-manajer-1-miliar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/06/23/320/3024885/profil-tanri-abeng-mantan-menteri-bumn-era-soeharto-meninggal-dunia-yang-dijuluki-manajer-1-miliar</guid><pubDate>Minggu 23 Juni 2024 08:03 WIB</pubDate><dc:creator>Nekha Fatimah Nursadiyah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/23/320/3024885/profil-tanri-abeng-mantan-menteri-bumn-era-soeharto-meninggal-dunia-yang-dijuluki-manajer-1-miliar-NItKmY5pkx.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Tanri Abeng meninggal di usia 82 tahun (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/23/320/3024885/profil-tanri-abeng-mantan-menteri-bumn-era-soeharto-meninggal-dunia-yang-dijuluki-manajer-1-miliar-NItKmY5pkx.jpeg</image><title>Tanri Abeng meninggal di usia 82 tahun (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8wNS8xLzE4MDM1Mi81L3g4eTB0ZzI=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Pengusaha Tanri Abeng meninggal dunia di Usia 82 tahun. Tanri Abeng merupakan Mantan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN pada Kabinet Pembangunan VII dan Kabinet Reformasi Pembangunan.
Dia meninggal hari ini, Minggu, 23 Juni 2024 pada pukul 02:39 WIB di RS Medistra Jakarta. Tanri Abeng akan disemayamkan di rumah duka Jalan Simprug Golf XIII No. 19, Jakarta Selatan.

BACA JUGA:
Kabar Duka, Mantan Menteri BUMN Tanri Abeng Meninggal Dunia di Usia 82 Tahun


Sekilas mengenai Tanri Abeng, dia dilahirkan di sebuah desa di Pulau Selayar, Celebes. Pada usia 10 tahun kedua orangtuanya meninggal dan ia dikirim untuk tinggal dengan kerabat di Makassar.
Setelah menyelesaikan pendidikan SLA di Makassar, ia sempat berangkat ke Amerika Serikat dalam program American Field Service (AFS) Exchange program. Selanjutnya dia melanjutkan sekolahnya di Universitas Hasanuddin sampai tingkat 5, pendidikannya dilanjutkan ke Graduate School of Business Administration, University at Buffalo, New York, Amerika Serikat hingga mendapatkan gelar MBA.
Kariernya terus menanjak sampai akhirnya ia menjadi Direktur PT Union-Carbide Indonesia. Selain itu, ia juga menjadi Direktur Agrocarb Indonesia, Direktur Karmi Arafura Fisheries (1971-1976) dan pada tahun 1977-1979, ia merangkap sebagai manager pemasaran Union Carbide Singapura.

BACA JUGA:
Mbak Lala Jadi Sarjana Manajemen, Universitas Tanri Abeng: Semoga Ilmunya Bermanfaat


Tahun 1979, ia pindah ke perusahaan produsen bir Belanda, Heineken, PT Perusahaan Bir Indonesia (Indonesian Beer Company). meskipun ia tidak bisa berbahasa Belanda dan tidak minum bir, Ia menjadi CEO perusahaan tersebut setelah wawancara selama 15 menit.
Selanjutnya ia mengubah nama PT Perusahaan Bir Indonesia ke Multi Bintang Indonesia. Pada tahun 1982, itu mencatat laba sebesar Rp4 miliar, naik dari hampir Rp500 juta dibandingkan ketika ia bergabung.
Pada tahun 1991 Tanri Abeng mundur sebagai CEO Multi Bintang dan pindah ke Bakrie &amp;amp; Brothers, perusahaan milik Aburizal Bakrie. Dengan beberapa reformasi, kinerja Bakrie &amp;amp; Brothers membaik, ketika Tanri Abeng bergabung dengan perusahaan penjualan tahunan sekitar USD50 juta. Pada akhir tahun 1996 penjualan ditutup menjadi USD700 juta. Saat itu ia sempat dijuluki sebagai &amp;lsquo;Manajer Rp1 Miliar&amp;rsquo; lantaran ia mendapat bayaran sebesar itu saat memimpin perusahaan milik Aburizal Bakrie tersebut.
Selain sebagai pengusaha, dia juga aktif di pemerintahan dan  organisasi non-pemerintah seperti Dewan Pendidikan Nasional (1993 -  1998), Dewan Riset Nasional (1990 - 1998), Badan Promosi Pariwisata  (1990 - 1996), Yayasan Perlindungan Lingkungan (1993 - 1998), Asosiasi  Indonesia-Belanda, Indonesia-British Council dan Asia-Australia  Institute. Dia juga merupakan Komisaris dari Bursa Efek Jakarta antara  tahun 1992 dan 1995.
Pada Tahun 1991 ia memasuki dunia politik, ia mewakili Golkar duduk  di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Selanjutnya tahun 1998 ia  ditunjuk oleh Presiden Soeharto sebagai Menteri Negara Pendayagunaan  BUMN pada Kabinet Pembangunan VII dan dilanjutkan dengan jabatan yang  sama di Kabinet Reformasi Pembangunan pimpinan Presiden Habibie. Tahun  2004, ia menjadi Komisaris Utama PT. Telkom Indonesia. Pada tahun 2010,  Tanri Abeng menyelesaikan pendidikan Doktor dalam Ilmu Multidisiplin  dari UGM.
Setelah lebih dari empat dekade, malang melintang di perusahaan  multinasional dan pemerintahan, tahun 2011, ia mendirikan Universitas  Tanri Abeng, yang berlokasi di Ulujami, Pesanggahan, Jakarta Selatan.  Menurut penuturannya, pendanaan untuk membangun kampus ini ia peroleh  dari hasil menjual hotel Hotel Aryaduta yang ia miliki dari hasil  bermitra dengan James Riady (pemilik Lippo Group) pada 1995 di Makassar.
Pada awal tahun 2012, ia menjabat sebagai CEO OSO Group, menggantikan  Oesman Sapta Odang (founder). OSO Group bergerak dibidang pertambangan,  perkebunan, transportasi, property dan hotel.

</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8wNS8xLzE4MDM1Mi81L3g4eTB0ZzI=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Pengusaha Tanri Abeng meninggal dunia di Usia 82 tahun. Tanri Abeng merupakan Mantan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN pada Kabinet Pembangunan VII dan Kabinet Reformasi Pembangunan.
Dia meninggal hari ini, Minggu, 23 Juni 2024 pada pukul 02:39 WIB di RS Medistra Jakarta. Tanri Abeng akan disemayamkan di rumah duka Jalan Simprug Golf XIII No. 19, Jakarta Selatan.

BACA JUGA:
Kabar Duka, Mantan Menteri BUMN Tanri Abeng Meninggal Dunia di Usia 82 Tahun


Sekilas mengenai Tanri Abeng, dia dilahirkan di sebuah desa di Pulau Selayar, Celebes. Pada usia 10 tahun kedua orangtuanya meninggal dan ia dikirim untuk tinggal dengan kerabat di Makassar.
Setelah menyelesaikan pendidikan SLA di Makassar, ia sempat berangkat ke Amerika Serikat dalam program American Field Service (AFS) Exchange program. Selanjutnya dia melanjutkan sekolahnya di Universitas Hasanuddin sampai tingkat 5, pendidikannya dilanjutkan ke Graduate School of Business Administration, University at Buffalo, New York, Amerika Serikat hingga mendapatkan gelar MBA.
Kariernya terus menanjak sampai akhirnya ia menjadi Direktur PT Union-Carbide Indonesia. Selain itu, ia juga menjadi Direktur Agrocarb Indonesia, Direktur Karmi Arafura Fisheries (1971-1976) dan pada tahun 1977-1979, ia merangkap sebagai manager pemasaran Union Carbide Singapura.

BACA JUGA:
Mbak Lala Jadi Sarjana Manajemen, Universitas Tanri Abeng: Semoga Ilmunya Bermanfaat


Tahun 1979, ia pindah ke perusahaan produsen bir Belanda, Heineken, PT Perusahaan Bir Indonesia (Indonesian Beer Company). meskipun ia tidak bisa berbahasa Belanda dan tidak minum bir, Ia menjadi CEO perusahaan tersebut setelah wawancara selama 15 menit.
Selanjutnya ia mengubah nama PT Perusahaan Bir Indonesia ke Multi Bintang Indonesia. Pada tahun 1982, itu mencatat laba sebesar Rp4 miliar, naik dari hampir Rp500 juta dibandingkan ketika ia bergabung.
Pada tahun 1991 Tanri Abeng mundur sebagai CEO Multi Bintang dan pindah ke Bakrie &amp;amp; Brothers, perusahaan milik Aburizal Bakrie. Dengan beberapa reformasi, kinerja Bakrie &amp;amp; Brothers membaik, ketika Tanri Abeng bergabung dengan perusahaan penjualan tahunan sekitar USD50 juta. Pada akhir tahun 1996 penjualan ditutup menjadi USD700 juta. Saat itu ia sempat dijuluki sebagai &amp;lsquo;Manajer Rp1 Miliar&amp;rsquo; lantaran ia mendapat bayaran sebesar itu saat memimpin perusahaan milik Aburizal Bakrie tersebut.
Selain sebagai pengusaha, dia juga aktif di pemerintahan dan  organisasi non-pemerintah seperti Dewan Pendidikan Nasional (1993 -  1998), Dewan Riset Nasional (1990 - 1998), Badan Promosi Pariwisata  (1990 - 1996), Yayasan Perlindungan Lingkungan (1993 - 1998), Asosiasi  Indonesia-Belanda, Indonesia-British Council dan Asia-Australia  Institute. Dia juga merupakan Komisaris dari Bursa Efek Jakarta antara  tahun 1992 dan 1995.
Pada Tahun 1991 ia memasuki dunia politik, ia mewakili Golkar duduk  di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Selanjutnya tahun 1998 ia  ditunjuk oleh Presiden Soeharto sebagai Menteri Negara Pendayagunaan  BUMN pada Kabinet Pembangunan VII dan dilanjutkan dengan jabatan yang  sama di Kabinet Reformasi Pembangunan pimpinan Presiden Habibie. Tahun  2004, ia menjadi Komisaris Utama PT. Telkom Indonesia. Pada tahun 2010,  Tanri Abeng menyelesaikan pendidikan Doktor dalam Ilmu Multidisiplin  dari UGM.
Setelah lebih dari empat dekade, malang melintang di perusahaan  multinasional dan pemerintahan, tahun 2011, ia mendirikan Universitas  Tanri Abeng, yang berlokasi di Ulujami, Pesanggahan, Jakarta Selatan.  Menurut penuturannya, pendanaan untuk membangun kampus ini ia peroleh  dari hasil menjual hotel Hotel Aryaduta yang ia miliki dari hasil  bermitra dengan James Riady (pemilik Lippo Group) pada 1995 di Makassar.
Pada awal tahun 2012, ia menjabat sebagai CEO OSO Group, menggantikan  Oesman Sapta Odang (founder). OSO Group bergerak dibidang pertambangan,  perkebunan, transportasi, property dan hotel.

</content:encoded></item></channel></rss>
