<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pasutri Olah Bolen hingga Ekspor ke Eropa, Raup Cuan Rp70 Juta/Bulan</title><description>Bolen produksi UMKM asal Malang tembus pasar ekspor Asia Timur hingga Eropa.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/23/455/3024992/pasutri-olah-bolen-hingga-ekspor-ke-eropa-raup-cuan-rp70-juta-bulan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/06/23/455/3024992/pasutri-olah-bolen-hingga-ekspor-ke-eropa-raup-cuan-rp70-juta-bulan"/><item><title>Pasutri Olah Bolen hingga Ekspor ke Eropa, Raup Cuan Rp70 Juta/Bulan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/23/455/3024992/pasutri-olah-bolen-hingga-ekspor-ke-eropa-raup-cuan-rp70-juta-bulan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/06/23/455/3024992/pasutri-olah-bolen-hingga-ekspor-ke-eropa-raup-cuan-rp70-juta-bulan</guid><pubDate>Minggu 23 Juni 2024 17:11 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/23/455/3024992/pasutri-olah-bolen-hingga-ekspor-ke-eropa-raup-cuan-rp70-juta-bulan-E7OOWHrxRY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bolen asal Malang tembus pasar ekspor (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/23/455/3024992/pasutri-olah-bolen-hingga-ekspor-ke-eropa-raup-cuan-rp70-juta-bulan-E7OOWHrxRY.jpg</image><title>Bolen asal Malang tembus pasar ekspor (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8wMy80LzE4MDI2MC81L3g4eHY5amc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
MALANG - Bolen produksi UMKM asal Malang tembus pasar ekspor Asia Timur hingga Eropa. Bolen yang dikelola oleh pasangan suami istri (pasutri) Ismiati Solihah dan Sony Darmawan, ini memang mulai merambah pasaran ekspor.
Bolen khas Malang demikian tagline yang diusung dari produksi rumahan Jalan Borobudur Agung Timur 7 A Nomor 18 Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, memiliki rasa khas apel dan pisang Malang.

BACA JUGA:
Pelaku UMKM Angkat Bicara soal RI Dibanjiri Barang Impor


Rasa bolennya memang cukup khas, apalagi rasa apel manalagi khas Malang. Sementara di rasa pisang coklat, rasa pisang agung dari Dampit, Kabupaten Malang, begitu terasa. Sensasi dua buah asal Malang ini memang membedakan Bolen Malang dengan bolen-bolen asal Bandung, serta daerah-daerah lain.
Ismiati Solihah, pemilik usaha boleh menuturkan, ia memulai usaha bolennya pada tahun 2018 dengan modal Rp10 juta. Saat itu dirinya yang sering membuat kue-kue kering, berinisiatif membuat bolen karena bisa dimakan tak bergantung musiman.

BACA JUGA:
Perluas Pasar, UMKM di RI Manfaatkan Digitalisasi dan AI


&quot;Kalau kue-kue kering kan musiman, lakunya kalau lebaran sama natal. Terus akhirnya berpikir, buat apa ya, kebetulan saya suka bikin kue, dan akhirnya ada resep diotak-atik. Dicoba, ditawari dulu selalu bawa produk untuk tester, dikasih beli,&quot; ucap Ismiati Solihah, ditemui di rumah produksi.
Perlahan tapi pasti, setelah memproduksi bolen di tahun 2018 mulai meningkat. Bahkan kini Ismi dan tiga karyawan di produksinya mampu memproduksi 50 boks hingga 200 boks per harinya, dengan satu boksnya berisikan 10 potong kue bolen.
&quot;Kalau per bulannya bisa bulan 3.000 - 5.000, libur panjang gini sampai 6.000 sebulan, luar biasa banyak, pernah sampai nolak-nolak, karena nggak nututi tenaganya,&quot; ujarnya.
Beberapa kota besar di Indonesia menjadi pangsa pasar domestik kue  bolen ini. Menurutnya, nyaris seluruh wilayah Jawa Timur sudah pernah  menjadi pangsa pasarnya, kemudian di Bali, setidaknya ada 11 toko  oleh-oleh yang menjual produk bolen.
Kemudian di Yogyakarta, Semarang, Bandung, Jakarta, bahkan Ismi  menyatakan pernah mengirim bolen itu ke Pulau Kalimantan hingga  Sulawesi.
&quot;Ketika Pandemi itu ramai-ramainya kirim ke Hongkong, itu pengiriman  reguler, sebelum pandemi sudah mulai. Sekarang setelah pandemi masih  tetap ada pengiriman reguler, terakhir itu ngirim 70 boks, setiap  boksnya isi 10 bolen. Di sana ada reseller, biasanya dijual lagi, terus  ke Malaysia juga, kemarin sempat difotokan bolennya sampai Malaysia,&quot;  paparnya.
Perempuan berusia 48 tahun ini menambahkan, pangsa pasarnya kian  bertambah ketika ada turis asal Prancis yang memesan bolen buatannya.  Bahkan dalam rentang waktu setahun lebih terakhir turis itu rutin  membeli produknya.
&quot;Dia ini turis kemarin ke sini pesan 10 boks dibawa ke Paris katanya.  Sudah beberapa kali pesan, biasanya yang dari luar kota, luar pulau,  dan luar negeri tahu dari Instagram, terus repeat order (pesan lagi),&quot;  terangnya.
Bahkan beberapa hari ke depan kata Ismi, turis asal Perancis ini juga  kembali memesan bolennya. Bolen itu rencananya akan dibawa ke  Amsterdam, Belanda, untuk buah tangan temannya.
&quot;Besok ini dia pesan lagi, katanya mau dibawa ke Amsterdam Belanda, dibuat oleh-oleh katanya,&quot; ucapnya.
Penuturan turis itu bolen buatannya memiliki rasa yang khas pada  kulitnya. Selain itu, rasa apel disebut cukup khas, yang menjadi varian  rasa ini favorit masyarakat di luar daerah dan luar negeri. Terlebih,  pengemasan produk yang menarik juga menjadi daya tarik tersendiri.
&quot;Kalau harganya sama semua, di luar negeri, luar pulau sama, yang isi  10 itu harganya Rp65 ribu, isi enam Rp45 ribu, isi empat itu Rp25 ribu.  Kalau ke luar negeri dan pulau, beban pengiriman ditanggung yang pesan,  karena kan transport-nya mahal,&quot; terangnya.
Kini dengan pangsa pasar yang sudah meluas hingga lua negeri membuat  omzet penjualan bolen Malang melonjak tajam. Sebulan setidaknya pasutri  ini bisa mengantongi keuntungan Rp50 juta-Rp70 juta.
&quot;Sebulan sampai Rp50 juta-Rp70 juta, untuk kendalanya kita di  ketahanannya, karena tidak bisa lama-lama di luar, di suhu ruangan itu  maksimal 7 hari, kalau di kulkas bisa tahan 14 hari,&quot; jelasnya.
&quot;Makanya awal-awal waktu buat itu kalau mendekati expired itu masih  banyak kita kasih-kasihkan, karena nggak bisa tahan lama. Biasanya kalau  dari freezer kulkas, sebelum dikonsumsi dipanasi dulu, untuk rasa  kualitasnya masih sama,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8wMy80LzE4MDI2MC81L3g4eHY5amc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
MALANG - Bolen produksi UMKM asal Malang tembus pasar ekspor Asia Timur hingga Eropa. Bolen yang dikelola oleh pasangan suami istri (pasutri) Ismiati Solihah dan Sony Darmawan, ini memang mulai merambah pasaran ekspor.
Bolen khas Malang demikian tagline yang diusung dari produksi rumahan Jalan Borobudur Agung Timur 7 A Nomor 18 Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, memiliki rasa khas apel dan pisang Malang.

BACA JUGA:
Pelaku UMKM Angkat Bicara soal RI Dibanjiri Barang Impor


Rasa bolennya memang cukup khas, apalagi rasa apel manalagi khas Malang. Sementara di rasa pisang coklat, rasa pisang agung dari Dampit, Kabupaten Malang, begitu terasa. Sensasi dua buah asal Malang ini memang membedakan Bolen Malang dengan bolen-bolen asal Bandung, serta daerah-daerah lain.
Ismiati Solihah, pemilik usaha boleh menuturkan, ia memulai usaha bolennya pada tahun 2018 dengan modal Rp10 juta. Saat itu dirinya yang sering membuat kue-kue kering, berinisiatif membuat bolen karena bisa dimakan tak bergantung musiman.

BACA JUGA:
Perluas Pasar, UMKM di RI Manfaatkan Digitalisasi dan AI


&quot;Kalau kue-kue kering kan musiman, lakunya kalau lebaran sama natal. Terus akhirnya berpikir, buat apa ya, kebetulan saya suka bikin kue, dan akhirnya ada resep diotak-atik. Dicoba, ditawari dulu selalu bawa produk untuk tester, dikasih beli,&quot; ucap Ismiati Solihah, ditemui di rumah produksi.
Perlahan tapi pasti, setelah memproduksi bolen di tahun 2018 mulai meningkat. Bahkan kini Ismi dan tiga karyawan di produksinya mampu memproduksi 50 boks hingga 200 boks per harinya, dengan satu boksnya berisikan 10 potong kue bolen.
&quot;Kalau per bulannya bisa bulan 3.000 - 5.000, libur panjang gini sampai 6.000 sebulan, luar biasa banyak, pernah sampai nolak-nolak, karena nggak nututi tenaganya,&quot; ujarnya.
Beberapa kota besar di Indonesia menjadi pangsa pasar domestik kue  bolen ini. Menurutnya, nyaris seluruh wilayah Jawa Timur sudah pernah  menjadi pangsa pasarnya, kemudian di Bali, setidaknya ada 11 toko  oleh-oleh yang menjual produk bolen.
Kemudian di Yogyakarta, Semarang, Bandung, Jakarta, bahkan Ismi  menyatakan pernah mengirim bolen itu ke Pulau Kalimantan hingga  Sulawesi.
&quot;Ketika Pandemi itu ramai-ramainya kirim ke Hongkong, itu pengiriman  reguler, sebelum pandemi sudah mulai. Sekarang setelah pandemi masih  tetap ada pengiriman reguler, terakhir itu ngirim 70 boks, setiap  boksnya isi 10 bolen. Di sana ada reseller, biasanya dijual lagi, terus  ke Malaysia juga, kemarin sempat difotokan bolennya sampai Malaysia,&quot;  paparnya.
Perempuan berusia 48 tahun ini menambahkan, pangsa pasarnya kian  bertambah ketika ada turis asal Prancis yang memesan bolen buatannya.  Bahkan dalam rentang waktu setahun lebih terakhir turis itu rutin  membeli produknya.
&quot;Dia ini turis kemarin ke sini pesan 10 boks dibawa ke Paris katanya.  Sudah beberapa kali pesan, biasanya yang dari luar kota, luar pulau,  dan luar negeri tahu dari Instagram, terus repeat order (pesan lagi),&quot;  terangnya.
Bahkan beberapa hari ke depan kata Ismi, turis asal Perancis ini juga  kembali memesan bolennya. Bolen itu rencananya akan dibawa ke  Amsterdam, Belanda, untuk buah tangan temannya.
&quot;Besok ini dia pesan lagi, katanya mau dibawa ke Amsterdam Belanda, dibuat oleh-oleh katanya,&quot; ucapnya.
Penuturan turis itu bolen buatannya memiliki rasa yang khas pada  kulitnya. Selain itu, rasa apel disebut cukup khas, yang menjadi varian  rasa ini favorit masyarakat di luar daerah dan luar negeri. Terlebih,  pengemasan produk yang menarik juga menjadi daya tarik tersendiri.
&quot;Kalau harganya sama semua, di luar negeri, luar pulau sama, yang isi  10 itu harganya Rp65 ribu, isi enam Rp45 ribu, isi empat itu Rp25 ribu.  Kalau ke luar negeri dan pulau, beban pengiriman ditanggung yang pesan,  karena kan transport-nya mahal,&quot; terangnya.
Kini dengan pangsa pasar yang sudah meluas hingga lua negeri membuat  omzet penjualan bolen Malang melonjak tajam. Sebulan setidaknya pasutri  ini bisa mengantongi keuntungan Rp50 juta-Rp70 juta.
&quot;Sebulan sampai Rp50 juta-Rp70 juta, untuk kendalanya kita di  ketahanannya, karena tidak bisa lama-lama di luar, di suhu ruangan itu  maksimal 7 hari, kalau di kulkas bisa tahan 14 hari,&quot; jelasnya.
&quot;Makanya awal-awal waktu buat itu kalau mendekati expired itu masih  banyak kita kasih-kasihkan, karena nggak bisa tahan lama. Biasanya kalau  dari freezer kulkas, sebelum dikonsumsi dipanasi dulu, untuk rasa  kualitasnya masih sama,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
