<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Di Ujung Tanduk, Begini Kondisi Terkini Waskita Karya yang Keuangannya Berdarah-darah</title><description>PPA membutuhkan anggaran bernilai besar untuk menyehatkan bisnis dan keuangan PT Waskita Karya (Persero) Tbk</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/24/320/3025474/di-ujung-tanduk-begini-kondisi-terkini-waskita-karya-yang-keuangannya-berdarah-darah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/06/24/320/3025474/di-ujung-tanduk-begini-kondisi-terkini-waskita-karya-yang-keuangannya-berdarah-darah"/><item><title>Di Ujung Tanduk, Begini Kondisi Terkini Waskita Karya yang Keuangannya Berdarah-darah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/24/320/3025474/di-ujung-tanduk-begini-kondisi-terkini-waskita-karya-yang-keuangannya-berdarah-darah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/06/24/320/3025474/di-ujung-tanduk-begini-kondisi-terkini-waskita-karya-yang-keuangannya-berdarah-darah</guid><pubDate>Senin 24 Juni 2024 16:45 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/24/320/3025474/di-ujung-tanduk-begini-kondisi-terkini-waskita-karya-yang-keuangannya-berdarah-darah-3eoNPRHuSj.jfif" expression="full" type="image/jpeg">Begini Kondisi Waskita Karya. (Foto: Okezone.com/Waskita)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/24/320/3025474/di-ujung-tanduk-begini-kondisi-terkini-waskita-karya-yang-keuangannya-berdarah-darah-3eoNPRHuSj.jfif</image><title>Begini Kondisi Waskita Karya. (Foto: Okezone.com/Waskita)</title></images><description>JAKARTA - PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA) membutuhkan anggaran bernilai besar untuk menyehatkan bisnis dan keuangan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT). Pasalnya keuangan emiten konstruksi pelat merah ini &amp;lsquo;berdarah-darah&amp;rsquo;.
Hal ini disampaikan Direktur Utama PPA, M Teguh Wirahadikusumah, dalam rapat dengar pendapat (RDP) antara Panja Penyehatan dan Restrukturisasi BUMN Komisi VI DPR RI dan PT Danareksa (Persero), selaku Holding BUMN Spesialis Transformasi dan Investasi.

BACA JUGA:
Waskita Kebut Pengerjaan Proyek Jalan Tol IKN Segmen 5A Jelang HUT Kemerdekaan RI


Menurut dia, dalam menyehatkan bisnis dan keuangan WSKT diperlukan kompetensi dan pendanaan besar.
&amp;ldquo;Karena tadi, kalau misalnya ada pertanyaan ini kalau PPA dikasih Waskita sanggup gak? Kembali lagi bukan cuma kompetensi, tapi kapasitas pendanannya juga pak,&amp;rdquo; ujar Teguh Senin (24/6/2024).
Kementerian BUMN memang belum menugaskan PPA untuk merestrukturisasi WSKT. Hingga saat ini, skema penyehatan perseroan di sektor konstruksi itu dilakukan secara mandiri. Di mana, aksi negosiasi dan hal lainnya dilakukan langsung oleh pemegang saham.

BACA JUGA:
BEI Tetapkan Saham Waskita (WSKT) Saham Tak Likuid


Artinya, masuk atau tidaknya Waskita Karya sebagai &amp;lsquo;pasien&amp;rsquo; PPA tergantung pada kebijakan Kementerian BUMN selaku pemegang saham mayoritas WSKT.
Teguh menilai, pendanaan menjadi faktor penting dalam titip kelola Waskita Karya. Sehingga, perlu koordinasi pemegang saham dan Danareksa. PPA sendiri bertindak selaku anggota Holding Danareksa&amp;ldquo;Mungkin perlu tegas juga atau memang kita bisa sehatkan ,kita hidupkan untuk itu membutuhkan dana berapa. Nah itu memang sesuatu yang ke depannya perlu kita lakukan antara PPA, Danareksa dan pemerintah,&amp;rdquo; paparnya.
PPA memang diberi mandat khusus dalam menangani BUMN &amp;lsquo;sakit&amp;rsquo;. Namun, potensi pendapatan yang diperoleh masih minim, sehingga membutuhkan bantuan pendanaan dari pemerintah.
&amp;ldquo;Sumber pendanaan dari mana? Mau nggak mau sangat tergantung dari pemerintah, karena dari pasar hampir tidak mungkin,&quot; tutur Teguh.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA) membutuhkan anggaran bernilai besar untuk menyehatkan bisnis dan keuangan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT). Pasalnya keuangan emiten konstruksi pelat merah ini &amp;lsquo;berdarah-darah&amp;rsquo;.
Hal ini disampaikan Direktur Utama PPA, M Teguh Wirahadikusumah, dalam rapat dengar pendapat (RDP) antara Panja Penyehatan dan Restrukturisasi BUMN Komisi VI DPR RI dan PT Danareksa (Persero), selaku Holding BUMN Spesialis Transformasi dan Investasi.

BACA JUGA:
Waskita Kebut Pengerjaan Proyek Jalan Tol IKN Segmen 5A Jelang HUT Kemerdekaan RI


Menurut dia, dalam menyehatkan bisnis dan keuangan WSKT diperlukan kompetensi dan pendanaan besar.
&amp;ldquo;Karena tadi, kalau misalnya ada pertanyaan ini kalau PPA dikasih Waskita sanggup gak? Kembali lagi bukan cuma kompetensi, tapi kapasitas pendanannya juga pak,&amp;rdquo; ujar Teguh Senin (24/6/2024).
Kementerian BUMN memang belum menugaskan PPA untuk merestrukturisasi WSKT. Hingga saat ini, skema penyehatan perseroan di sektor konstruksi itu dilakukan secara mandiri. Di mana, aksi negosiasi dan hal lainnya dilakukan langsung oleh pemegang saham.

BACA JUGA:
BEI Tetapkan Saham Waskita (WSKT) Saham Tak Likuid


Artinya, masuk atau tidaknya Waskita Karya sebagai &amp;lsquo;pasien&amp;rsquo; PPA tergantung pada kebijakan Kementerian BUMN selaku pemegang saham mayoritas WSKT.
Teguh menilai, pendanaan menjadi faktor penting dalam titip kelola Waskita Karya. Sehingga, perlu koordinasi pemegang saham dan Danareksa. PPA sendiri bertindak selaku anggota Holding Danareksa&amp;ldquo;Mungkin perlu tegas juga atau memang kita bisa sehatkan ,kita hidupkan untuk itu membutuhkan dana berapa. Nah itu memang sesuatu yang ke depannya perlu kita lakukan antara PPA, Danareksa dan pemerintah,&amp;rdquo; paparnya.
PPA memang diberi mandat khusus dalam menangani BUMN &amp;lsquo;sakit&amp;rsquo;. Namun, potensi pendapatan yang diperoleh masih minim, sehingga membutuhkan bantuan pendanaan dari pemerintah.
&amp;ldquo;Sumber pendanaan dari mana? Mau nggak mau sangat tergantung dari pemerintah, karena dari pasar hampir tidak mungkin,&quot; tutur Teguh.</content:encoded></item></channel></rss>
