<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani Waspadai Pelemahan Rupiah</title><description>Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan suku bunga Federal Reserve terus naik, tidak sesuai harapan pasar keuangan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/28/320/3026867/sri-mulyani-waspadai-pelemahan-rupiah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/06/28/320/3026867/sri-mulyani-waspadai-pelemahan-rupiah"/><item><title>Sri Mulyani Waspadai Pelemahan Rupiah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/06/28/320/3026867/sri-mulyani-waspadai-pelemahan-rupiah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/06/28/320/3026867/sri-mulyani-waspadai-pelemahan-rupiah</guid><pubDate>Jum'at 28 Juni 2024 05:10 WIB</pubDate><dc:creator>Farida Syifa Anandita</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/06/27/320/3026867/sri-mulyani-waspadai-pelemahan-rupiah-haF0qnUGhi.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Sri Mulyani waspadai pelemahan Rupiah (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/06/27/320/3026867/sri-mulyani-waspadai-pelemahan-rupiah-haF0qnUGhi.jpeg</image><title>Sri Mulyani waspadai pelemahan Rupiah (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8xNy8xLzE4MTg1Ni81L3g5MGgxNXE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan suku bunga Federal Reserve terus naik, tidak sesuai harapan pasar keuangan. Fluktuasi yang signifikan ini dipicu domestik dan global dan sejalan dengan tren negara-negara emerging lainnya.
Pada Mei 2024 nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp16.431 dan sempat alami kenaikan karena sentimen dalam negeri dan global.

BACA JUGA:
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp16.375/USD


&quot;Dari global adalah adanya sekarang makin confirm bahwa suku bunga Federal Reserve tidak akan mengalami penurunan sebanyak seperti yang diharapkan market,&quot; kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Juni 2024, Kamis (27/6/2024).
Rupiah mengalami depresiasi 6,58% (ytd) senada dengan beberapa negara emerging yang lain, namun Brazil depresiasinya lebih dalam.

BACA JUGA:
Rupiah Anjlok ke Rp16.400, Sri Mulyani: Pengaruhnya ke Subsidi Listrik dan BBM


&quot;Atau kalau anda sekarang baru mengikuti Jepang mengalami depresiasi yang sangat dalam bahkan pada levelnya sudah comparable dengan 1996, ini juga tentu menimbulkan dinamika dari negara-negara partner dagang kita,&quot; ungkap Sri Mulyani.
Menkeu melaporkan US Treasury mencapai 4,25 persen yang relatif tinggi sejak April. Pemerintah Indonesia memang melihat dari pasar keuangan, pasar global dan sukuk bonds menjadi salah satu yang perlu diwaspadai.
&quot;Karena dinamikanya muncul dan terjadi rembesan ke dalam adalah melalui pasar keuangan ini,&quot; katanya.
Selain itu, pasar SBN mengalami capital outflow Rp42,37 triliun (ytd) atau outflow Rp7,29 triliun secara mtd.
Sedangkan untuk pasar saham mencatatkan outflow Rp6,14 triliun (ytd) atau Rp2,01 triliun (mtd).
&quot;Sehingga total outflow sampai dengan Juni mencapai Rp9,3 triliun,  ini yang mungkin kita perlu waspadai dalam artian respons dari APBN,  fiskal policy adalah nanti kepada berbagai pos yang berpengaruh kepada  nilai tukar dan yang immediate tentu dari sisi pembiayaan terutama dari  sisi issuen,&quot; pungkasnya.
Baca Selengkapnya: Rupiah Terus Melemah ke Level Rp16.431 per USD, Sri Mulyani Minta Masyarakat Waspada</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8xNy8xLzE4MTg1Ni81L3g5MGgxNXE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan suku bunga Federal Reserve terus naik, tidak sesuai harapan pasar keuangan. Fluktuasi yang signifikan ini dipicu domestik dan global dan sejalan dengan tren negara-negara emerging lainnya.
Pada Mei 2024 nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp16.431 dan sempat alami kenaikan karena sentimen dalam negeri dan global.

BACA JUGA:
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp16.375/USD


&quot;Dari global adalah adanya sekarang makin confirm bahwa suku bunga Federal Reserve tidak akan mengalami penurunan sebanyak seperti yang diharapkan market,&quot; kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Juni 2024, Kamis (27/6/2024).
Rupiah mengalami depresiasi 6,58% (ytd) senada dengan beberapa negara emerging yang lain, namun Brazil depresiasinya lebih dalam.

BACA JUGA:
Rupiah Anjlok ke Rp16.400, Sri Mulyani: Pengaruhnya ke Subsidi Listrik dan BBM


&quot;Atau kalau anda sekarang baru mengikuti Jepang mengalami depresiasi yang sangat dalam bahkan pada levelnya sudah comparable dengan 1996, ini juga tentu menimbulkan dinamika dari negara-negara partner dagang kita,&quot; ungkap Sri Mulyani.
Menkeu melaporkan US Treasury mencapai 4,25 persen yang relatif tinggi sejak April. Pemerintah Indonesia memang melihat dari pasar keuangan, pasar global dan sukuk bonds menjadi salah satu yang perlu diwaspadai.
&quot;Karena dinamikanya muncul dan terjadi rembesan ke dalam adalah melalui pasar keuangan ini,&quot; katanya.
Selain itu, pasar SBN mengalami capital outflow Rp42,37 triliun (ytd) atau outflow Rp7,29 triliun secara mtd.
Sedangkan untuk pasar saham mencatatkan outflow Rp6,14 triliun (ytd) atau Rp2,01 triliun (mtd).
&quot;Sehingga total outflow sampai dengan Juni mencapai Rp9,3 triliun,  ini yang mungkin kita perlu waspadai dalam artian respons dari APBN,  fiskal policy adalah nanti kepada berbagai pos yang berpengaruh kepada  nilai tukar dan yang immediate tentu dari sisi pembiayaan terutama dari  sisi issuen,&quot; pungkasnya.
Baca Selengkapnya: Rupiah Terus Melemah ke Level Rp16.431 per USD, Sri Mulyani Minta Masyarakat Waspada</content:encoded></item></channel></rss>
