<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani Catat Utang Pemerintah Tembus Rp8.353 Triliun pada Mei 2024</title><description>Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah hingga akhir Mei 2024 mencapai Rp8.353,02 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/02/320/3028948/sri-mulyani-catat-utang-pemerintah-tembus-rp8-353-triliun-pada-mei-2024</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/02/320/3028948/sri-mulyani-catat-utang-pemerintah-tembus-rp8-353-triliun-pada-mei-2024"/><item><title>Sri Mulyani Catat Utang Pemerintah Tembus Rp8.353 Triliun pada Mei 2024</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/02/320/3028948/sri-mulyani-catat-utang-pemerintah-tembus-rp8-353-triliun-pada-mei-2024</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/02/320/3028948/sri-mulyani-catat-utang-pemerintah-tembus-rp8-353-triliun-pada-mei-2024</guid><pubDate>Selasa 02 Juli 2024 16:07 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/02/320/3028948/sri-mulyani-catat-utang-pemerintah-tembus-rp8-353-triliun-pada-mei-2024-DO6HrsR0bC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Utang pemerintah tembus Rp8 ribu triliun (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/02/320/3028948/sri-mulyani-catat-utang-pemerintah-tembus-rp8-353-triliun-pada-mei-2024-DO6HrsR0bC.jpg</image><title>Utang pemerintah tembus Rp8 ribu triliun (Foto: Shutterstock)</title></images><description>


JAKARTA - Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah hingga akhir Mei 2024 mencapai Rp8.353,02 triliun. Angka ini naik Rp14,59 triliun dibandingkan April 2024 yang tercatat Rp8.338,43 triliun.
Begitu pula jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, naik Rp565 triliun dari posisi Rp7.787,51 triliun. Kendati demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengklaim, rasio utang per akhir Mei 2024 yang mencapai 38,71% terhadap PDB itu tetap konsisten terjaga di bawah batas aman 60% PDB sesuai UU Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara.

BACA JUGA:
Kemenhub Dapat Utang Rp1,8 Triliun dari Bank Dunia, Buat Apa?

&quot;Dan terus menunjukkan tren penurunan dari angka rasio utang terhadap PDB 2021 yang tercatat 40,74%, 2022 di 39,70% dan 2023 di 39,21%, serta lebih baik dari yang telah ditetapkan melalui Strategi Pengelolaan Utang Jangka Menengah 2024-2027 di kisaran 40%,&quot; jelasnya dalam Buku APBN KiTA yang dikutip MNC Portal Indonesia pada Selasa (2/7/2024).
Adapun mayoritas utang pemerintah berasal dari dalam negeri dengan proporsi 71,12%.
Menurut Menkeu, hal ini selaras dengan kebijakan umum pembiayaan utang untuk mengoptimalkan sumber pembiayaan dalam negeri dan memanfaatkan utang luar negeri sebagai pelengkap.

BACA JUGA:
Jokowi Tarik Utang Baru Rp132,2 Triliun

Kemudian berdasarkan instrumennya, komposisi utang pemerintah sebagian besar berupa  SBN yang mencapai 87,96%. Pasar SBN yang efisien akan meningkatkan daya tahan sistem keuangan Indonesia terhadap guncangan ekonomi dan pasar keuangan.
Menkeu menuturkan, dengan aktivitas pembiayaan utang melalui penerbitan SBN, pemerintah turut mendukung pengembangan dan pendalaman pasar keuangan domestik. SBN turut menyediakan referensi untuk menentukan harga instrumen pasar keuangan lainnya dan digunakan oleh para pelaku pasar untuk mengelola risiko suku bunga.Selanjutnya, guna meningkatkan efisiensi pengelolaan utang dalam  jangka panjang, pemerintah terus berupaya mewujudkan pasar SBN domestik  yang dalam, aktif, dan likuid.
Salah satu strateginya adalah melalui pengembangan berbagai instrumen  SBN, termasuk pula pengembangan SBN tematik berbasis lingkungan (Green  Sukuk) dan SDGs (SDG Bond dan Blue Bond). Peranan transformasi digital  dalam proses penerbitan dan penjualan SBN yang didukung dengan sistem  online juga tak kalah
penting, mampu membuat pengadaan utang melalui SBN menjadi semakin efektif dan efisien, serta kredibel.
Terakhir, Menkeu menekankan bahwa pengelolaan portofolio utang  berperan besar dalam menjaga kesinambungan fiskal secara keseluruhan.
&quot;Oleh karena itu, pemerintah konsisten mengelola utang secara cermat  dan terukur dengan menjaga risiko suku bunga, mata uang, likuiditas, dan  jatuh tempo yang optimal,&quot; tutup Menkeu.</description><content:encoded>


JAKARTA - Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah hingga akhir Mei 2024 mencapai Rp8.353,02 triliun. Angka ini naik Rp14,59 triliun dibandingkan April 2024 yang tercatat Rp8.338,43 triliun.
Begitu pula jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, naik Rp565 triliun dari posisi Rp7.787,51 triliun. Kendati demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengklaim, rasio utang per akhir Mei 2024 yang mencapai 38,71% terhadap PDB itu tetap konsisten terjaga di bawah batas aman 60% PDB sesuai UU Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara.

BACA JUGA:
Kemenhub Dapat Utang Rp1,8 Triliun dari Bank Dunia, Buat Apa?

&quot;Dan terus menunjukkan tren penurunan dari angka rasio utang terhadap PDB 2021 yang tercatat 40,74%, 2022 di 39,70% dan 2023 di 39,21%, serta lebih baik dari yang telah ditetapkan melalui Strategi Pengelolaan Utang Jangka Menengah 2024-2027 di kisaran 40%,&quot; jelasnya dalam Buku APBN KiTA yang dikutip MNC Portal Indonesia pada Selasa (2/7/2024).
Adapun mayoritas utang pemerintah berasal dari dalam negeri dengan proporsi 71,12%.
Menurut Menkeu, hal ini selaras dengan kebijakan umum pembiayaan utang untuk mengoptimalkan sumber pembiayaan dalam negeri dan memanfaatkan utang luar negeri sebagai pelengkap.

BACA JUGA:
Jokowi Tarik Utang Baru Rp132,2 Triliun

Kemudian berdasarkan instrumennya, komposisi utang pemerintah sebagian besar berupa  SBN yang mencapai 87,96%. Pasar SBN yang efisien akan meningkatkan daya tahan sistem keuangan Indonesia terhadap guncangan ekonomi dan pasar keuangan.
Menkeu menuturkan, dengan aktivitas pembiayaan utang melalui penerbitan SBN, pemerintah turut mendukung pengembangan dan pendalaman pasar keuangan domestik. SBN turut menyediakan referensi untuk menentukan harga instrumen pasar keuangan lainnya dan digunakan oleh para pelaku pasar untuk mengelola risiko suku bunga.Selanjutnya, guna meningkatkan efisiensi pengelolaan utang dalam  jangka panjang, pemerintah terus berupaya mewujudkan pasar SBN domestik  yang dalam, aktif, dan likuid.
Salah satu strateginya adalah melalui pengembangan berbagai instrumen  SBN, termasuk pula pengembangan SBN tematik berbasis lingkungan (Green  Sukuk) dan SDGs (SDG Bond dan Blue Bond). Peranan transformasi digital  dalam proses penerbitan dan penjualan SBN yang didukung dengan sistem  online juga tak kalah
penting, mampu membuat pengadaan utang melalui SBN menjadi semakin efektif dan efisien, serta kredibel.
Terakhir, Menkeu menekankan bahwa pengelolaan portofolio utang  berperan besar dalam menjaga kesinambungan fiskal secara keseluruhan.
&quot;Oleh karena itu, pemerintah konsisten mengelola utang secara cermat  dan terukur dengan menjaga risiko suku bunga, mata uang, likuiditas, dan  jatuh tempo yang optimal,&quot; tutup Menkeu.</content:encoded></item></channel></rss>
