<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Imbas Pandemi, Masih Banyak Kantor Kosong di Jakarta</title><description>Dampak pandemi covid-19 terhadap industri properti masih terasa.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/03/470/3029487/imbas-pandemi-masih-banyak-kantor-kosong-di-jakarta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/03/470/3029487/imbas-pandemi-masih-banyak-kantor-kosong-di-jakarta"/><item><title>Imbas Pandemi, Masih Banyak Kantor Kosong di Jakarta</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/03/470/3029487/imbas-pandemi-masih-banyak-kantor-kosong-di-jakarta</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/03/470/3029487/imbas-pandemi-masih-banyak-kantor-kosong-di-jakarta</guid><pubDate>Rabu 03 Juli 2024 19:06 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/03/470/3029487/imbas-pandemi-masih-banyak-kantor-kosong-di-jakarta-Wp04RvEwAa.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Okupansi perkantoran di Jakarta masih rendah (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/03/470/3029487/imbas-pandemi-masih-banyak-kantor-kosong-di-jakarta-Wp04RvEwAa.jpg</image><title>Okupansi perkantoran di Jakarta masih rendah (Foto: Shutterstock)</title></images><description>


JAKARTA &amp;ndash; Dampak pandemi covid-19 terhadap industri properti masih terasa. Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto mengungkapkan hingga kuartal II 2024 okupansi perkantoran di wilayah DKI Jakarta masih rendah.
Ferry menjelaskan okupansi perkantoran di wilayah CBD (Central Business District) hingga kuartal II 2024 berada di angka 76%, sedangkan di luar CBD 74%. Okupansi ini masih jauh dibawah tahun 2019 atau sebelum pandemi covid 19, yang mana okupansi perkantoran berada di atas 80%.

BACA JUGA:
4 Kriteria untuk Investasi Properti yang Aman dan Nyaman di Bali 

&quot;Angka ini memang masih relatif rendah untuk menilai bahwa sektor perkantoran ini sudah masuk ke fase yang sudah berimbang antara sisi ketersediaan dengan tenant atau penyewanya,&quot; ujar Ferry dalam konferensi pers virtual, Rabu (3/7/2024).
Lebih lanjut, Ferry menjelaskan total ruang kantor yang masih kosong di Jakarta per Kuartal II 2024 sebanyak 11,13 juta meter persegi (m2), tersebar di wilayah CBD 7,38 juta m2, dan diluar wilayah CBD sebanyak 3,75 m2.

BACA JUGA:
Properti Laris Manis, Unit OXO The Residences: Bukti Bali Rumah Kedua

Menurutnya, lemasnya serapan ruang kantor di Jakarta ini membuat para pengembang juga menahan untuk meluncurkan unit-unit perkantoran baru. Sebab masih banyak ruang kantor yang saat ini masih kosong di Jakarta.
Colliers memproyeksikan, pasokan ruang kantor sendiri tidak akan bertambah pada tahun 2024 hingga 2025 mendatang. Para pengembang akan cenderung menjual perkantoran yang eksisting dahulu ketimbang menambah suply baru.
&quot;Kita tidak melihat pasok baru sampai tahun depan, ini kita lihat menjadi hal positif, tapi di sini kalau di office, ini suply yang sedikit ini menjadi katalis untuk sektor perkantoran bisa bergerak lebih positif,&quot; kata Ferry.Kondisi antara pasokan dan permintaan yang tidak seimbang ini  akhirnya membentuk mekanisme pasar, yang mana tarif dasar sewa  perkantoran juga ikut mengalami penurunan jika diamati sejak tahun 2019  hingga kuartal II 2024 ini .
Berdasarkan data Colliers, tarif dasar sewa perkantoran di Jakarta  pada tahun 2019 sekitar Rp290 ribu per bulan  per meter persegi untuk di  wilayah CBD. Sedangkan untuk di luar CBD tarifnya Rp200 ribu per bulan  per meter persegi.
Namun hingga kuartal II 2024, tarif dasar sewa turun menjadi sekitar  Rp210 ribu per bulan per meter persegi untuk di wilayah CBD. Sedangkan  untuk di luar wilayah CBD, harganya turun menjadi di bawah Rp200 ribu  per bulan per meter persegi.
&quot;Ada potensi okupansi membaik, apalagi kalau ekonomi baik, bisnis bertumbuh, dan penyerapan naik,&quot; tutup Ferry.</description><content:encoded>


JAKARTA &amp;ndash; Dampak pandemi covid-19 terhadap industri properti masih terasa. Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto mengungkapkan hingga kuartal II 2024 okupansi perkantoran di wilayah DKI Jakarta masih rendah.
Ferry menjelaskan okupansi perkantoran di wilayah CBD (Central Business District) hingga kuartal II 2024 berada di angka 76%, sedangkan di luar CBD 74%. Okupansi ini masih jauh dibawah tahun 2019 atau sebelum pandemi covid 19, yang mana okupansi perkantoran berada di atas 80%.

BACA JUGA:
4 Kriteria untuk Investasi Properti yang Aman dan Nyaman di Bali 

&quot;Angka ini memang masih relatif rendah untuk menilai bahwa sektor perkantoran ini sudah masuk ke fase yang sudah berimbang antara sisi ketersediaan dengan tenant atau penyewanya,&quot; ujar Ferry dalam konferensi pers virtual, Rabu (3/7/2024).
Lebih lanjut, Ferry menjelaskan total ruang kantor yang masih kosong di Jakarta per Kuartal II 2024 sebanyak 11,13 juta meter persegi (m2), tersebar di wilayah CBD 7,38 juta m2, dan diluar wilayah CBD sebanyak 3,75 m2.

BACA JUGA:
Properti Laris Manis, Unit OXO The Residences: Bukti Bali Rumah Kedua

Menurutnya, lemasnya serapan ruang kantor di Jakarta ini membuat para pengembang juga menahan untuk meluncurkan unit-unit perkantoran baru. Sebab masih banyak ruang kantor yang saat ini masih kosong di Jakarta.
Colliers memproyeksikan, pasokan ruang kantor sendiri tidak akan bertambah pada tahun 2024 hingga 2025 mendatang. Para pengembang akan cenderung menjual perkantoran yang eksisting dahulu ketimbang menambah suply baru.
&quot;Kita tidak melihat pasok baru sampai tahun depan, ini kita lihat menjadi hal positif, tapi di sini kalau di office, ini suply yang sedikit ini menjadi katalis untuk sektor perkantoran bisa bergerak lebih positif,&quot; kata Ferry.Kondisi antara pasokan dan permintaan yang tidak seimbang ini  akhirnya membentuk mekanisme pasar, yang mana tarif dasar sewa  perkantoran juga ikut mengalami penurunan jika diamati sejak tahun 2019  hingga kuartal II 2024 ini .
Berdasarkan data Colliers, tarif dasar sewa perkantoran di Jakarta  pada tahun 2019 sekitar Rp290 ribu per bulan  per meter persegi untuk di  wilayah CBD. Sedangkan untuk di luar CBD tarifnya Rp200 ribu per bulan  per meter persegi.
Namun hingga kuartal II 2024, tarif dasar sewa turun menjadi sekitar  Rp210 ribu per bulan per meter persegi untuk di wilayah CBD. Sedangkan  untuk di luar wilayah CBD, harganya turun menjadi di bawah Rp200 ribu  per bulan per meter persegi.
&quot;Ada potensi okupansi membaik, apalagi kalau ekonomi baik, bisnis bertumbuh, dan penyerapan naik,&quot; tutup Ferry.</content:encoded></item></channel></rss>
