<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mayoritas Netizen Anggap Kenaikan Utang Negara sebagai Beban</title><description>Matyoritas netizen menilai kenaikan utang negara sebagai beban.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/04/320/3029943/mayoritas-netizen-anggap-kenaikan-utang-negara-sebagai-beban</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/04/320/3029943/mayoritas-netizen-anggap-kenaikan-utang-negara-sebagai-beban"/><item><title>Mayoritas Netizen Anggap Kenaikan Utang Negara sebagai Beban</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/04/320/3029943/mayoritas-netizen-anggap-kenaikan-utang-negara-sebagai-beban</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/04/320/3029943/mayoritas-netizen-anggap-kenaikan-utang-negara-sebagai-beban</guid><pubDate>Kamis 04 Juli 2024 17:03 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/04/320/3029943/mayoritas-netizen-anggap-kenaikan-utang-negara-sebagai-beban-AobCS4R5rV.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mayoritas netizen nilai utang negara sebagai beban (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/04/320/3029943/mayoritas-netizen-anggap-kenaikan-utang-negara-sebagai-beban-AobCS4R5rV.jpg</image><title>Mayoritas netizen nilai utang negara sebagai beban (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8xNi8xLzE4MTgyNS81L3g5MGZuMXE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Matyoritas netizen menilai kenaikan utang negara sebagai beban. Hal ini terungkap dalam survei yang dilakukan oleh Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Direktur Pengembangan Big Data INDEF, Eko Listiyanto menyebut mayoritas netizen menganggap kenaikan utang sebagai beban lantaran banyak digunakan untuk proyek yang dinilai non prioritas dan tidak menguntungkan.

BACA JUGA:
Utang Jatuh Tempo di Era Prabowo Tembus Rp3.749 Triliun, Negara Bisa Stroke


Menurutnya, para netizen juga menilai naiknya utang secara tak langsung membuat harga-harga naik, seiring dengan kenaikan rasio pajak sehingga mereka menuntut agar masalah hutang menjadi perhatian Pemerintah.
&quot;79% dari 22 ribu perbincangan di media sosial menganggap kenaikan hutang sebagai beban dengan berbagai macam komen-komennya. Artinya dengan situasi sekarang dan tahun depan utang kita cukup besar perlu menjadi concern Pemerintah,&quot; kata Eko, Kamis (4/7/2024).

BACA JUGA:
Cara Periksa Utang Pinjol Pakai KTP


Lebih lanjut Eko mengatakan bahwa Pembangunan IKN dinilai netizen menjadi proyek pemerintah yang paling membebani utang. Hal ini dikarenakan pembangunan IKN yang berskala besar dan tak sedikit meragukan proyek tersebut akan gagal yang akhirnya jadi beban keuangan negara.
Walaupun secara proporsional IKN bukan yang terbesar dalam konteks utang tapi menjadi concern para netizen. Dikatakan Eko, ini karena netizen melihat tidak ada investor yang masuk sehingga mereka khawatir akan keberlanjutannya.
&quot;Di sisi lain, juga ada soal KCIC yang dinilai susah mendapatkan untung,&quot; tambahnya.
Meski mayoritas netizen menganggap utang negara sebagai beban, namun  tetap ada netizen yang menyatakan bahwa utang negara tetap memberikan  manfaat yang bisa dirasakan. Eko mengungkap, setidaknya ada 21% netizen  yang menyebut demikian.
&quot;Tapi ada 21% itu menyatakan manfaat, seperti pembangunan  infrastruktur, jalan tol, itu sebagai bagian dari hasil kita menambah  hutang. Itu sisi positifnya,&quot; jelasnya.
Untuk diketahui, hasil survei diperoleh dari perolehan data dari  18,997 akun media sosial dengan 22.189 perbincangan pada 15 Juni hingga 1  Juli 2024. Selain itu juga dari keywords utang negara dicari lebih dari  218.000 kali di google pada 19 Juni hingga 1 Juli 2024.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8xNi8xLzE4MTgyNS81L3g5MGZuMXE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Matyoritas netizen menilai kenaikan utang negara sebagai beban. Hal ini terungkap dalam survei yang dilakukan oleh Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Direktur Pengembangan Big Data INDEF, Eko Listiyanto menyebut mayoritas netizen menganggap kenaikan utang sebagai beban lantaran banyak digunakan untuk proyek yang dinilai non prioritas dan tidak menguntungkan.

BACA JUGA:
Utang Jatuh Tempo di Era Prabowo Tembus Rp3.749 Triliun, Negara Bisa Stroke


Menurutnya, para netizen juga menilai naiknya utang secara tak langsung membuat harga-harga naik, seiring dengan kenaikan rasio pajak sehingga mereka menuntut agar masalah hutang menjadi perhatian Pemerintah.
&quot;79% dari 22 ribu perbincangan di media sosial menganggap kenaikan hutang sebagai beban dengan berbagai macam komen-komennya. Artinya dengan situasi sekarang dan tahun depan utang kita cukup besar perlu menjadi concern Pemerintah,&quot; kata Eko, Kamis (4/7/2024).

BACA JUGA:
Cara Periksa Utang Pinjol Pakai KTP


Lebih lanjut Eko mengatakan bahwa Pembangunan IKN dinilai netizen menjadi proyek pemerintah yang paling membebani utang. Hal ini dikarenakan pembangunan IKN yang berskala besar dan tak sedikit meragukan proyek tersebut akan gagal yang akhirnya jadi beban keuangan negara.
Walaupun secara proporsional IKN bukan yang terbesar dalam konteks utang tapi menjadi concern para netizen. Dikatakan Eko, ini karena netizen melihat tidak ada investor yang masuk sehingga mereka khawatir akan keberlanjutannya.
&quot;Di sisi lain, juga ada soal KCIC yang dinilai susah mendapatkan untung,&quot; tambahnya.
Meski mayoritas netizen menganggap utang negara sebagai beban, namun  tetap ada netizen yang menyatakan bahwa utang negara tetap memberikan  manfaat yang bisa dirasakan. Eko mengungkap, setidaknya ada 21% netizen  yang menyebut demikian.
&quot;Tapi ada 21% itu menyatakan manfaat, seperti pembangunan  infrastruktur, jalan tol, itu sebagai bagian dari hasil kita menambah  hutang. Itu sisi positifnya,&quot; jelasnya.
Untuk diketahui, hasil survei diperoleh dari perolehan data dari  18,997 akun media sosial dengan 22.189 perbincangan pada 15 Juni hingga 1  Juli 2024. Selain itu juga dari keywords utang negara dicari lebih dari  218.000 kali di google pada 19 Juni hingga 1 Juli 2024.</content:encoded></item></channel></rss>
