<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Luhut Buka Suara soal Bea Masuk 200% untuk Barang China</title><description>Pemerintah bakal menerapkan pengenaan tarif impor sebesar 200% untuk produk China.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/05/320/3030398/luhut-buka-suara-soal-bea-masuk-200-untuk-barang-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/05/320/3030398/luhut-buka-suara-soal-bea-masuk-200-untuk-barang-china"/><item><title>Luhut Buka Suara soal Bea Masuk 200% untuk Barang China</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/05/320/3030398/luhut-buka-suara-soal-bea-masuk-200-untuk-barang-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/05/320/3030398/luhut-buka-suara-soal-bea-masuk-200-untuk-barang-china</guid><pubDate>Jum'at 05 Juli 2024 16:56 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/05/320/3030398/luhut-buka-suara-soal-bea-masuk-200-untuk-barang-china-RjgpG0lALB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Luhut buka suara soal bea masuk produk china (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/05/320/3030398/luhut-buka-suara-soal-bea-masuk-200-untuk-barang-china-RjgpG0lALB.jpg</image><title>Luhut buka suara soal bea masuk produk china (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8xOC8xLzE4MDgyOS81L3g4eW81cGk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah bakal menerapkan pengenaan tarif impor sebesar 200% untuk produk China. Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan kebijakan ini mencerminkan posisi Indonesia di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu.
Terutama karena tensi hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa dengan Tiongkok serta Rusia, Indonesia harus menetapkan posisinya dengan baik dan sesuai dengan kepentingan nasional (national interest) Indonesia.

BACA JUGA:
Barang Impor Kena Bea Masuk 200%, Menperin: Nanti Dua Minggu Lagi 


&quot;Ini adalah acuan yang sangat penting, karena Indonesia tidak ingin sekadar mengekor negara-negara lain jika hal tersebut bertentangan dengan kepentingan nasional Indonesia,&quot; tegas Luhut dalam keterangan resminya, Jumat (5/7/2024).
Dikatakan Luhut, dam Rakortas yang dipimpin oleh Presiden Jokowi pada tanggal 25 Juni 2024 lalu juga diputuskan untuk melakukan perlindungan terhadap industri dalam negeri sesuai dengan ketentuan peraturan yang ada dan norma-norma perdagangan internasional yang berlaku.

BACA JUGA:
Imbas Perang Dagang, Barang China Kena Bea Masuk 200%


Langkah-langkah perlindungan ini tentunya haruslah sesuai dengan akar masalah yang terjadi. Salah satu langkah yang diambil adalah penerapan Safeguard Tariff untuk beberapa produk tekstil yang sebenarnya sudah diberlakukan dan saat ini sedang dalam perpanjangan periode waktu. Safeguard ini diberlakukan untuk seluruh barang impor tanpa membedakan asal negara tertentu.
&quot;Saya juga telah berkomunikasi dengan Menteri Perdagangan untuk membahas masalah ini. Kami bersepakat untuk mengutamakan nasional interest kita namun tidak mengabaikan kemitraan dengan negara sahabat,&quot; imbuhnya.
Selain itu, lanjut Luhut, Kepala Negara juga meminta untuk  memperketat pengawasan atas impor, terutama pakaian bekas atau barang  selundupan yang masuk ke Indonesia. Hal ini diperlukan karena terdapat  indikasi masuknya pakaian bekas dan barang selundupan yang mengganggu  pasar dalam negeri.
Pemerintah juga membuka pintu penyelidikan terhadap praktik-praktik  perdagangan yang tidak fair, seperti dumping, dari negara manapun.
&quot;Jadi kita tidak menargetkan negara tertentu, apalagi Tiongkok. Semua  langkah diambil berdasarkan national interest kita. Ini perlu dikaji  betul-betul supaya kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan  kondisi dan kebutuhan industri dalam negeri,&quot; tambahnya.
Tiongkok adalah salah satu mitra komprehensif strategis terpenting  Indonesia dalam hal perdagangan dan investasi. Indonesia berkomitmen  untuk terus menjaga hubungan baik ini dengan terus berkomunikasi dan  berdialog terkait langkah-langkah kebijakan antar kedua negara.
&quot;Kami ingin memastikan bahwa hubungan baik Indonesia dengan negara  mitra terus mengedepankan prinsip saling percaya, saling menghargai, dan  saling melengkapi. Saya memahami betul kemitraan strategis dengan  negara sahabat adalah kemitraan yang senasib sepenanggungan, khususnya  dalam keadaan global yang tidak menentu seperti yang terjadi pada saat  penanganan COVID-19,&quot; tutup Luhut.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNS8xOC8xLzE4MDgyOS81L3g4eW81cGk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah bakal menerapkan pengenaan tarif impor sebesar 200% untuk produk China. Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan kebijakan ini mencerminkan posisi Indonesia di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu.
Terutama karena tensi hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa dengan Tiongkok serta Rusia, Indonesia harus menetapkan posisinya dengan baik dan sesuai dengan kepentingan nasional (national interest) Indonesia.

BACA JUGA:
Barang Impor Kena Bea Masuk 200%, Menperin: Nanti Dua Minggu Lagi 


&quot;Ini adalah acuan yang sangat penting, karena Indonesia tidak ingin sekadar mengekor negara-negara lain jika hal tersebut bertentangan dengan kepentingan nasional Indonesia,&quot; tegas Luhut dalam keterangan resminya, Jumat (5/7/2024).
Dikatakan Luhut, dam Rakortas yang dipimpin oleh Presiden Jokowi pada tanggal 25 Juni 2024 lalu juga diputuskan untuk melakukan perlindungan terhadap industri dalam negeri sesuai dengan ketentuan peraturan yang ada dan norma-norma perdagangan internasional yang berlaku.

BACA JUGA:
Imbas Perang Dagang, Barang China Kena Bea Masuk 200%


Langkah-langkah perlindungan ini tentunya haruslah sesuai dengan akar masalah yang terjadi. Salah satu langkah yang diambil adalah penerapan Safeguard Tariff untuk beberapa produk tekstil yang sebenarnya sudah diberlakukan dan saat ini sedang dalam perpanjangan periode waktu. Safeguard ini diberlakukan untuk seluruh barang impor tanpa membedakan asal negara tertentu.
&quot;Saya juga telah berkomunikasi dengan Menteri Perdagangan untuk membahas masalah ini. Kami bersepakat untuk mengutamakan nasional interest kita namun tidak mengabaikan kemitraan dengan negara sahabat,&quot; imbuhnya.
Selain itu, lanjut Luhut, Kepala Negara juga meminta untuk  memperketat pengawasan atas impor, terutama pakaian bekas atau barang  selundupan yang masuk ke Indonesia. Hal ini diperlukan karena terdapat  indikasi masuknya pakaian bekas dan barang selundupan yang mengganggu  pasar dalam negeri.
Pemerintah juga membuka pintu penyelidikan terhadap praktik-praktik  perdagangan yang tidak fair, seperti dumping, dari negara manapun.
&quot;Jadi kita tidak menargetkan negara tertentu, apalagi Tiongkok. Semua  langkah diambil berdasarkan national interest kita. Ini perlu dikaji  betul-betul supaya kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan  kondisi dan kebutuhan industri dalam negeri,&quot; tambahnya.
Tiongkok adalah salah satu mitra komprehensif strategis terpenting  Indonesia dalam hal perdagangan dan investasi. Indonesia berkomitmen  untuk terus menjaga hubungan baik ini dengan terus berkomunikasi dan  berdialog terkait langkah-langkah kebijakan antar kedua negara.
&quot;Kami ingin memastikan bahwa hubungan baik Indonesia dengan negara  mitra terus mengedepankan prinsip saling percaya, saling menghargai, dan  saling melengkapi. Saya memahami betul kemitraan strategis dengan  negara sahabat adalah kemitraan yang senasib sepenanggungan, khususnya  dalam keadaan global yang tidak menentu seperti yang terjadi pada saat  penanganan COVID-19,&quot; tutup Luhut.</content:encoded></item></channel></rss>
