<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penerbitan Obligasi Korporasi Diprediksi Tembus Rp90 Triliun di Semester II-2024</title><description>Pefindo memproyeksikan penerbitan surat utang (obligasi) korporasi akan berada di kisaran Rp80 triliun sampai Rp90 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/09/320/3031956/penerbitan-obligasi-korporasi-diprediksi-tembus-rp90-triliun-di-semester-ii-2024</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/09/320/3031956/penerbitan-obligasi-korporasi-diprediksi-tembus-rp90-triliun-di-semester-ii-2024"/><item><title>Penerbitan Obligasi Korporasi Diprediksi Tembus Rp90 Triliun di Semester II-2024</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/09/320/3031956/penerbitan-obligasi-korporasi-diprediksi-tembus-rp90-triliun-di-semester-ii-2024</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/09/320/3031956/penerbitan-obligasi-korporasi-diprediksi-tembus-rp90-triliun-di-semester-ii-2024</guid><pubDate>Selasa 09 Juli 2024 15:47 WIB</pubDate><dc:creator>Farida Syifa Anandita</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/09/320/3031956/penerbitan-obligasi-korporasi-diprediksi-tembus-rp90-triliun-di-semester-ii-2024-pJ7vIf9RtU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Proyeksi Obligasi Korporasi (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/09/320/3031956/penerbitan-obligasi-korporasi-diprediksi-tembus-rp90-triliun-di-semester-ii-2024-pJ7vIf9RtU.jpg</image><title>Proyeksi Obligasi Korporasi (Foto: Freepik)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNy8wOC8xLzE4MjY0My81L3g5MXFzYTI=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan surat utang (obligasi) korporasi akan berada di kisaran Rp80 triliun sampai Rp90 triliun pada semester II-2024. Hal ini seiring dengan nilai jatuh tempo yang berada di kisaran Rp85 triliun pada periode ini.
&amp;ldquo;Kami optimis ada di kisaran Rp80 triliun sampai Rp90 triliun,&amp;rdquo; ujar Kepala Divisi Riset Pefindo Suhindarto dalam Media Forum dikutip Antara, Selasa (9/7/2024).

BACA JUGA:
Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp16.251/USD

Dia menjelaskan penerbitan obligasi korporasi di Indonesia sangat dipengaruhi oleh nilai jatuh tempo, yang mana nilai jatuh tempo pada semester II-2024 lebih tinggi dibandingkan pada semester II-2023.
&amp;ldquo;Kami memperkirakan bahwa penerbitan di semester II-2024 ini akan lebih tinggi dibandingkan semester II tahun lalu,&amp;rdquo; ujar Suhindarto.

BACA JUGA:
Sri Mulyani Ungkap Penyebab BUMN Sakit, Salah Siapa?

Terkait nilai jatuh tempo obligasi korporasi pada semester II-2024, ia menjelaskan bahwa akan terdapat senilai Rp42,50 triliun pada kuartal III-2024 dan senilai Rp42,51 triliun pada kuartal IV-2024.&amp;ldquo;Secara total untuk semester II-2024 ada di angka Rp85,01 triliun, ini lebih tinggi dibandingkan dengan semester I-2024 kemarin yang ada di angka Rp65 triliun,&amp;rdquo; ujar Suhindarto.
Sepanjang 2024, Pefindo mencatat nilai jatuh tempo obligasi korporasi total mencapai Rp150,5 triliun, yang didominasi oleh sektor multifinance senilai Rp26,3 triliun dan diikuti oleh sektor perbankan senilai Rp24,7 triliun.
Lalu, nilai jatuh tempo dari sektor telekomunikasi senilai Rp15,6 triliun, diikuti oleh sektor lembaga keuangan khusus senilai Rp14,4 triliun, dan pembiayaan non multifinance senilai Rp12,1 triliun.
Kemudian, nilai jatuh tempo dari sektor pulp and paper senilai Rp85 triliun, diikuti oleh sektor pertambangan senilai Rp8,3 triliun, sektor konstruksi senilai Rp5,4 triliun, sektor properti senilai Rp4,5 triliun, sektor perkebunan senilai Rp4,4 triliun, serta sektor lainnya senilai Rp26,4 triliun.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNy8wOC8xLzE4MjY0My81L3g5MXFzYTI=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan surat utang (obligasi) korporasi akan berada di kisaran Rp80 triliun sampai Rp90 triliun pada semester II-2024. Hal ini seiring dengan nilai jatuh tempo yang berada di kisaran Rp85 triliun pada periode ini.
&amp;ldquo;Kami optimis ada di kisaran Rp80 triliun sampai Rp90 triliun,&amp;rdquo; ujar Kepala Divisi Riset Pefindo Suhindarto dalam Media Forum dikutip Antara, Selasa (9/7/2024).

BACA JUGA:
Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp16.251/USD

Dia menjelaskan penerbitan obligasi korporasi di Indonesia sangat dipengaruhi oleh nilai jatuh tempo, yang mana nilai jatuh tempo pada semester II-2024 lebih tinggi dibandingkan pada semester II-2023.
&amp;ldquo;Kami memperkirakan bahwa penerbitan di semester II-2024 ini akan lebih tinggi dibandingkan semester II tahun lalu,&amp;rdquo; ujar Suhindarto.

BACA JUGA:
Sri Mulyani Ungkap Penyebab BUMN Sakit, Salah Siapa?

Terkait nilai jatuh tempo obligasi korporasi pada semester II-2024, ia menjelaskan bahwa akan terdapat senilai Rp42,50 triliun pada kuartal III-2024 dan senilai Rp42,51 triliun pada kuartal IV-2024.&amp;ldquo;Secara total untuk semester II-2024 ada di angka Rp85,01 triliun, ini lebih tinggi dibandingkan dengan semester I-2024 kemarin yang ada di angka Rp65 triliun,&amp;rdquo; ujar Suhindarto.
Sepanjang 2024, Pefindo mencatat nilai jatuh tempo obligasi korporasi total mencapai Rp150,5 triliun, yang didominasi oleh sektor multifinance senilai Rp26,3 triliun dan diikuti oleh sektor perbankan senilai Rp24,7 triliun.
Lalu, nilai jatuh tempo dari sektor telekomunikasi senilai Rp15,6 triliun, diikuti oleh sektor lembaga keuangan khusus senilai Rp14,4 triliun, dan pembiayaan non multifinance senilai Rp12,1 triliun.
Kemudian, nilai jatuh tempo dari sektor pulp and paper senilai Rp85 triliun, diikuti oleh sektor pertambangan senilai Rp8,3 triliun, sektor konstruksi senilai Rp5,4 triliun, sektor properti senilai Rp4,5 triliun, sektor perkebunan senilai Rp4,4 triliun, serta sektor lainnya senilai Rp26,4 triliun.</content:encoded></item></channel></rss>
