<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>KAI Absen Setor Dividen sejak 2021 karena Proyek Kereta Cepat Whoosh</title><description>Sejak 2021 PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI absen menyetor dividen ke negara.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/10/320/3032274/kai-absen-setor-dividen-sejak-2021-karena-proyek-kereta-cepat-whoosh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/10/320/3032274/kai-absen-setor-dividen-sejak-2021-karena-proyek-kereta-cepat-whoosh"/><item><title>KAI Absen Setor Dividen sejak 2021 karena Proyek Kereta Cepat Whoosh</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/10/320/3032274/kai-absen-setor-dividen-sejak-2021-karena-proyek-kereta-cepat-whoosh</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/10/320/3032274/kai-absen-setor-dividen-sejak-2021-karena-proyek-kereta-cepat-whoosh</guid><pubDate>Rabu 10 Juli 2024 09:43 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/10/320/3032274/kai-absen-setor-dividen-sejak-2021-karena-proyek-kereta-cepat-whoosh-jVqOPURaP4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kereta whoosh jadi alasan KAI absen setor dividen (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/10/320/3032274/kai-absen-setor-dividen-sejak-2021-karena-proyek-kereta-cepat-whoosh-jVqOPURaP4.jpg</image><title>Kereta whoosh jadi alasan KAI absen setor dividen (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNy8wNy80LzE4MjYwNC81L3g5MW52dHk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Sejak 2021 PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI absen menyetor dividen ke negara. Selama periode itu, perseroan diminta memperkuat struktur keuangan dan fokus menyelesaikan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh.
Alasan tersebut disampaikan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko KAI, Salusra Wijaya, saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, kemarin.

BACA JUGA:
Beli Kereta Baru, KAI Minta PMN Rp1,8 Triliun di 2025


Menurut dia, saat itu Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung meminta agar KAI menahan dividen dan menggunakannya sebagai modal untuk mengerjakan proyek Kereta Cepat. Adapun Komite ini dibentuk pemerintah untuk mempercepat pembangunan mega proyek di sektor transportasi massal tersebut.
&amp;ldquo;Sejak 2021 ini KAI mendapat amanah dari Komite Kereta Cepat untuk menahan dividen tadi, untuk penguatan KAI sehubungan dengan penugasan penugasan yang diberikan,&amp;rdquo; ujar Salusra saat forum RDP, ditulis Rabu (10/7/2024).

BACA JUGA:
Anak Kereta Makin Banyak, Penumpang KRL Jabodetabek Tembus 1,04 Juta Orang per Hari


Komite dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi serta beranggotakan Menteri Keuangan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Menteri Perhubungan.
&amp;ldquo;Jadi seperti terlihat tidak ada porsi dividen karena sesuai dengan keputusan Komite Kereta Cepat yang terdiri dari Pak Menko Marves, Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan, dan Menteri BUMN untuk penguatan (keuangan) KAI melalui dividen tadi,&amp;rdquo; paparnya.
Untuk diketahui, pembangunan proyek Kereta Cepat Whoosh diperoleh  dari dana pinjaman China Development Bank (CDB) sebesar 75%. Sedangkan  25% merupakan setoran modal pemegang saham, yaitu gabungan dari PT Pilar  Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) 60% dan Beijing Yawan HSR Co. Ltd. 40%.
PSBI merupakan konsorsium yang beranggotakan beberapa BUMN. Dari  komposisi pemegang sahamnya, KAI sebesar 51,37%, PT Wijaya Karya  (Persero) Tbk atau WIKA 39,12%, PT Perkebunan Nusantara I 1,21%, dan PT  Jasa Marga (Persero) Tbk 8,30%.
Konsorsium BUMN inilah yang menggandeng konsorsium perusahaan  perkeretaapian Tiongkok, melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd, membentuk  perusahaan patungan yang dikenal PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC),  sekaligus menjadi operator Kereta Cepat Whoosh saat ini.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNy8wNy80LzE4MjYwNC81L3g5MW52dHk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Sejak 2021 PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI absen menyetor dividen ke negara. Selama periode itu, perseroan diminta memperkuat struktur keuangan dan fokus menyelesaikan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh.
Alasan tersebut disampaikan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko KAI, Salusra Wijaya, saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, kemarin.

BACA JUGA:
Beli Kereta Baru, KAI Minta PMN Rp1,8 Triliun di 2025


Menurut dia, saat itu Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung meminta agar KAI menahan dividen dan menggunakannya sebagai modal untuk mengerjakan proyek Kereta Cepat. Adapun Komite ini dibentuk pemerintah untuk mempercepat pembangunan mega proyek di sektor transportasi massal tersebut.
&amp;ldquo;Sejak 2021 ini KAI mendapat amanah dari Komite Kereta Cepat untuk menahan dividen tadi, untuk penguatan KAI sehubungan dengan penugasan penugasan yang diberikan,&amp;rdquo; ujar Salusra saat forum RDP, ditulis Rabu (10/7/2024).

BACA JUGA:
Anak Kereta Makin Banyak, Penumpang KRL Jabodetabek Tembus 1,04 Juta Orang per Hari


Komite dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi serta beranggotakan Menteri Keuangan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Menteri Perhubungan.
&amp;ldquo;Jadi seperti terlihat tidak ada porsi dividen karena sesuai dengan keputusan Komite Kereta Cepat yang terdiri dari Pak Menko Marves, Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan, dan Menteri BUMN untuk penguatan (keuangan) KAI melalui dividen tadi,&amp;rdquo; paparnya.
Untuk diketahui, pembangunan proyek Kereta Cepat Whoosh diperoleh  dari dana pinjaman China Development Bank (CDB) sebesar 75%. Sedangkan  25% merupakan setoran modal pemegang saham, yaitu gabungan dari PT Pilar  Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) 60% dan Beijing Yawan HSR Co. Ltd. 40%.
PSBI merupakan konsorsium yang beranggotakan beberapa BUMN. Dari  komposisi pemegang sahamnya, KAI sebesar 51,37%, PT Wijaya Karya  (Persero) Tbk atau WIKA 39,12%, PT Perkebunan Nusantara I 1,21%, dan PT  Jasa Marga (Persero) Tbk 8,30%.
Konsorsium BUMN inilah yang menggandeng konsorsium perusahaan  perkeretaapian Tiongkok, melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd, membentuk  perusahaan patungan yang dikenal PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC),  sekaligus menjadi operator Kereta Cepat Whoosh saat ini.</content:encoded></item></channel></rss>
