<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Marak Kejahatan Digital, Bagaimana Keamanan Siber Perbankan di RI?</title><description>Ancaman serangan siber semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/10/320/3032561/marak-kejahatan-digital-bagaimana-keamanan-siber-perbankan-di-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/10/320/3032561/marak-kejahatan-digital-bagaimana-keamanan-siber-perbankan-di-ri"/><item><title>Marak Kejahatan Digital, Bagaimana Keamanan Siber Perbankan di RI?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/10/320/3032561/marak-kejahatan-digital-bagaimana-keamanan-siber-perbankan-di-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/10/320/3032561/marak-kejahatan-digital-bagaimana-keamanan-siber-perbankan-di-ri</guid><pubDate>Rabu 10 Juli 2024 18:29 WIB</pubDate><dc:creator>Jihaan Haniifah Yarra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/10/320/3032561/marak-kejahatan-digital-bagaimana-keamanan-siber-perbankan-di-ri-gKbz1sM1hR.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Keamanan Siber Perbankan (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/10/320/3032561/marak-kejahatan-digital-bagaimana-keamanan-siber-perbankan-di-ri-gKbz1sM1hR.jpeg</image><title>Keamanan Siber Perbankan (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNy8wMi8xLzE4MjQxNC81L3g5MWQxdnk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Ancaman serangan siber semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Makin kompleks dan sulit untuk dideteksi. Terutama di industri perbankan, jenis serangan siber kian beragam yang bisa menimbulkan kerugian financial yang tak sedikit.
Hal ini disampaikan Kepala Otoritas Jasa Keuangan OJK Regional Satu Jabodebek dan Banten Roberto Akyuwen. Menurutnya, serangan siber di industri perbankan akan terjadi terus menerus dan semakin canggih. Salah satu sasaran dari serangan siber perbankan saat ini adalah rantai suplai (supply chain attacks).

BACA JUGA:
Eks Karyawan Bobol Rekening Nasabah Terblokir, Ini Penjelasan Bank Jago (ARTO)

&amp;ldquo;Kalau dulu dia (serangan siber) lebih mendekati end user, atau core system bank. Sekarang, karena kita terpapar dengan banyak sistem. Ketika core banking system meningkat, biasanya kita tingkatkan kapasitasnya. Ini yang membuat kita lebih terekspose, mendatangkan risiko serangan siber,&amp;rdquo; ujar Roberto dalam Talkshow dan Launching buku bertema &amp;ldquo;Keamanan Siber Bank&amp;rdquo; di Universitas Trisakti, Jakarta, Rabu (10/7/2024).
Roberto menjelaskan, tujuan dari para pelaku kejahatan siber pun kini beragam. Ada yang hanya sekadar iseng dan ada juga yang masuk ke dalam kategori kejahatan serius demi keuntungan finansial. Keuntungan tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, seperti profit pribadi hingga biaya politik.

BACA JUGA:
Daftar Bank yang Dapat Membantu Melunasi Utang di Indonesia

&amp;ldquo;Variasinya makin banyak. Ransomware pun dulu memang hanya duit, bayar selesai. Tapi sekarang mereka mau nunjukin bahwa mereka bisa mengganggu sistem suatu bank. Itu banyak kejadian begitu. Yang lebih parah lagi, sewaktu-waktu mereka bisa mampir ganggu lagi,&amp;rdquo; jelasnya.Tren Keamanan Siber Perbankan
Dia melanjutkan, dalam melawan serangan siber tersebut, memang ada konsekuensi yang harus ditanggung perbankan. Pasalnya, serangan siber di sektor keuangan hampir tiga kali lebih banyak dibandingkan industri lainnya.
&amp;ldquo;Ada tren keamanan siber untuk menggambarkan tentang konsekuensi yang harus ditanggung oleh suata lembaga jasa keuangan khususnya bank ketika berhadapan dengan serangan siber,&amp;rdquo; ujar Roberto.
Kebocoran data, misalnya. Kata Roberto, hal tersebut menyebabkan peningkatan biaya yang sangat besar bagi perbankan. Selain itu, untuk mengimplementasikan dan mengelola infrastruktur keamanan siber, diperkirakan akan meningkat lebih dari 40 persen pada 2025.
Kemudian, bank perlu meningkatkan penggunaan biometrik dan token. Karena bank-bank mulai mengenalinya sebagai suatu solusi yang berguna dalam pengendalian keamanan pembayaran.
&amp;ldquo;Para nasabah mulai menggunakan biometrik untuk aktivitas-aktivitas perbankan, seperti otentifikasi pada mobile banking, melakukan transaksi pada ATM, dan pembayaran,&amp;rdquo; jelasnya.
Ke depannya, kata Roberto, nasabah juga akan lebih memilih jalur digital. Untuk itu, bank-bank perlu menyediakan pula otentifikasi dan proses pengendalian akses yang lebih canggih.
&amp;ldquo;Tentunya hal tersebut tanpa mengorbankan pengalaman nasabah,&amp;rdquo; tutup Roberto.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNy8wMi8xLzE4MjQxNC81L3g5MWQxdnk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Ancaman serangan siber semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Makin kompleks dan sulit untuk dideteksi. Terutama di industri perbankan, jenis serangan siber kian beragam yang bisa menimbulkan kerugian financial yang tak sedikit.
Hal ini disampaikan Kepala Otoritas Jasa Keuangan OJK Regional Satu Jabodebek dan Banten Roberto Akyuwen. Menurutnya, serangan siber di industri perbankan akan terjadi terus menerus dan semakin canggih. Salah satu sasaran dari serangan siber perbankan saat ini adalah rantai suplai (supply chain attacks).

BACA JUGA:
Eks Karyawan Bobol Rekening Nasabah Terblokir, Ini Penjelasan Bank Jago (ARTO)

&amp;ldquo;Kalau dulu dia (serangan siber) lebih mendekati end user, atau core system bank. Sekarang, karena kita terpapar dengan banyak sistem. Ketika core banking system meningkat, biasanya kita tingkatkan kapasitasnya. Ini yang membuat kita lebih terekspose, mendatangkan risiko serangan siber,&amp;rdquo; ujar Roberto dalam Talkshow dan Launching buku bertema &amp;ldquo;Keamanan Siber Bank&amp;rdquo; di Universitas Trisakti, Jakarta, Rabu (10/7/2024).
Roberto menjelaskan, tujuan dari para pelaku kejahatan siber pun kini beragam. Ada yang hanya sekadar iseng dan ada juga yang masuk ke dalam kategori kejahatan serius demi keuntungan finansial. Keuntungan tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, seperti profit pribadi hingga biaya politik.

BACA JUGA:
Daftar Bank yang Dapat Membantu Melunasi Utang di Indonesia

&amp;ldquo;Variasinya makin banyak. Ransomware pun dulu memang hanya duit, bayar selesai. Tapi sekarang mereka mau nunjukin bahwa mereka bisa mengganggu sistem suatu bank. Itu banyak kejadian begitu. Yang lebih parah lagi, sewaktu-waktu mereka bisa mampir ganggu lagi,&amp;rdquo; jelasnya.Tren Keamanan Siber Perbankan
Dia melanjutkan, dalam melawan serangan siber tersebut, memang ada konsekuensi yang harus ditanggung perbankan. Pasalnya, serangan siber di sektor keuangan hampir tiga kali lebih banyak dibandingkan industri lainnya.
&amp;ldquo;Ada tren keamanan siber untuk menggambarkan tentang konsekuensi yang harus ditanggung oleh suata lembaga jasa keuangan khususnya bank ketika berhadapan dengan serangan siber,&amp;rdquo; ujar Roberto.
Kebocoran data, misalnya. Kata Roberto, hal tersebut menyebabkan peningkatan biaya yang sangat besar bagi perbankan. Selain itu, untuk mengimplementasikan dan mengelola infrastruktur keamanan siber, diperkirakan akan meningkat lebih dari 40 persen pada 2025.
Kemudian, bank perlu meningkatkan penggunaan biometrik dan token. Karena bank-bank mulai mengenalinya sebagai suatu solusi yang berguna dalam pengendalian keamanan pembayaran.
&amp;ldquo;Para nasabah mulai menggunakan biometrik untuk aktivitas-aktivitas perbankan, seperti otentifikasi pada mobile banking, melakukan transaksi pada ATM, dan pembayaran,&amp;rdquo; jelasnya.
Ke depannya, kata Roberto, nasabah juga akan lebih memilih jalur digital. Untuk itu, bank-bank perlu menyediakan pula otentifikasi dan proses pengendalian akses yang lebih canggih.
&amp;ldquo;Tentunya hal tersebut tanpa mengorbankan pengalaman nasabah,&amp;rdquo; tutup Roberto.</content:encoded></item></channel></rss>
