<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Terseret Isu Mark Up Harga Beras Impor Rp2,7 Triliun, Ini Kata Perusahaan Vietnam</title><description>Perusahaan asal Vietnam terseret isu mark up harga impor 2,2 juta ton beras Perum Bulog senilai Rp2,7 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/12/320/3033421/terseret-isu-mark-up-harga-beras-impor-rp2-7-triliun-ini-kata-perusahaan-vietnam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/12/320/3033421/terseret-isu-mark-up-harga-beras-impor-rp2-7-triliun-ini-kata-perusahaan-vietnam"/><item><title>Terseret Isu Mark Up Harga Beras Impor Rp2,7 Triliun, Ini Kata Perusahaan Vietnam</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/12/320/3033421/terseret-isu-mark-up-harga-beras-impor-rp2-7-triliun-ini-kata-perusahaan-vietnam</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/12/320/3033421/terseret-isu-mark-up-harga-beras-impor-rp2-7-triliun-ini-kata-perusahaan-vietnam</guid><pubDate>Jum'at 12 Juli 2024 15:01 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/12/320/3033421/terseret-isu-mark-up-harga-beras-impor-rp2-7-triliun-ini-kata-perusahaan-vietnam-VIvjBQ9mHm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perusahaan vietnam buka suara soal skandal mark up impor beras (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/12/320/3033421/terseret-isu-mark-up-harga-beras-impor-rp2-7-triliun-ini-kata-perusahaan-vietnam-VIvjBQ9mHm.jpg</image><title>Perusahaan vietnam buka suara soal skandal mark up impor beras (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNy8wNC8xLzE4MjUxMS81L3g5MWlzN28=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Perusahaan asal Vietnam terseret isu mark up harga impor 2,2 juta ton beras Perum Bulog senilai Rp2,7 triliun. Kasus ini disebut-sebut melibatkan Tan Long Group (TLG), perusahaan asal Vietnam.
Direktur Utama TLG, Truong Sy Ba membantah bahwa pihaknya memenangkan tender atas impor beras Bulog sejak 2023 lalu hingga saat ini.

BACA JUGA:
Pansus Skandal Mark Up Impor Beras Rp2,7 Triliun Segera Dibentuk


&amp;ldquo;Dalam sejarah tender beras Bulog, dari tahun 2023 sampai sekarang, kami tidak pernah memenangkan tender langsung apapun dari Bulog&amp;rdquo; ujar Truong Sy Ba saat sesi wawancara dengan media Vietnam CAFEF dan dikutip Bulog, Jumat (12/7/2024).
Dia menjelaskan, paket tender 22 Mei yang diumumkan Bulog, di mana L&amp;#7897;c Tr&amp;#7901;i dan anak perusahaannya berencana untuk menawarkan 100.000 ton beras, namun namun Tan Long menawar dengan harga USD15 per ton lebih tinggi, sehingga tidak memenangkan tender.

BACA JUGA:
Anggaran Bansos Beras Ditambah Rp11 Triliun


&amp;ldquo;Pada bulan Mei, kami pernah menawarkan penjualan 100.000 ton beras dengan harga USD538 per ton, harga FOB. Namun, dibandingkan dengan harga dari perusahaan L&amp;#7897;c Tr&amp;#7901;i, harga dari TLG lebih tinggi sehingga kami tidak jadi ikut&amp;rdquo; paparnya.
Menurutnya, Indonesia membeli beras melalui tender Bulog dan membeli dengan harga CNF bukan harga FOB, dan harga CNF dari perusahaan L&amp;#7897;c Tr&amp;#7901;i, Thu&amp;#7853;n Minh, Quang Ph&amp;aacute;t sekitar USD568 per ton atau dengan harga FOB sekitar USD530 per ton, lebih rendah dari penawaran TLG sebesar USD538 per ton.
&amp;ldquo;Harga FOB kami lebih tinggi USD5-8 per ton,&amp;rdquo; beber dia.
Penjelasan Tan Long Group sekaligus merespon isu mark up beras impor  Bulog. Disisi lain, ada ditakutkan bila isu mark up beras bisa berdampak  pada kelancaran pembelian beras Indonesia dari Vietnam hingga akhir  tahun 2024. Bahkan mempengaruhi hubungan bilateral perdagangan kedua  negara.
Senada, Direktur Transformasi dan Hubungan Antar Lembaga Bulog, Sonya  Mamoriska mengatakan, pihaknya mendapatkan penugasan untuk mengimpor  beras sebesar 3,6 juta ton sepanjang tahun ini.
Pada periode Januari-Mei 2024, jumlah impor sudah mencapai 2,2 juta  ton. Impor dilakukan Bulog secara berkala dengan melihat neraca  perberasan nasional dan mengutamakan penyerapan beras dan gabah dalam  negeri.
Adapun, hingga akhir Juni BUMN pangan ini sudah menyerap 800.000 ton  beras dalam negeri dan optimis bisa mencapai 1 juta ton, sesuai target  yang telah ditetapkan.
&amp;ldquo;Kami terus menjaga komitmen untuk tetap menjadi pemimpin rantai  pasok pangan yang tepercaya sehingga bisa berkontribusi lebih bagi  kesejahteraan masyarakat Indonesia dan hal ini tentunya sesuai dengan  ke-4 visi transformasi kami yaitu kepemimpinan, kepercayaan, pelayanan  terbaik dan kesejahteraan masyarakat,&amp;rdquo; ucap Sonya Mamoriska.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNy8wNC8xLzE4MjUxMS81L3g5MWlzN28=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Perusahaan asal Vietnam terseret isu mark up harga impor 2,2 juta ton beras Perum Bulog senilai Rp2,7 triliun. Kasus ini disebut-sebut melibatkan Tan Long Group (TLG), perusahaan asal Vietnam.
Direktur Utama TLG, Truong Sy Ba membantah bahwa pihaknya memenangkan tender atas impor beras Bulog sejak 2023 lalu hingga saat ini.

BACA JUGA:
Pansus Skandal Mark Up Impor Beras Rp2,7 Triliun Segera Dibentuk


&amp;ldquo;Dalam sejarah tender beras Bulog, dari tahun 2023 sampai sekarang, kami tidak pernah memenangkan tender langsung apapun dari Bulog&amp;rdquo; ujar Truong Sy Ba saat sesi wawancara dengan media Vietnam CAFEF dan dikutip Bulog, Jumat (12/7/2024).
Dia menjelaskan, paket tender 22 Mei yang diumumkan Bulog, di mana L&amp;#7897;c Tr&amp;#7901;i dan anak perusahaannya berencana untuk menawarkan 100.000 ton beras, namun namun Tan Long menawar dengan harga USD15 per ton lebih tinggi, sehingga tidak memenangkan tender.

BACA JUGA:
Anggaran Bansos Beras Ditambah Rp11 Triliun


&amp;ldquo;Pada bulan Mei, kami pernah menawarkan penjualan 100.000 ton beras dengan harga USD538 per ton, harga FOB. Namun, dibandingkan dengan harga dari perusahaan L&amp;#7897;c Tr&amp;#7901;i, harga dari TLG lebih tinggi sehingga kami tidak jadi ikut&amp;rdquo; paparnya.
Menurutnya, Indonesia membeli beras melalui tender Bulog dan membeli dengan harga CNF bukan harga FOB, dan harga CNF dari perusahaan L&amp;#7897;c Tr&amp;#7901;i, Thu&amp;#7853;n Minh, Quang Ph&amp;aacute;t sekitar USD568 per ton atau dengan harga FOB sekitar USD530 per ton, lebih rendah dari penawaran TLG sebesar USD538 per ton.
&amp;ldquo;Harga FOB kami lebih tinggi USD5-8 per ton,&amp;rdquo; beber dia.
Penjelasan Tan Long Group sekaligus merespon isu mark up beras impor  Bulog. Disisi lain, ada ditakutkan bila isu mark up beras bisa berdampak  pada kelancaran pembelian beras Indonesia dari Vietnam hingga akhir  tahun 2024. Bahkan mempengaruhi hubungan bilateral perdagangan kedua  negara.
Senada, Direktur Transformasi dan Hubungan Antar Lembaga Bulog, Sonya  Mamoriska mengatakan, pihaknya mendapatkan penugasan untuk mengimpor  beras sebesar 3,6 juta ton sepanjang tahun ini.
Pada periode Januari-Mei 2024, jumlah impor sudah mencapai 2,2 juta  ton. Impor dilakukan Bulog secara berkala dengan melihat neraca  perberasan nasional dan mengutamakan penyerapan beras dan gabah dalam  negeri.
Adapun, hingga akhir Juni BUMN pangan ini sudah menyerap 800.000 ton  beras dalam negeri dan optimis bisa mencapai 1 juta ton, sesuai target  yang telah ditetapkan.
&amp;ldquo;Kami terus menjaga komitmen untuk tetap menjadi pemimpin rantai  pasok pangan yang tepercaya sehingga bisa berkontribusi lebih bagi  kesejahteraan masyarakat Indonesia dan hal ini tentunya sesuai dengan  ke-4 visi transformasi kami yaitu kepemimpinan, kepercayaan, pelayanan  terbaik dan kesejahteraan masyarakat,&amp;rdquo; ucap Sonya Mamoriska.</content:encoded></item></channel></rss>
