<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bangkrut! 40.000 Perusahaan Israel Gulung Tikar Sejak Oktober</title><description>Israel menghadapi tantangan ekonomi akibat gelombang kebangkrutan lebih dari 40.00 perusahaan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/12/320/3033451/bangkrut-40-000-perusahaan-israel-gulung-tikar-sejak-oktober</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/12/320/3033451/bangkrut-40-000-perusahaan-israel-gulung-tikar-sejak-oktober"/><item><title>Bangkrut! 40.000 Perusahaan Israel Gulung Tikar Sejak Oktober</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/12/320/3033451/bangkrut-40-000-perusahaan-israel-gulung-tikar-sejak-oktober</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/12/320/3033451/bangkrut-40-000-perusahaan-israel-gulung-tikar-sejak-oktober</guid><pubDate>Sabtu 13 Juli 2024 05:11 WIB</pubDate><dc:creator>Nekha Fatimah Nursadiyah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/12/320/3033451/bangkrut-40-000-perusahaan-israel-gulung-tikar-sejak-oktober-Cb6m6xpcq8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">40 ribu perusahaan israel bangkrut (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/12/320/3033451/bangkrut-40-000-perusahaan-israel-gulung-tikar-sejak-oktober-Cb6m6xpcq8.jpg</image><title>40 ribu perusahaan israel bangkrut (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8yNy8xLzE4MjIxMy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Israel menghadapi tantangan ekonomi akibat gelombang kebangkrutan lebih dari 40.00 perusahaan. Sejak Oktober, 40.000 perusahaan tersebut lakukan penutupan usahanya.
Diperkirakan, jumlah perusahaan yang bangkrut di Israel akan meningkat menjadi 60.000 pada akhir tahun ini.

BACA JUGA:
Tentara Israel Gagal Lindungi Kibbutz dari Serangan Hamas, Menhan Gallant Serukan Penyelidikan


Dikutip dari Middle East Monitor, Jumat (12/7/2024), surat kabar Israel, Maariv, mengutip data dari CEO CofaceBDI, Yoel Amir, yang menyatakan: &quot;Ini adalah angka yang sangat tinggi dan mencakup berbagai sektor.&quot;
Usaha yang bangkrut merupakan 77% usaha kecil yang paling rentang. Sektor yang paling terdampak adalah konstruksi dan industri terkait seperti keramik, AC, aluminium, dan bahan bangunan.

BACA JUGA:
Israel Bombardir Kota Gaza dalam Salah Satu Minggu Perang Paling Sengit, 25 Orang Tewas dan 30 Jenazah Tergeletak di Jalanan


Sektor perdagangan, seperti fesyen, furnitur, dan peralatan rumah tangga, serta sektor jasa, seperti kafe, hiburan, dan transportasi, juga mengalami dampak yang signifikan.
Tidak hanya itu, pariwisata menjadi sektor yang sangat terdampak oleh perang, dengan hampir tidak ada wisatawan asing yang berkunjung dan suasana nasional yang semakin suram.
&amp;ldquo;Kerusakan di zona pertempuran lebih serius, namun kerugian terhadap dunia usaha terjadi di seluruh negeri, dan hampir tidak ada sektor yang terkena dampaknya,&amp;rdquo; ungkap Amir.
 
Menurut Amir,dampak kerusakan yang terjadi sangat besar dan meluas ke seluruh aspek perekonomian Israel.
&quot;Pada akhirnya, ketika perusahaan-perusahaan menutup usahanya dan  tidak mampu membayar utangnya, kerugian juga akan dirasakan oleh  pelanggan, pemasok, dan perusahaan yang terlibat dalam sistem kerja  mereka,&quot; tuturnya.
&amp;ldquo;Selain penutupan perusahaan, terjadi penurunan tajam aktivitas korporasi di berbagai sektor sejak awal perang,&amp;rdquo; Sambung Amir
Amir menekankan bahwa dalam sebuah survei baru-baru ini, sekitar 56  persen manajer perusahaan komersial di Israel melaporkan adanya  penurunan signifikan dalam aktivitas bisnis mereka sejak awal perang.
&amp;ldquo;Kami memperkirakan pada akhir tahun 2024, diperkirakan sekitar  60.000 perusahaan akan tutup di Israel. Sebagai perbandingan, pada tahun  2020, tahun krisis Corona, sekitar 74.000 perusahaan tutup.&amp;rdquo; katanya.
Amir mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan di Israel sedang  menghadapi tantangan besar, termasuk kekurangan tenaga kerja, penurunan  penjualan, tingginya suku bunga dan biaya pembiayaan, masalah  transportasi dan logistik, kekurangan bahan baku, serta ketidakmampuan  mengakses lahan pertanian di zona konflik.
Baca selengkapnya: 40.000 Perusahaan Israel Bangkrut sejak Oktober</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8yNy8xLzE4MjIxMy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Israel menghadapi tantangan ekonomi akibat gelombang kebangkrutan lebih dari 40.00 perusahaan. Sejak Oktober, 40.000 perusahaan tersebut lakukan penutupan usahanya.
Diperkirakan, jumlah perusahaan yang bangkrut di Israel akan meningkat menjadi 60.000 pada akhir tahun ini.

BACA JUGA:
Tentara Israel Gagal Lindungi Kibbutz dari Serangan Hamas, Menhan Gallant Serukan Penyelidikan


Dikutip dari Middle East Monitor, Jumat (12/7/2024), surat kabar Israel, Maariv, mengutip data dari CEO CofaceBDI, Yoel Amir, yang menyatakan: &quot;Ini adalah angka yang sangat tinggi dan mencakup berbagai sektor.&quot;
Usaha yang bangkrut merupakan 77% usaha kecil yang paling rentang. Sektor yang paling terdampak adalah konstruksi dan industri terkait seperti keramik, AC, aluminium, dan bahan bangunan.

BACA JUGA:
Israel Bombardir Kota Gaza dalam Salah Satu Minggu Perang Paling Sengit, 25 Orang Tewas dan 30 Jenazah Tergeletak di Jalanan


Sektor perdagangan, seperti fesyen, furnitur, dan peralatan rumah tangga, serta sektor jasa, seperti kafe, hiburan, dan transportasi, juga mengalami dampak yang signifikan.
Tidak hanya itu, pariwisata menjadi sektor yang sangat terdampak oleh perang, dengan hampir tidak ada wisatawan asing yang berkunjung dan suasana nasional yang semakin suram.
&amp;ldquo;Kerusakan di zona pertempuran lebih serius, namun kerugian terhadap dunia usaha terjadi di seluruh negeri, dan hampir tidak ada sektor yang terkena dampaknya,&amp;rdquo; ungkap Amir.
 
Menurut Amir,dampak kerusakan yang terjadi sangat besar dan meluas ke seluruh aspek perekonomian Israel.
&quot;Pada akhirnya, ketika perusahaan-perusahaan menutup usahanya dan  tidak mampu membayar utangnya, kerugian juga akan dirasakan oleh  pelanggan, pemasok, dan perusahaan yang terlibat dalam sistem kerja  mereka,&quot; tuturnya.
&amp;ldquo;Selain penutupan perusahaan, terjadi penurunan tajam aktivitas korporasi di berbagai sektor sejak awal perang,&amp;rdquo; Sambung Amir
Amir menekankan bahwa dalam sebuah survei baru-baru ini, sekitar 56  persen manajer perusahaan komersial di Israel melaporkan adanya  penurunan signifikan dalam aktivitas bisnis mereka sejak awal perang.
&amp;ldquo;Kami memperkirakan pada akhir tahun 2024, diperkirakan sekitar  60.000 perusahaan akan tutup di Israel. Sebagai perbandingan, pada tahun  2020, tahun krisis Corona, sekitar 74.000 perusahaan tutup.&amp;rdquo; katanya.
Amir mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan di Israel sedang  menghadapi tantangan besar, termasuk kekurangan tenaga kerja, penurunan  penjualan, tingginya suku bunga dan biaya pembiayaan, masalah  transportasi dan logistik, kekurangan bahan baku, serta ketidakmampuan  mengakses lahan pertanian di zona konflik.
Baca selengkapnya: 40.000 Perusahaan Israel Bangkrut sejak Oktober</content:encoded></item></channel></rss>
