<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Pengrajin Sepatu Kulit asal Depok Bertahan di Tengah Gempuran Barang Impor China</title><description>Dampak gempuran impor sepatu murah dari China turut dirasakan pengrajin dan penjual sepatu kulit asal Depok.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/16/455/3034891/cerita-pengrajin-sepatu-kulit-asal-depok-bertahan-di-tengah-gempuran-barang-impor-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/16/455/3034891/cerita-pengrajin-sepatu-kulit-asal-depok-bertahan-di-tengah-gempuran-barang-impor-china"/><item><title>Cerita Pengrajin Sepatu Kulit asal Depok Bertahan di Tengah Gempuran Barang Impor China</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/16/455/3034891/cerita-pengrajin-sepatu-kulit-asal-depok-bertahan-di-tengah-gempuran-barang-impor-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/16/455/3034891/cerita-pengrajin-sepatu-kulit-asal-depok-bertahan-di-tengah-gempuran-barang-impor-china</guid><pubDate>Selasa 16 Juli 2024 09:57 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Refi Sandi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/16/455/3034891/cerita-pengrajin-sepatu-kulit-asal-depok-bertahan-di-tengah-gempuran-barang-impor-china-nsEM2y53hG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dampak impor sepatu China terhadap produk lokal (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/16/455/3034891/cerita-pengrajin-sepatu-kulit-asal-depok-bertahan-di-tengah-gempuran-barang-impor-china-nsEM2y53hG.jpg</image><title>Dampak impor sepatu China terhadap produk lokal (Foto: Okezone)</title></images><description>
DEPOK &amp;ndash; Dampak gempuran impor sepatu murah dari China turut dirasakan pengrajin dan penjual sepatu kulit asal Depok, Jawa Barat. Pengrajin sepatu lokal mesti bertahan meski mulai sepi peminat.
Pengrajin sepatu kulit sekaligus pemiliknya kini, H. Muhammad Adha menyebut kini meski sepi peminat bertahan dengan membuka dua toko dan e-commerce serta pelanggan setia baik kalangan bekas pejabat daerah maupun pegawai aparatur sipil negara (ASN).

BACA JUGA:
Ganjar Belanja Sepatu Lokal Rp65 Ribu di Pasar Pontianak, Label Merek Sengaja Tak Dilepas

Omzetnya turun drastis, semenjak Corona (Covid-19) kemarin lah. Sebelum Corona masih lumayan,&quot; kata Adha saat ditemui langsung di toko kecil sederhana 'New Hunterian', Jalan Sersan Aning, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Selasa (16/7/2024).
Pengrajin yang telah mendirikan usaha sepatu kulit rumahan sejak 1987 itu menyebut gempuran impor produk sepatu dari China menjadi pilihan masyarakat Tanah Air khususnya Depok meski kualitasnya berbanding terbalik dengan produknya. Adha menambahkan situasi ekonomi masyarakat yang lemah pun berpengaruh terhadap daya beli.

BACA JUGA:
Uniknya Sepatu Lokal Bertema Film Harry Potter, Kasual dan Stylish!

&quot;Orang kita kan yang tidak punya duit, mending beli itu. Malah ada konsumen yang menanyakan, 'enggak ada yang Rp 100 ribuan pak'. Sepatu saya sekarang Rp 400 ribuan. Akhirnya dia cari yang Rp 100 ribuan. Ekonominya yang enggak kuat, ya gimana daya beli masyarakat jadi kurang,&quot; ucapnya.
Adha mengatakan dulu saat sebelum sepi peminat sempat memiliki 10 karyawan untuk mengerjakan ratusan pasang sepatu kulit per bulan. Kini hanya ada pekerja freelance dan mengerjakan sepatu kulit untuk sesuai pesanan dan menunggu stok berkurang&amp;nbsp;dulu.
&quot;Dulu sampai sempat 10 karyawan. Pesanan banyak buat toko juga. Harga  dari saya berapa terserah dia jual berapa yang penting cash. Produksi  dulu per bulan bisa sampai 500 sampai 600 pasang per bulan. Dulu  penjualannya cepat, sekarang mah teler,&quot; ucap Adha.
Lebih lanjut, Adha membeberkan kunci sukses bertahan meski gempuran  produk sepatu China yang lebih murah terus menghantam usahanya. Selama  37 tahun sebagai pengrajin dan penjual sepatu kulit lokal dan melewati  badai krisis moneter 1998 silam, Ia tak pernah meminjam modal ke bank.
&quot;Kuncinya tidak ngutang di bank saja. Soalnya kalau ngutang di bank  kita ngejar-ngejar pembayarannya. Sudah itu tidak ngontrak. Jalanin saja  putar-putar, mending ngutang di toko bahan,&quot; ungkapnya.</description><content:encoded>
DEPOK &amp;ndash; Dampak gempuran impor sepatu murah dari China turut dirasakan pengrajin dan penjual sepatu kulit asal Depok, Jawa Barat. Pengrajin sepatu lokal mesti bertahan meski mulai sepi peminat.
Pengrajin sepatu kulit sekaligus pemiliknya kini, H. Muhammad Adha menyebut kini meski sepi peminat bertahan dengan membuka dua toko dan e-commerce serta pelanggan setia baik kalangan bekas pejabat daerah maupun pegawai aparatur sipil negara (ASN).

BACA JUGA:
Ganjar Belanja Sepatu Lokal Rp65 Ribu di Pasar Pontianak, Label Merek Sengaja Tak Dilepas

Omzetnya turun drastis, semenjak Corona (Covid-19) kemarin lah. Sebelum Corona masih lumayan,&quot; kata Adha saat ditemui langsung di toko kecil sederhana 'New Hunterian', Jalan Sersan Aning, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Selasa (16/7/2024).
Pengrajin yang telah mendirikan usaha sepatu kulit rumahan sejak 1987 itu menyebut gempuran impor produk sepatu dari China menjadi pilihan masyarakat Tanah Air khususnya Depok meski kualitasnya berbanding terbalik dengan produknya. Adha menambahkan situasi ekonomi masyarakat yang lemah pun berpengaruh terhadap daya beli.

BACA JUGA:
Uniknya Sepatu Lokal Bertema Film Harry Potter, Kasual dan Stylish!

&quot;Orang kita kan yang tidak punya duit, mending beli itu. Malah ada konsumen yang menanyakan, 'enggak ada yang Rp 100 ribuan pak'. Sepatu saya sekarang Rp 400 ribuan. Akhirnya dia cari yang Rp 100 ribuan. Ekonominya yang enggak kuat, ya gimana daya beli masyarakat jadi kurang,&quot; ucapnya.
Adha mengatakan dulu saat sebelum sepi peminat sempat memiliki 10 karyawan untuk mengerjakan ratusan pasang sepatu kulit per bulan. Kini hanya ada pekerja freelance dan mengerjakan sepatu kulit untuk sesuai pesanan dan menunggu stok berkurang&amp;nbsp;dulu.
&quot;Dulu sampai sempat 10 karyawan. Pesanan banyak buat toko juga. Harga  dari saya berapa terserah dia jual berapa yang penting cash. Produksi  dulu per bulan bisa sampai 500 sampai 600 pasang per bulan. Dulu  penjualannya cepat, sekarang mah teler,&quot; ucap Adha.
Lebih lanjut, Adha membeberkan kunci sukses bertahan meski gempuran  produk sepatu China yang lebih murah terus menghantam usahanya. Selama  37 tahun sebagai pengrajin dan penjual sepatu kulit lokal dan melewati  badai krisis moneter 1998 silam, Ia tak pernah meminjam modal ke bank.
&quot;Kuncinya tidak ngutang di bank saja. Soalnya kalau ngutang di bank  kita ngejar-ngejar pembayarannya. Sudah itu tidak ngontrak. Jalanin saja  putar-putar, mending ngutang di toko bahan,&quot; ungkapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
