<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Disarankan Tahan Suku Bunga Acuan, Ini Analisanya</title><description>Bank Indonesia (BI) dinilai masih perlu mempertahankan BI Rate di level 6,25% di periode ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/17/320/3035448/bi-disarankan-tahan-suku-bunga-acuan-ini-analisanya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/17/320/3035448/bi-disarankan-tahan-suku-bunga-acuan-ini-analisanya"/><item><title>BI Disarankan Tahan Suku Bunga Acuan, Ini Analisanya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/17/320/3035448/bi-disarankan-tahan-suku-bunga-acuan-ini-analisanya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/17/320/3035448/bi-disarankan-tahan-suku-bunga-acuan-ini-analisanya</guid><pubDate>Rabu 17 Juli 2024 11:00 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/17/320/3035448/bi-disarankan-tahan-suku-bunga-acuan-ini-analisanya-HLDJtujTo1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bank Indonesia disarankan tahan suku bunga (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/17/320/3035448/bi-disarankan-tahan-suku-bunga-acuan-ini-analisanya-HLDJtujTo1.jpg</image><title>Bank Indonesia disarankan tahan suku bunga (Foto: Okezone)</title></images><description>


JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dinilai masih perlu mempertahankan BI Rate di level 6,25% di periode ini. Saran ini diberikan atas dasar beberapa bahan pertimbangan.
Pertimbangan pertama, berada di tengah kisaran target BI, inflasi umum saat ini berada di level 2,51% (yoy) pada Juni 2024, melambat dari angka Mei 2024 sebesar 2,84% (yoy).

BACA JUGA:
Pengusaha Minta BI Tak Naikkan Suku Bunga, Ini Alasannya

&quot;Melambatnya inflasi umum disebabkan oleh turunnya harga pangan setelah musim panen dan rendahnya permintaan setelah perayaan Idul Fitri yang berakhir pada bulan April 2024,&quot; kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (17/7/2024).
Secara bulanan, inflasi umum mencatat deflasi kedua kalinya di tahun 2024, dengan deflasi yang lebih dalam sebesar 0,08% (mtm) di bulan Juni 2024 dibandingkan dengan 0,03% (mtm) di bulan Mei 2024.

BACA JUGA:
Aset Tommy Soeharto Tak Laku-Laku, Satgas BLBI Pakai Cara Ini

Pertimbangan selanjutnya, karena The Fed saat ini mengambil sikap yang lebih dovish, arus modal telah masuk ke pasar negara berkembang dan Rupiah telah terapresiasi secara signifikan selama beberapa minggu terakhir, saat ini berada di kisaran Rp16.110 per USD, menandai kenaikan 2,23% selama sebulan terakhir.
&quot;Sejak awal tahun Rupiah tercatat melemah sebesar 4,65% (ytd) dan memiliki performa yang lebih baik ketimbang mata uang negara sejenis, termasuk Peso Argentina, Lira Turki, Peso Filipina, dan Baht Thailand,&quot; ungkap Riefky.Indonesia juga memiliki catatan positif terkait cadangan devisa yang  meningkat sekitar USD1,2 miliar, dari USD138,97 miliar di Mei ke  USD130,18 miliar di Juni 2024. Meningkatnya cadangan devisa dipengaruhi  oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri  Pemerintah menyusul kebutuhan untuk melakukan stabilisasi nilai tukar  Rupiah di bulan lalu.
Seiring dengan kondisi the Fed saat ini yang cenderung menunjukkan  sinyal dovish pasca rilis data inflasi di 11 Juli lalu, arus modal mulai  beralih ke pasar berkembang sejak saat ini.
Total arus modal portofolio ke pasar keuangan Indonesia meningkat  hingga USD1,06 miliar dalam tiga minggu terakhir, dan mencatatkan  akumulai arus modal tertingginya sejak pertengahan April. Dari USD1,06  miliar tersebut, USD0,74 miliar masuk ke pasar saham dan USD0,32 miliar  sisanya masuk ke instrumen obligasi.
Namun, arus modal ke instrumen obligasi lebih didominasi ke surat  utang jangka panjang Pemerintah Indonesia, ditunjukkan dengan imbal  hasil tenor 10- Tahun Surat Utang Pemerintah yang turun dari 7,8% di 19  Juni lalu ke 7,02% di 12 Juli.
Indonesia memasuki paruh kedua 2024 dengan kondisi inflasi dan  eksternal yang relatif lebih baik. Namun, beberapa kejadian sebelumnya  menunjukkan bahwa kondisi finansial global sangat bergantung pada  persepsi investor terhadap arah kebijakan the Fed kedepannya dan  persepsi ini sangat berfluktuasi.
Dari aspek inflasi, Indonesia telah melewati tekanan besar pada  tingkat harga yang diakibatkan oleh beberapa faktor musiman dan  kemunculan El-Nino. Tetapi, beberapa lembaga iklim memproyeksi  kemungkinan terjadinya La Nina di Triwulan-III 2024 dan hal ini dapat  mengganggu produksi pertanian sehingga berpotensi memicu tekanan harga  pangan.
Oleh sebab itu, BI perlu tetap waspada dalam merumuskan bauran  kebijakannya untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan tingkat  harga domestik.
Untuk saat ini, inflasi cenderung bukanlah isu yang mendesak dan  perbedaan tingkat suku bunga masih cenderung atraktif untuk menarik  modal masuk dan menjaga stabilitas Rupiah.
&quot;Menilai kondisi ini, kami berpandangan BI perlu menahan suku bunga acuannya di 6,25% untuk bulan ini,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>


JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dinilai masih perlu mempertahankan BI Rate di level 6,25% di periode ini. Saran ini diberikan atas dasar beberapa bahan pertimbangan.
Pertimbangan pertama, berada di tengah kisaran target BI, inflasi umum saat ini berada di level 2,51% (yoy) pada Juni 2024, melambat dari angka Mei 2024 sebesar 2,84% (yoy).

BACA JUGA:
Pengusaha Minta BI Tak Naikkan Suku Bunga, Ini Alasannya

&quot;Melambatnya inflasi umum disebabkan oleh turunnya harga pangan setelah musim panen dan rendahnya permintaan setelah perayaan Idul Fitri yang berakhir pada bulan April 2024,&quot; kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (17/7/2024).
Secara bulanan, inflasi umum mencatat deflasi kedua kalinya di tahun 2024, dengan deflasi yang lebih dalam sebesar 0,08% (mtm) di bulan Juni 2024 dibandingkan dengan 0,03% (mtm) di bulan Mei 2024.

BACA JUGA:
Aset Tommy Soeharto Tak Laku-Laku, Satgas BLBI Pakai Cara Ini

Pertimbangan selanjutnya, karena The Fed saat ini mengambil sikap yang lebih dovish, arus modal telah masuk ke pasar negara berkembang dan Rupiah telah terapresiasi secara signifikan selama beberapa minggu terakhir, saat ini berada di kisaran Rp16.110 per USD, menandai kenaikan 2,23% selama sebulan terakhir.
&quot;Sejak awal tahun Rupiah tercatat melemah sebesar 4,65% (ytd) dan memiliki performa yang lebih baik ketimbang mata uang negara sejenis, termasuk Peso Argentina, Lira Turki, Peso Filipina, dan Baht Thailand,&quot; ungkap Riefky.Indonesia juga memiliki catatan positif terkait cadangan devisa yang  meningkat sekitar USD1,2 miliar, dari USD138,97 miliar di Mei ke  USD130,18 miliar di Juni 2024. Meningkatnya cadangan devisa dipengaruhi  oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri  Pemerintah menyusul kebutuhan untuk melakukan stabilisasi nilai tukar  Rupiah di bulan lalu.
Seiring dengan kondisi the Fed saat ini yang cenderung menunjukkan  sinyal dovish pasca rilis data inflasi di 11 Juli lalu, arus modal mulai  beralih ke pasar berkembang sejak saat ini.
Total arus modal portofolio ke pasar keuangan Indonesia meningkat  hingga USD1,06 miliar dalam tiga minggu terakhir, dan mencatatkan  akumulai arus modal tertingginya sejak pertengahan April. Dari USD1,06  miliar tersebut, USD0,74 miliar masuk ke pasar saham dan USD0,32 miliar  sisanya masuk ke instrumen obligasi.
Namun, arus modal ke instrumen obligasi lebih didominasi ke surat  utang jangka panjang Pemerintah Indonesia, ditunjukkan dengan imbal  hasil tenor 10- Tahun Surat Utang Pemerintah yang turun dari 7,8% di 19  Juni lalu ke 7,02% di 12 Juli.
Indonesia memasuki paruh kedua 2024 dengan kondisi inflasi dan  eksternal yang relatif lebih baik. Namun, beberapa kejadian sebelumnya  menunjukkan bahwa kondisi finansial global sangat bergantung pada  persepsi investor terhadap arah kebijakan the Fed kedepannya dan  persepsi ini sangat berfluktuasi.
Dari aspek inflasi, Indonesia telah melewati tekanan besar pada  tingkat harga yang diakibatkan oleh beberapa faktor musiman dan  kemunculan El-Nino. Tetapi, beberapa lembaga iklim memproyeksi  kemungkinan terjadinya La Nina di Triwulan-III 2024 dan hal ini dapat  mengganggu produksi pertanian sehingga berpotensi memicu tekanan harga  pangan.
Oleh sebab itu, BI perlu tetap waspada dalam merumuskan bauran  kebijakannya untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan tingkat  harga domestik.
Untuk saat ini, inflasi cenderung bukanlah isu yang mendesak dan  perbedaan tingkat suku bunga masih cenderung atraktif untuk menarik  modal masuk dan menjaga stabilitas Rupiah.
&quot;Menilai kondisi ini, kami berpandangan BI perlu menahan suku bunga acuannya di 6,25% untuk bulan ini,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
