<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>5 Penyebab Harga Tiket Pesawat Indonesia Termahal di Dunia</title><description>Penyebab harga tiket pesawat di Indonesia lebih mahal.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/18/320/3035965/5-penyebab-harga-tiket-pesawat-indonesia-termahal-di-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/18/320/3035965/5-penyebab-harga-tiket-pesawat-indonesia-termahal-di-dunia"/><item><title>5 Penyebab Harga Tiket Pesawat Indonesia Termahal di Dunia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/18/320/3035965/5-penyebab-harga-tiket-pesawat-indonesia-termahal-di-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/18/320/3035965/5-penyebab-harga-tiket-pesawat-indonesia-termahal-di-dunia</guid><pubDate>Kamis 18 Juli 2024 10:04 WIB</pubDate><dc:creator>Ghanny Rachmansyah S</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/18/320/3035965/5-penyebab-harga-tiket-pesawat-indonesia-termahal-di-dunia-LBvQn5BIed.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penyebab tiket pesawat mahal (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/18/320/3035965/5-penyebab-harga-tiket-pesawat-indonesia-termahal-di-dunia-LBvQn5BIed.jpg</image><title>Penyebab tiket pesawat mahal (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8zMC8xOS8xODIzMjIvNS94OTE2d2N1&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Penyebab harga tiket pesawat di Indonesia lebih mahal. Bahkan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan harga tiket pesawat di Indonesia menjadi yang termahal kedua di Dunia, setelah Brazil di peringkat pertama.
Sejumlah pengamat sepakat bahwa harga tiket pesawat domestik lebih mahal daripada harga tiket pesawat ke luar negeri atau internasional.

BACA JUGA:
Biang Kerok Mahalnya Harga Tiket Pesawat di Indonesia


Jika membedah model bisnis penerbangan, harga tiket pesawat terdiri dari dua komponen, kata pengamat penerbangan Ruth Hana Simatupang dan Alvin Lie.
Pertama, beban biaya yang ditanggung pihak maskapai mulai dari sewa pesawat, pemeliharaan atau perawatan, asuransi, merekrut kru, pelatihan pilot, serta ongkos-ongkos pembelian suku cadang hingga bahan bakar.

BACA JUGA:
Harga Tiket Pesawat Indonesia Termahal Kedua di Dunia, Begini Reaksi Kemenparekraf


Kedua, ada pungutan-pungutan yang disisipkan oleh pemerintah seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 11%, iuran wajib asuransi Jasa Raharja, retribusi bandara atau PJP2U, termasuk biaya &quot;titipan&quot; dalam harga avtur seperti throughput fee atau pungutan tiap distribusi avtur oleh pengelola bandara.
Belum lagi kalau di pangkalan udara militer seperti Halim Perdana Kusuma atau Juanda, dikenakan &quot;biaya ganda&quot; dari otoritas bandara dan Danlanud, kata Alvin Lie.
Tetapi, kata Ruth Hana, dari seluruh beban biaya yang ditanggung maskapai, pengeluaran terbesar adalah bahan bakar avtur sebesar 40% hingga 50%. Kemudian perawatan atau pemeliharaan, sewa pesawat, pelatihan pilot serta kru, dan lainnya.
Untuk pesawat terbang, klaimnya, hampir semua maskapai di Indonesia  menyewa ke perusahaan seperti Boeing atau Airbus dengan perantara pihak  ketiga atau broker yang berada di luar negeri.
Namun, kata dia, harga sewa pesawat untuk perusahaan maskapai di  Indonesia &quot;dibuat mahal&quot; dibanding dengan maskapai negara lain karena  penilaian mereka terhadap insiden kecelakaan penerbangan disebut cukup  tinggi.
&quot;Mereka enggak mau dong barangnya rusak, makanya harga leasing [sewa]  untuk Indonesia selalu lebih mahal,&quot; ungkap Ruth dilansir dari BBC,  Kamis (18/7/2024).
&quot;[Bedanya] cukup signifikan. Makanya maskapai kita enggak bisa bersaing dengan Air Asia yang tiketnya murah-murah.&quot;
Namun demikian Alvin Lie mengatakan seluruh beban biaya yang  ditanggung maskapai itu sebetulnya hanya 60% atau 70% dari keseluruhan  harga tiket yang dibayar penumpang.
Pungutan-pungutan yang disisipkan oleh pemerintah, menurutnya, tak kalah besar. Padahal semestinya bisa dipangkas.
&quot;Contoh harga tiket pesawat ke Yogya Rp800.000 itu nanti akan  dipotong Rp170.000 untuk bandara. Tinggal Rp630.000 dipotong PPN 11% dan  iuran wajib Jasa Raharja.&quot;
&quot;Jadi yang masuk ke maskapai cuma Rp540.000.&quot;
&quot;Ini yang harus dilihat, mana yang membuat mahal? Harga tiket atau biaya-biaya di luar tiket?&quot;
Belum lagi harga bahan bakar avtur yang disebut Alvin Lie berbeda.  Untuk penerbangan domestik harga avtur dikenakan pajak pertambahan nilai  (PPN) 11% dan 0,25% oleh BPH Migas. Sedangkan penerbangan internasional  tidak dikenakan sama sekali.
Segala pungutan tersebut, menurut dia, harusnya bisa ditinjau kembali  jika pemerintah ingin menurunkan harga tiket pesawat domestik.
&quot;Banyak yang bisa dibenahi jadi lebih efisien, maka saya harap Pak  Luhit benar-benar cermat dan konsisten jangan nanti beralih pikiran  menambah beban biaya,&quot; ujar Alvin Lie.
Ruth Hana sependapat. Biaya retribusi bandara yang selalu naik tiap  dua tahun, klaim dia, tidak berbanding lurus dengan pelayanan yang  diberikan.
Semisal fasilitas garbarata yang jarang digunakan penumpang ketika pesawat mendarat dan pelayanan bagasi yang disebutnya lambat.
Dia mencontohkan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta yang dinilai menyulitkan.
&quot;Penumpang itu agak malas ke Terminal 3 kalau enggak terpaksa. Karena  jalannya jauh banget. Kalau di Hong Kong bandaranya besar, tapi karena  semua difasilitasi jadi memudahkan orang untuk bermanuver di bandara,&quot;  ujar Ruth.
&quot;Di Malaysia dan Singapura, kereta layang bandara ada di dalam  bandara. Bukan di luar kayak Soekarno-Hatta, itu yang saya mikir enggak  masuk akal.&quot;</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8zMC8xOS8xODIzMjIvNS94OTE2d2N1&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Penyebab harga tiket pesawat di Indonesia lebih mahal. Bahkan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan harga tiket pesawat di Indonesia menjadi yang termahal kedua di Dunia, setelah Brazil di peringkat pertama.
Sejumlah pengamat sepakat bahwa harga tiket pesawat domestik lebih mahal daripada harga tiket pesawat ke luar negeri atau internasional.

BACA JUGA:
Biang Kerok Mahalnya Harga Tiket Pesawat di Indonesia


Jika membedah model bisnis penerbangan, harga tiket pesawat terdiri dari dua komponen, kata pengamat penerbangan Ruth Hana Simatupang dan Alvin Lie.
Pertama, beban biaya yang ditanggung pihak maskapai mulai dari sewa pesawat, pemeliharaan atau perawatan, asuransi, merekrut kru, pelatihan pilot, serta ongkos-ongkos pembelian suku cadang hingga bahan bakar.

BACA JUGA:
Harga Tiket Pesawat Indonesia Termahal Kedua di Dunia, Begini Reaksi Kemenparekraf


Kedua, ada pungutan-pungutan yang disisipkan oleh pemerintah seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 11%, iuran wajib asuransi Jasa Raharja, retribusi bandara atau PJP2U, termasuk biaya &quot;titipan&quot; dalam harga avtur seperti throughput fee atau pungutan tiap distribusi avtur oleh pengelola bandara.
Belum lagi kalau di pangkalan udara militer seperti Halim Perdana Kusuma atau Juanda, dikenakan &quot;biaya ganda&quot; dari otoritas bandara dan Danlanud, kata Alvin Lie.
Tetapi, kata Ruth Hana, dari seluruh beban biaya yang ditanggung maskapai, pengeluaran terbesar adalah bahan bakar avtur sebesar 40% hingga 50%. Kemudian perawatan atau pemeliharaan, sewa pesawat, pelatihan pilot serta kru, dan lainnya.
Untuk pesawat terbang, klaimnya, hampir semua maskapai di Indonesia  menyewa ke perusahaan seperti Boeing atau Airbus dengan perantara pihak  ketiga atau broker yang berada di luar negeri.
Namun, kata dia, harga sewa pesawat untuk perusahaan maskapai di  Indonesia &quot;dibuat mahal&quot; dibanding dengan maskapai negara lain karena  penilaian mereka terhadap insiden kecelakaan penerbangan disebut cukup  tinggi.
&quot;Mereka enggak mau dong barangnya rusak, makanya harga leasing [sewa]  untuk Indonesia selalu lebih mahal,&quot; ungkap Ruth dilansir dari BBC,  Kamis (18/7/2024).
&quot;[Bedanya] cukup signifikan. Makanya maskapai kita enggak bisa bersaing dengan Air Asia yang tiketnya murah-murah.&quot;
Namun demikian Alvin Lie mengatakan seluruh beban biaya yang  ditanggung maskapai itu sebetulnya hanya 60% atau 70% dari keseluruhan  harga tiket yang dibayar penumpang.
Pungutan-pungutan yang disisipkan oleh pemerintah, menurutnya, tak kalah besar. Padahal semestinya bisa dipangkas.
&quot;Contoh harga tiket pesawat ke Yogya Rp800.000 itu nanti akan  dipotong Rp170.000 untuk bandara. Tinggal Rp630.000 dipotong PPN 11% dan  iuran wajib Jasa Raharja.&quot;
&quot;Jadi yang masuk ke maskapai cuma Rp540.000.&quot;
&quot;Ini yang harus dilihat, mana yang membuat mahal? Harga tiket atau biaya-biaya di luar tiket?&quot;
Belum lagi harga bahan bakar avtur yang disebut Alvin Lie berbeda.  Untuk penerbangan domestik harga avtur dikenakan pajak pertambahan nilai  (PPN) 11% dan 0,25% oleh BPH Migas. Sedangkan penerbangan internasional  tidak dikenakan sama sekali.
Segala pungutan tersebut, menurut dia, harusnya bisa ditinjau kembali  jika pemerintah ingin menurunkan harga tiket pesawat domestik.
&quot;Banyak yang bisa dibenahi jadi lebih efisien, maka saya harap Pak  Luhit benar-benar cermat dan konsisten jangan nanti beralih pikiran  menambah beban biaya,&quot; ujar Alvin Lie.
Ruth Hana sependapat. Biaya retribusi bandara yang selalu naik tiap  dua tahun, klaim dia, tidak berbanding lurus dengan pelayanan yang  diberikan.
Semisal fasilitas garbarata yang jarang digunakan penumpang ketika pesawat mendarat dan pelayanan bagasi yang disebutnya lambat.
Dia mencontohkan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta yang dinilai menyulitkan.
&quot;Penumpang itu agak malas ke Terminal 3 kalau enggak terpaksa. Karena  jalannya jauh banget. Kalau di Hong Kong bandaranya besar, tapi karena  semua difasilitasi jadi memudahkan orang untuk bermanuver di bandara,&quot;  ujar Ruth.
&quot;Di Malaysia dan Singapura, kereta layang bandara ada di dalam  bandara. Bukan di luar kayak Soekarno-Hatta, itu yang saya mikir enggak  masuk akal.&quot;</content:encoded></item></channel></rss>
