<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bangun Bendungan Rp4,1 Triliun Kendalikan Banjir Makassar, Proyek Utang dari China</title><description>Pembangunan bendungan di Makassar akan menggunakan pendanaan utang dari China dan APBN.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/19/320/3036473/bangun-bendungan-rp4-1-triliun-kendalikan-banjir-makassar-proyek-utang-dari-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/19/320/3036473/bangun-bendungan-rp4-1-triliun-kendalikan-banjir-makassar-proyek-utang-dari-china"/><item><title>Bangun Bendungan Rp4,1 Triliun Kendalikan Banjir Makassar, Proyek Utang dari China</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/19/320/3036473/bangun-bendungan-rp4-1-triliun-kendalikan-banjir-makassar-proyek-utang-dari-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/19/320/3036473/bangun-bendungan-rp4-1-triliun-kendalikan-banjir-makassar-proyek-utang-dari-china</guid><pubDate>Jum'at 19 Juli 2024 10:17 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/19/320/3036473/bangun-bendungan-rp4-1-triliun-kendalikan-banjir-makassar-proyek-utang-dari-china-NWJV9epCYh.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pembangunan bendungan Makassar dengan pendanaan utang China (Foto: PUPR)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/19/320/3036473/bangun-bendungan-rp4-1-triliun-kendalikan-banjir-makassar-proyek-utang-dari-china-NWJV9epCYh.jpg</image><title>Pembangunan bendungan Makassar dengan pendanaan utang China (Foto: PUPR)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNy8xNy8yMC8xODI4ODIvNS94OTJiajBp&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Pembangunan bendungan di Makassar akan menggunakan pendanaan utang dari China dan APBN. Bendungan Jeneleta ini dibangun di Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan.
Pembangunan bendungan ini bertujuan untuk mengoptimalkan pengendalian banjir di Kota Makassar. Pengerjaan konstruksinya dilakukan oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) Bersama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dengan KSO CAMC Engineering Co., Ltd dari China dengan nilai kontrak pembangunan sebesar Rp4,1 triliun.

BACA JUGA:
Pekerja Mega Proyek Bendungan Karian Tewas Terhisap Pipa


Konstruksi pembangunan bendungan dilaksanakan sejak Oktober 2023 dan direncanakan rampung pada 2028 mendatang dengan progres pekerjaan saat ini galian tubuh bendungan (main dam) dan area pelimpah (spillway).
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, pembangunan bendungan dan embung sebagai tampungan air di berbagai wilayah Indonesia merupakan salah satu upaya nyata untuk mengatasi ancaman perubahan iklim (climate change), terutama menghadapi cuaca ekstrim.

BACA JUGA:
Bendungan Cipanas Jadi Pengendali Banjir hingga Pembangkit Listrik


&quot;Untuk menghadapi ancaman perubahan iklim (climate change) Pemerintah Indonesia harus memperbanyak tampungan air (reservoar), baik itu embung dan bendungan. Kita utamakan bendungan agar di saat kemarau masih ada cadangan air yang cukup besar. Dan di musim hujan, mampu menjadi tampungan yang efektif menahan debit banjir,&quot; kata Menteri Basuki dalam keterangan resminya, Jumat (19/7/2024).
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ) Suryadarma Hasyim mengatakan, bendungan terbesar di Sulsel yakni Bendungan Bili-Bili sudah tidak memadai untuk menampung air sebagai pengendalian banjir ketika curah hujan besar, seperti yang terjadi pada 2019 lalu, di mana dampak banjir sangat terasa di Kota Makassar.
Oleh karena itu dikatakan Suryadarma, Bendungan Jenelata juga akan  dimanfaatkan untuk menahan luapan air Sungai Jenelata yang berhilir ke  Sungai Jeneberang, sehingga dapat membantu Bendungan Bili-Bili yang juga  membendung hulu Sungai Jeneberang.
&quot;Kita berharap dengan fungsi dari Bendungan Jenelata akan lebih  optimal untuk mereduksi banjir di Kota Makassar serta membantu saat  kekeringan,&quot; tutur Suryadarma.
Selain sebagai pengendali banjir, Bendungan Jenelata juga berfungsi  sebagai sumber air irigasi bagi lahan pertanian seluas 26.773 ha yakni  di Daerah Irigasi (D.I) Bili-bili 2.400 Ha, D.I. Bissua 13.916 Ha, dan  D.I. Kampili 10.457 ha. Bendungan Jelenata juga berfungsi sebagai sumber  penyediaan air baku berkapasitas 6,05 m3/dt untuk Bili-Bili, Jenelata,  kebutuhan air pabrik gula dan lahan tebu di Takalar, dan Intake  Sungguminasa.
Bendungan Jenelata dengan tampungan berkapasitas 223,6 juta m3 juga  mempunyai potensi pembangkit listrik tenaga hidro sebesar 7 MW, serta  pariwisata air dan kuliner.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNy8xNy8yMC8xODI4ODIvNS94OTJiajBp&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Pembangunan bendungan di Makassar akan menggunakan pendanaan utang dari China dan APBN. Bendungan Jeneleta ini dibangun di Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan.
Pembangunan bendungan ini bertujuan untuk mengoptimalkan pengendalian banjir di Kota Makassar. Pengerjaan konstruksinya dilakukan oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) Bersama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dengan KSO CAMC Engineering Co., Ltd dari China dengan nilai kontrak pembangunan sebesar Rp4,1 triliun.

BACA JUGA:
Pekerja Mega Proyek Bendungan Karian Tewas Terhisap Pipa


Konstruksi pembangunan bendungan dilaksanakan sejak Oktober 2023 dan direncanakan rampung pada 2028 mendatang dengan progres pekerjaan saat ini galian tubuh bendungan (main dam) dan area pelimpah (spillway).
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, pembangunan bendungan dan embung sebagai tampungan air di berbagai wilayah Indonesia merupakan salah satu upaya nyata untuk mengatasi ancaman perubahan iklim (climate change), terutama menghadapi cuaca ekstrim.

BACA JUGA:
Bendungan Cipanas Jadi Pengendali Banjir hingga Pembangkit Listrik


&quot;Untuk menghadapi ancaman perubahan iklim (climate change) Pemerintah Indonesia harus memperbanyak tampungan air (reservoar), baik itu embung dan bendungan. Kita utamakan bendungan agar di saat kemarau masih ada cadangan air yang cukup besar. Dan di musim hujan, mampu menjadi tampungan yang efektif menahan debit banjir,&quot; kata Menteri Basuki dalam keterangan resminya, Jumat (19/7/2024).
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ) Suryadarma Hasyim mengatakan, bendungan terbesar di Sulsel yakni Bendungan Bili-Bili sudah tidak memadai untuk menampung air sebagai pengendalian banjir ketika curah hujan besar, seperti yang terjadi pada 2019 lalu, di mana dampak banjir sangat terasa di Kota Makassar.
Oleh karena itu dikatakan Suryadarma, Bendungan Jenelata juga akan  dimanfaatkan untuk menahan luapan air Sungai Jenelata yang berhilir ke  Sungai Jeneberang, sehingga dapat membantu Bendungan Bili-Bili yang juga  membendung hulu Sungai Jeneberang.
&quot;Kita berharap dengan fungsi dari Bendungan Jenelata akan lebih  optimal untuk mereduksi banjir di Kota Makassar serta membantu saat  kekeringan,&quot; tutur Suryadarma.
Selain sebagai pengendali banjir, Bendungan Jenelata juga berfungsi  sebagai sumber air irigasi bagi lahan pertanian seluas 26.773 ha yakni  di Daerah Irigasi (D.I) Bili-bili 2.400 Ha, D.I. Bissua 13.916 Ha, dan  D.I. Kampili 10.457 ha. Bendungan Jelenata juga berfungsi sebagai sumber  penyediaan air baku berkapasitas 6,05 m3/dt untuk Bili-Bili, Jenelata,  kebutuhan air pabrik gula dan lahan tebu di Takalar, dan Intake  Sungguminasa.
Bendungan Jenelata dengan tampungan berkapasitas 223,6 juta m3 juga  mempunyai potensi pembangkit listrik tenaga hidro sebesar 7 MW, serta  pariwisata air dan kuliner.</content:encoded></item></channel></rss>
