<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>RI Pemain Besar Sektor Migas, Sumbang Banyak Emisi Karbon</title><description>Indonesia menyumbang banyak emisi karbon sebab menjadi pemain besar sektor minyak dan gas (migas).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/25/320/3039430/ri-pemain-besar-sektor-migas-sumbang-banyak-emisi-karbon</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/25/320/3039430/ri-pemain-besar-sektor-migas-sumbang-banyak-emisi-karbon"/><item><title>RI Pemain Besar Sektor Migas, Sumbang Banyak Emisi Karbon</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/25/320/3039430/ri-pemain-besar-sektor-migas-sumbang-banyak-emisi-karbon</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/25/320/3039430/ri-pemain-besar-sektor-migas-sumbang-banyak-emisi-karbon</guid><pubDate>Kamis 25 Juli 2024 15:46 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/25/320/3039430/ri-pemain-besar-sektor-migas-sumbang-banyak-emisi-karbon-dBI3rVerbM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">RI sumbang banyak emisi karbon (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/25/320/3039430/ri-pemain-besar-sektor-migas-sumbang-banyak-emisi-karbon-dBI3rVerbM.jpg</image><title>RI sumbang banyak emisi karbon (Foto: Reuters)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8wMi8xLzE3NDU1MS81L3g4cTVqYmU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Indonesia menyumbang banyak emisi karbon sebab menjadi pemain besar sektor minyak dan gas (migas). Tercatat sektor minyak dan gas Indonesia telah menyumbang 33,4% dari total pasokan energi.
Namun demikian, industri ini juga menjadi kontributor signifikan terhadap emisi CO2. Dengan produksi 658.540 barel minyak per hari (BOPD), emisi yang dihasilkan sebesar 13,2%, totalnya hampir 330,5 juta metrik ton.

BACA JUGA:
Kurangi Emisi Karbon, Pemerintah Dorong Mobilitas Warga Gunakan Sepeda


Angka-angka yang mencengangkan ini menyoroti kebutuhan negara untuk lebih banyak inisiatif Net Zero Emissions (NZE). Ini penting dilakukan untuk mengurangi emisi karbon dari kegiatan hulu, tengah, dan hilir.
Menurut Pilar Dieter, Managing Partner dan CEO Management Services YCP mengingat NZE tak mudah untuk dicapai, maka dibutuhkan kolaborasi yang apik dari seluruh pihak agar ambisi mulia ini bisa benar-benar diwujudkan.

BACA JUGA:
Turunkan Emisi Karbon, Kemenkeu: Tak Bisa Hanya Andalkan Pemerintah


Pilar menjelaskan bahwa pemerintah di seluruh dunia telah menetapkan NZE yang ambisius. Komitmen dari Pemerintah itu kemudian mendorong sektor swasta dan komunitas bisnis untuk turut membuat komitmen kuat dalam mencapai tujuan tersebut.
&quot;Untuk mencapai target NZE yang kritis, diperlukan perpaduan antara komitmen, kemitraan kolaboratif, dan inovasi teknologi,&amp;rdquo; kata Pilar dalam acara Leaders&amp;rsquo; Breakfast dengan tema &quot;Oil and Gas in Indonesia: How Far Along is the Industry on the Net Zero Path?&quot; yang digelar pada Kamis (25/7/2024).
Menurutnya, tidak sedikit yang menghadapi hambatan dalam mewujudkan  NZE, mulai dari resistensi politik dan sosial hingga degradasi ekonomi  yang mempengaruhi kinerja keuangan.
Hal senada juga diungkap Partner YCP &amp;amp; Country Manager Indonesia  Septian Waluyan. Dalam keterangannya, Septian menyebut banyak pemain  minyak dan gas menghadapi tantangan yang signifikan, seperti biaya  investasi yang tinggi dan kurangnya pendidikan mengenai perubahan  penting ini.
&quot;Kami mendorong semua pemangku kepentingan untuk menjadi bagian dari  gerakan perintis ini di Indonesia dan membantu membentuk masa depan  energi,&quot; jelasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8wMi8xLzE3NDU1MS81L3g4cTVqYmU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Indonesia menyumbang banyak emisi karbon sebab menjadi pemain besar sektor minyak dan gas (migas). Tercatat sektor minyak dan gas Indonesia telah menyumbang 33,4% dari total pasokan energi.
Namun demikian, industri ini juga menjadi kontributor signifikan terhadap emisi CO2. Dengan produksi 658.540 barel minyak per hari (BOPD), emisi yang dihasilkan sebesar 13,2%, totalnya hampir 330,5 juta metrik ton.

BACA JUGA:
Kurangi Emisi Karbon, Pemerintah Dorong Mobilitas Warga Gunakan Sepeda


Angka-angka yang mencengangkan ini menyoroti kebutuhan negara untuk lebih banyak inisiatif Net Zero Emissions (NZE). Ini penting dilakukan untuk mengurangi emisi karbon dari kegiatan hulu, tengah, dan hilir.
Menurut Pilar Dieter, Managing Partner dan CEO Management Services YCP mengingat NZE tak mudah untuk dicapai, maka dibutuhkan kolaborasi yang apik dari seluruh pihak agar ambisi mulia ini bisa benar-benar diwujudkan.

BACA JUGA:
Turunkan Emisi Karbon, Kemenkeu: Tak Bisa Hanya Andalkan Pemerintah


Pilar menjelaskan bahwa pemerintah di seluruh dunia telah menetapkan NZE yang ambisius. Komitmen dari Pemerintah itu kemudian mendorong sektor swasta dan komunitas bisnis untuk turut membuat komitmen kuat dalam mencapai tujuan tersebut.
&quot;Untuk mencapai target NZE yang kritis, diperlukan perpaduan antara komitmen, kemitraan kolaboratif, dan inovasi teknologi,&amp;rdquo; kata Pilar dalam acara Leaders&amp;rsquo; Breakfast dengan tema &quot;Oil and Gas in Indonesia: How Far Along is the Industry on the Net Zero Path?&quot; yang digelar pada Kamis (25/7/2024).
Menurutnya, tidak sedikit yang menghadapi hambatan dalam mewujudkan  NZE, mulai dari resistensi politik dan sosial hingga degradasi ekonomi  yang mempengaruhi kinerja keuangan.
Hal senada juga diungkap Partner YCP &amp;amp; Country Manager Indonesia  Septian Waluyan. Dalam keterangannya, Septian menyebut banyak pemain  minyak dan gas menghadapi tantangan yang signifikan, seperti biaya  investasi yang tinggi dan kurangnya pendidikan mengenai perubahan  penting ini.
&quot;Kami mendorong semua pemangku kepentingan untuk menjadi bagian dari  gerakan perintis ini di Indonesia dan membantu membentuk masa depan  energi,&quot; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
